:strip_icc()/kly-media-production/medias/5414212/original/068937800_1763268405-19754.jpg)
Kesehatan yang dioptimalkan, vitalitas jangka panjang, dan keberlanjutan lingkungan menjadi pendorong utama tren pangan global, yang mengarahkan konsumen dan industri menuju empat kategori makanan sehat yang diprediksi akan mendominasi tahun 2026: kreatin, makanan kaya serat, jamur adaptogenik, dan bahan berbasis alga. Pergeseran ini mencerminkan peningkatan kesadaran akan nutrisi fungsional dan peran makanan dalam pencegahan penyakit kronis serta peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan, didukung oleh riset ilmiah dan inovasi produk. Pasar makanan fungsional global, yang diperkirakan mencapai USD 443,92 miliar pada tahun 2026, diproyeksikan terus tumbuh secara signifikan, mencapai USD 979,61 miliar pada tahun 2034, dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 10,4% dari tahun 2025 hingga 2034.
Kreatin, yang secara historis dikenal sebagai suplemen peningkat performa atletik, kini diprediksi akan memasuki arus utama konsumen seiring dengan berkembangnya penelitian yang menunjukkan manfaatnya di luar peningkatan kekuatan otot. Studi baru mengeksplorasi peran kreatin dalam kesehatan kognitif, suasana hati, penuaan sehat, dan bahkan kesehatan wanita, khususnya pada periode pascamenopause ketika kadar estrogen menurun. Yasi Ansari, MS, RDN, CSSD, seorang ahli diet senior di UCLA Santa Monica Medical Center, mencatat bahwa kreatin membantu mengatasi kehilangan otot terkait usia, yang dikenal sebagai sarkopenia, ketika dikombinasikan dengan protein, hidrasi, dan latihan beban yang cukup. Selain itu, suplementasi kreatin dapat mendukung fungsi otot dan kognitif pada vegetarian dan vegan, yang cenderung memiliki simpanan kreatin lebih rendah karena tidak mengonsumsi produk hewani. Tingkat penerimaan kreatin yang meluas ini sebagian besar didorong oleh visibilitas di media sosial dan validasi ilmiah yang semakin luas.
Seiring dengan kesadaran akan kesehatan usus yang mendalam, serat akan menjadi sorotan utama dalam nutrisi tahun 2026, bahkan melampaui fokus pada protein. Para ahli memprediksi tren "fibermaxxing" akan menjadi mainstream, menekankan asupan serat yang disengaja melalui buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian, serta terkadang suplemen. Priya Tew, seorang ahli diet spesialis dari Dietitian UK, menjelaskan bahwa serat bertindak sebagai prebiotik, memberi makan bakteri baik di usus, yang membantu menurunkan kolesterol LDL "jahat", menstabilkan gula darah, dan menjaga keteraturan buang air besar. Analisis tahun 2019 di The Lancet mengkonfirmasi bahwa asupan serat yang lebih tinggi secara dramatis mengurangi risiko penyakit serius seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker tertentu. Kacang-kacangan dan polong-polongan secara khusus diidentifikasi sebagai tren penting karena keserbagunaannya sebagai sumber protein nabati yang berkelanjutan, tinggi serat, dan ramah anggaran. Lucy Jones, Kepala Petugas Klinis Oviva, menyatakan bahwa setiap 50 gram konsumsi kacang-kacangan/polong-polongan setiap hari dikaitkan dengan risiko kematian semua penyebab 6% lebih rendah.
Jamur adaptogenik, seperti reishi dan cordyceps, juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pesat di tahun 2026, dengan nilai pasar global adaptogen yang diproyeksikan mencapai USD 12,79 miliar pada tahun 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan prevalensi penyakit kronis dan permintaan akan solusi kesehatan alami dan holistik. Konsumen semakin mencari jamur adaptogenik untuk manfaat seperti dukungan kekebalan tubuh, pengurangan stres dan kecemasan, peningkatan fungsi kognitif, dan vitalitas secara keseluruhan. North America tetap menjadi pasar terbesar untuk jamur adaptogenik, sementara wilayah Asia-Pasifik muncul sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat, mencerminkan minat yang meningkat pada praktik kesehatan holistik. Inovasi produk semakin mengintegrasikan jamur adaptogenik ke dalam makanan dan minuman fungsional, seperti teh, kopi, smoothie, dan makanan ringan.
Terakhir, bahan-bahan berbasis alga, termasuk rumput laut dan mikroalga seperti spirulina dan chlorella, diposisikan sebagai makanan masa depan yang berkelanjutan dan kaya nutrisi. Pasar alga global diproyeksikan tumbuh dari USD 5,3 miliar pada tahun 2023 menjadi USD 7,3 miliar pada tahun 2028. Alga menawarkan kandungan protein tinggi, omega-3, vitamin, dan mineral penting, menjadikannya alternatif protein yang menjanjikan. Dari perspektif keberlanjutan, mikroalga dapat tumbuh di lahan non-pertanian, memanfaatkan aliran samping yang kaya nutrisi untuk pakan, dan menggunakan CO2 dalam fotosintesis, sehingga mengurangi jejak lingkungan. Aplikasi inovatif mencakup makanan ringan berbasis alga, minuman, pengganti daging, dan produk susu nabati. Konsumen menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencoba bahan-bahan berbasis alga, dengan lebih dari setengahnya tertarik untuk mengintegrasikannya ke dalam diet mereka.
Secara keseluruhan, tren nutrisi untuk tahun 2026 menunjukkan pergeseran kolektif menuju pilihan makanan yang memberikan manfaat kesehatan yang terbukti secara ilmiah, mendukung tujuan keberlanjutan, dan menawarkan solusi yang efisien untuk kesejahteraan holistik. Inovasi dalam formulasi produk dan peningkatan kesadaran konsumen akan terus membentuk lanskap makanan sehat di tahun-tahun mendatang.