:strip_icc()/kly-media-production/medias/5203267/original/055322100_1745923095-full-shot-mother-sitting-floor_23-2150147749.jpg)
Sebanyak 36 persen ibu di Indonesia membutuhkan dukungan kesehatan mental. Data ini terungkap berdasarkan laporan Indonesia Health Insight 2025 yang disusun oleh Halodoc bekerja sama dengan penyedia riset global YouGov. Angka tersebut menyoroti isu krusial yang sering terabaikan, mengingat peran ibu sebagai pondasi penting kesehatan keluarga. Bahkan, survei lain menunjukkan bahwa sekitar 88 persen wanita mengalami masalah kesehatan mental setelah menjadi ibu.
Beban yang dihadapi para ibu setiap hari dalam mengurus rumah tangga menciptakan lingkaran tekanan yang berlapis. Kelelahan emosional atau burnout menjadi sumber tekanan terbesar yang dialami oleh 46 persen ibu. Minimnya dukungan yang memadai, baik secara emosional maupun praktis, berkontribusi pada 32 persen masalah kesehatan mental ibu. Ekspektasi multi-peran antara pengasuhan anak, pekerjaan, dan tanggung jawab lainnya juga menjadi pemicu gangguan mental bagi 30 persen ibu. Selain itu, 22 persen ibu merasa kurang dihargai atau tidak mendapat apresiasi atas peran yang mereka jalankan, sementara 20 persen lainnya menghadapi tekanan dari keluarga dan 14 persen dari pihak eksternal seperti media sosial dan masyarakat. Rasa bersalah, perasaan tidak sempurna, dan menyalahkan diri sendiri kerap membayangi para ibu.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Imran Pambudi, menyoroti bahwa ibu hamil dan nifas jauh lebih rentan mengalami depresi dibandingkan kelompok usia lainnya. Secara nasional, potensi depresi pada ibu hamil tercatat 8,5 persen, delapan kali lipat lebih tinggi dari rata-rata kasus depresi pada kelompok dewasa dan lansia yang hanya 0,8 persen. Kondisi kesehatan mental ibu yang terganggu dapat memengaruhi kualitas perawatan dan pengasuhan anak, berdampak pada perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak dalam jangka panjang, serta hubungan ibu-anak. Dalam kasus ekstrem, tekanan mental yang tidak tertangani dapat berujung pada tindakan tragis seperti bunuh diri. Sebuah kasus memilukan di Bandung baru-baru ini memperlihatkan seorang ibu ditemukan meninggal gantung diri setelah diduga membunuh kedua anaknya, meninggalkan surat wasiat yang mengungkapkan "cape lahir batin" dan terhimpit utang serta ketiadaan dukungan suami. Depresi yang tidak ditangani juga dapat menurunkan produktivitas, memengaruhi hubungan sosial, dan menimbulkan gangguan kesehatan fisik.
Melihat urgensi ini, berbagai pihak telah mengupayakan dukungan. Halodoc menyediakan layanan konsultasi kesehatan mental. Komunitas Wanita Indonesia Keren (WIK) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menginisiasi model promosi kesehatan jiwa di layanan kesehatan primer, seperti posyandu dan pendamping keluarga. Organisasi nirlaba seperti MotherHope Indonesia memberikan dukungan sosial kepada ibu dan keluarga yang mengalami baby blues syndrome, depresi, dan psikosis pasca melahirkan. Mereka menyediakan pelatihan, pendampingan, serta bekerja sama dengan rumah sakit, dokter, bidan, psikolog, dan psikiater. Ad Familia Indonesia juga menawarkan kelompok dukungan psikologis gratis, termasuk untuk ibu tunggal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui aplikasi JAKI menghadirkan fitur JAKCare, layanan konsultasi psikologis 24 jam yang dapat diakses gratis oleh seluruh masyarakat Jakarta. Hampir seluruh Puskesmas di Jakarta juga telah menyediakan psikolog klinis untuk deteksi dini dan pencegahan. Psikolog klinis Nirmala Ika K dari Universitas Indonesia menekankan pentingnya dukungan keluarga sebagai pihak pertama yang seharusnya hadir bagi ibu, tidak harus berupa materi, tetapi juga dengan mendengarkan tanpa menghakimi. Psikiater dr. Tribowo T. Ginting, SpKJ(K) dari RSUP Persahabatan menegaskan bahwa lingkungan keluarga yang baik dan harmonis sangat penting untuk menjaga kesehatan mental ibu, karena ibu adalah tiang keluarga yang membutuhkan dukungan agar tidak rapuh. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas PPAPP DKI Jakarta, Evi Lisa, juga menegaskan pentingnya peran keluarga dalam menjaga kesehatan mental ibu demi ketahanan keluarga. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan program kesehatan mental terintegrasi dan berkelanjutan.