
Peringatan serius dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai lonjakan kasus influenza yang beredar, menyoroti bahwa terminologi “Super Flu” yang ramai dibicarakan merujuk pada varian influenza musiman yang berpotensi menyebabkan keparahan lebih tinggi, bukan virus baru yang berbeda secara fundamental. Varian yang dominan saat ini adalah Influenza A (H3N2) subclade K, yang telah memicu peningkatan signifikan dalam kunjungan medis dan rawat inap di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Para ahli menegaskan bahwa istilah “Super Flu” bukanlah sebutan medis resmi, melainkan frasa kolokial atau sensasional untuk menggambarkan strain influenza yang menyebar lebih cepat atau menimbulkan gejala yang lebih parah dibandingkan flu biasa. Menurut Dr. Amesh A. Adalja, pakar penyakit menular dari Johns Hopkins Center for Health Security, varian ini tetap merupakan influenza, namun dengan kemampuan penyebaran yang lebih cepat. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS menunjukkan peningkatan drastis, dengan New York State melaporkan 71.123 kasus flu positif dalam satu pekan pada akhir Desember 2025, sebuah lonjakan 38% dari pekan sebelumnya dan angka tertinggi yang pernah tercatat. Total kasus flu di AS telah mencapai setidaknya 4,6 juta dengan sekitar 49.000 pasien memerlukan rawat inap.
Di Indonesia, tren peningkatan kasus influenza juga tercatat signifikan. Kementerian Kesehatan melaporkan kenaikan kasus sebesar 38% dibandingkan periode sebelumnya pada Oktober 2025, dengan sekitar 35.000 kasus Influenza-Like Illness (ILI) dan 400.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada pekan pertama Oktober 2025. Profesor Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada menyatakan peningkatan pasien positif influenza mencapai 55% pada minggu ke-40 tahun 2025. Subtipe yang dominan di Indonesia juga adalah Influenza A, termasuk H3N2.
IDAI secara konsisten mengingatkan bahwa influenza bukanlah penyakit ringan seperti selesma (common cold), melainkan infeksi saluran napas akut yang mudah menular, berbahaya, dan berpotensi mematikan. Gejala influenza cenderung lebih berat dibandingkan selesma, ditandai dengan demam tinggi yang mendadak, batuk kering, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta kelelahan ekstrem. Kelompok paling rentan terhadap komplikasi serius, termasuk pneumonia, radang otak, atau gangguan jantung, adalah bayi dan balita, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, diabetes, asma, kanker, HIV, dan autoimun. Secara global, influenza menyebabkan 3-5 juta kasus berat dan 290.000-650.000 kematian setiap tahun.
Meskipun penyebarannya lebih cepat, para ahli menekankan bahwa influenza saat ini tidak otomatis lebih mematikan, tetapi musim flu berpotensi menjadi sedang hingga berat karena banyak orang belum memiliki kekebalan optimal terhadap strain yang beredar. Mutasi virus influenza merupakan fenomena alami yang terus terjadi setiap tahun, membutuhkan pembaharuan komposisi vaksin secara berkala.
Vaksinasi influenza tahunan direkomendasikan secara luas oleh IDAI dan Kementerian Kesehatan sebagai langkah pencegahan utama, terutama bagi kelompok berisiko tinggi. Vaksinasi terbukti mengurangi risiko kunjungan ke dokter akibat flu sebesar 40-60% jika sesuai dengan strain yang beredar, dan bahkan dapat mengurangi keparahan penyakit, risiko dirawat di ICU sebesar 26%, serta risiko kematian sebesar 31% bagi mereka yang tetap terinfeksi. Anak-anak dapat mulai menerima vaksin influenza sejak usia enam bulan, dengan dua dosis awal untuk membangun imunitas yang efektif. Di Indonesia, meskipun vaksinasi influenza belum termasuk dalam program imunisasi nasional, otoritas kesehatan merekomendasikannya sebagai perlindungan tambahan.
Secara historis, influenza telah menimbulkan ancaman global sejak abad ke-19, dengan pandemi tahun 2009 (H1N1) yang menyebabkan 491.382 kasus dan 284.000 kematian di seluruh dunia. Di negara tropis seperti Indonesia, kasus influenza terjadi sepanjang tahun dengan puncak aktivitas virus biasanya meningkat pada musim hujan. Penurunan kualitas udara di sejumlah kota dan mobilitas masyarakat yang kembali tinggi pascapandemi COVID-19 juga berkontribusi pada peningkatan risiko penularan. Mengingat dinamika mutasi virus dan potensi dampaknya pada kelompok rentan, penguatan surveilans epidemiologi, peningkatan cakupan vaksinasi, dan edukasi publik tentang perilaku hidup bersih dan sehat menjadi krusial untuk memitigasi risiko kesehatan di masa depan.