
Jakarta—Fenomena olahraga raket terus berkembang pesat secara global, memicu perdebatan mengenai daya tarik komparatif antara padel dan tenis. Padel, yang dijuluki sebagai olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia, secara signifikan menarik jutaan pemain baru, menantang dominasi tenis tradisional dalam hal kegembiraan dan intensitas fisik yang memicu keringat. Data terbaru menunjukkan pergeseran preferensi signifikan di kalangan penggemar olahraga.
Padel, lahir pada tahun 1969 di Acapulco, Meksiko, oleh Enrique Corcuera karena keterbatasan lahan untuk lapangan tenis, kini telah menyebar ke lebih dari 120 negara dengan lebih dari 30 juta pemain aktif. Perkembangan ini ditandai dengan pembangunan lebih dari 7.000 lapangan baru secara global sepanjang tahun lalu, atau rata-rata satu lapangan dibuka setiap 2,5 jam. Di sisi lain, tenis berakar lebih dalam, berasal dari "jeu de paume" di Prancis abad ke-12 dan berkembang menjadi "lawn tennis" modern di Inggris pada abad ke-19, dengan turnamen Wimbledon pertama diadakan pada tahun 1877.
Secara intensitas fisik, tenis umumnya membakar lebih banyak kalori per jam. Sebuah pertandingan tenis tunggal kompetitif dapat membakar antara 500 hingga 700 kalori per jam untuk pemain dengan berat 70 kg, bahkan mencapai 600–900 kalori per jam dalam permainan tunggal, karena tuntutan gerakan eksplosif dan jarak lari yang lebih jauh. Olahraga ini sering mendorong denyut jantung ke zona intensitas tinggi, menjadikannya pembakar kalori yang powerful serta sangat efektif untuk mengurangi lemak tubuh.
Sebaliknya, padel ganda membakar sekitar 300–500 kalori per jam, atau 400 hingga 700 kalori dalam sesi 60 menit yang sangat kompetitif. Meski intensitas larinya sedikit lebih rendah karena lapangan yang lebih kecil dan penggunaan dinding, padel cenderung memiliki reli yang lebih panjang, menjaga denyut jantung pemain tetap meningkat secara konsisten dalam durasi yang lebih lama. Hal ini menjadikan padel sebagai latihan kardio intensitas sedang-tinggi yang stabil, sangat baik untuk daya tahan jantung tanpa stres berlebihan pada persendian.
Faktor "keseruan" menjadi kunci pendorong popularitas padel. Permainan ini dinilai lebih mudah dipelajari bagi pemula berkat lapangan yang lebih kecil (20x10 meter) yang dikelilingi dinding kaca, memungkinkan bola tetap dalam permainan lebih lama dan mengurangi frustrasi awal. Servis bawah (underhand) juga menyederhanakan permainan, membuat reli dimulai dengan cepat dan menyenangkan sejak menit pertama. Olahraga ini hampir selalu dimainkan secara ganda, mendorong interaksi sosial dan kerja sama tim yang kental. Ryan Putra, pengelola Padel Arena Jakarta, menggarisbawahi daya tarik padel karena "fun, sosial, dan bisa dimainkan siapa saja".
Di Indonesia, padel mulai dikenal sekitar tahun 2022 dan kini menunjukkan pertumbuhan eksponensial, dengan estimasi 5.000 hingga 8.000 pemain aktif dan lebih dari 15 lokasi lapangan. Pengamat olahraga Djoko Pekik Irianto menyatakan bahwa padel digemari karena masyarakat ingin mencoba hal baru, intensitasnya dapat terkontrol sehingga meminimalkan risiko serangan jantung dibandingkan tenis, dan dipandang sebagai olahraga elit bergengsi. Fenomena ini bukan sekadar tren; Nielsen Fan Insights 2025 mencatat bahwa fandom global tenis mencapai 33%, namun padel menunjukkan pertumbuhan yang lebih agresif, khususnya di pasar seperti Spanyol.
Implikasinya sangat luas, mencerminkan pergeseran nilai dalam rekreasi dan kebugaran. Padel menawarkan alternatif yang lebih inklusif dan mudah diakses, memecah hambatan teknis yang seringkali menghalangi pemula dalam tenis. Pertumbuhan pesat ini menarik investor, meski tantangan seperti edukasi pasar dan impor material lapangan tetap ada. Bagi individu, pilihan antara padel dan tenis kini lebih dari sekadar preferensi; ini adalah keputusan gaya hidup yang memengaruhi kesehatan fisik, interaksi sosial, dan alokasi waktu luang di masa depan.