Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Festival Tenun Iban Sadap 2025: Mengukuhkan Warisan Budaya & Alam Kalimantan

2025-12-14 | 16:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-14T09:26:34Z
Ruang Iklan

Festival Tenun Iban Sadap 2025: Mengukuhkan Warisan Budaya & Alam Kalimantan

Festival Tenun Iban Sadap 2025 akan segera digelar di Rumah Panjang Iban Sadap, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pada 17 hingga 20 Desember 2025, mengusung semangat pelestarian warisan budaya tenun dan pentingnya hutan adat. Acara ini menjadi wadah bagi para perempuan penenun untuk berbagi ilmu dan memperkuat tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dusun Sadap sendiri dikenal sebagai "kampung tenun" karena aktivitas menenun yang menonjol dari para wanitanya.

Bagi masyarakat Dayak Iban, menenun bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan bagian integral dari identitas dan tradisi hidup mereka, yang wajib dikuasai oleh setiap perempuan untuk berbagai upacara adat dari kelahiran hingga kematian. Keahlian dalam menenun, termasuk motif dan pewarnaan alami, diwariskan dari generasi ke generasi, dengan setiap lembar kain memiliki makna dan nilai penting, bahkan motifnya sering kali didapatkan melalui mimpi, seperti kisah Endo Segadok. Proses pewarnaan tenun ini masih mengandalkan bahan-bahan alami yang bersumber dari hutan lestari. Tokoh seperti Margaretha Mala, seorang perempuan Dayak Iban dari Kalimantan Barat, dikenal gigih melestarikan tenun Iban dan tanaman pewarna alami di Dusun Sadap.

Keterkaitan tenun dengan hutan adat sangatlah erat. Hutan adat di Kalimantan, yang merupakan yang terluas di Indonesia dengan lebih dari 244.000 hektare, adalah sumber utama bahan pewarna alami dan kapas untuk benang. Hutan-hutan ini dikelola oleh masyarakat adat Dayak dan memiliki peran krusial bagi keberlanjutan ekosistem serta keanekaragaman hayati, menjadi rumah bagi spesies langka seperti orangutan. Bagi masyarakat Dayak, hutan adalah "darah dan jiwa," sumber kehidupan, obat-obatan, dan nilai spiritual yang tak terpisahkan. Perambahan hutan dan konversi lahan untuk perkebunan sawit serta pertambangan di masa lalu sempat mengancam tradisi tenun karena hilangnya sumber daya alam ini. Oleh karena itu, pelestarian tenun secara langsung mendukung upaya menjaga kelestarian hutan adat melalui kearifan lokal.

Festival ini tidak hanya akan menampilkan keindahan tenun, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran. Pengunjung dapat mengikuti paket tur budaya yang ditawarkan oleh kelompok tenun Endo Segadok, di mana mereka dapat mengamati dan belajar langsung proses pembuatan tenun Iban selama sekitar 2-3 jam. Keterlibatan generasi muda dalam kelompok seperti Sadap Lestari dan Rumah Belajar Endo Segadok sangat penting untuk menjamin keberlanjutan tradisi ini. Tenun Iban Sadap bahkan telah menembus pasar nasional dan global, seringkali melalui sistem pra-pemesanan dengan pesanan mencapai puluhan lembar dalam sekali order, yang menunjukkan potensi ekonomi kerajinan ini. Keindahan tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu juga telah bersinar di panggung bergengsi seperti Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, berkat program pemberdayaan seperti "Aram Bekelala Tenun Iban" oleh Yayasan Kawan Lama, yang berfokus pada pelatihan, regenerasi penenun muda, dan pengembangan motif serta pewarna alami berbasis sumber daya lokal. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan perhatian publik terhadap wisata budaya, tetapi juga kesejahteraan masyarakat pengrajin, dengan beberapa di antaranya bahkan mengalami peningkatan penghasilan hingga 300%. Melalui festival ini, diharapkan semangat pelestarian budaya dan lingkungan dapat terus berkobar, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat adat dan generasi mendatang.