Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Perjuangan Gen Z: Kanker Payudara di 24, Menopause Dini di 25

2025-12-22 | 14:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T07:52:12Z
Ruang Iklan

Perjuangan Gen Z: Kanker Payudara di 24, Menopause Dini di 25

Seorang perempuan muda dari generasi Z, yang didiagnosis dengan kanker payudara pada usia 24 tahun dan mengalami menopause dini pada usia 25 tahun setelah menjalani pengobatan, menyoroti tren mengkhawatirkan yang menunjukkan pergeseran usia penderita kanker payudara ke kelompok demografi yang lebih muda. Kasus ini menggambarkan tantangan kompleks yang dihadapi Gen Z, mulai dari diagnosis penyakit mematikan di usia produktif hingga dampak jangka panjang pada kualitas hidup, kesuburan, dan kesehatan mental.

Kanker payudara, yang secara historis lebih banyak menyerang wanita di atas 40 tahun, kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia 20-an. Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menegaskan bahwa kasus kanker payudara tidak lagi terbatas pada usia di atas 40 tahun, tetapi telah bergeser dan banyak ditemukan pada usia 18, 23, bahkan 25 tahun. Statistik menunjukkan bahwa 1,9% dari seluruh kasus kanker payudara terjadi pada wanita berusia 20–34 tahun. Peningkatan insiden kanker pada individu di bawah usia 50 tahun secara global telah melonjak 79% antara tahun 1990 hingga 2019, dengan kelompok milenial dan Gen Z mencatat peningkatan kasus yang signifikan. Di Indonesia, kanker payudara menjadi jenis kanker terbanyak pada perempuan dengan angka kejadian mencapai 42,1 per 100.000 penduduk. Ironisnya, sekitar 70% kasus kanker payudara di Indonesia baru terdeteksi pada stadium lanjut, mengurangi peluang kesembuhan yang bisa mencapai 90% jika terdeteksi lebih awal.

Penyebab pergeseran usia ini masih menjadi fokus penelitian, namun faktor genetik, gaya hidup, dan hormonal diyakini berperan besar. Riwayat keluarga dengan kanker payudara meningkatkan risiko genetik seseorang hingga 15-25%. Selain itu, pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, dan kebiasaan merokok juga disebut sebagai pemicu. Dr. Denni Joko Purwanto, Spesialis Onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais, mengaitkan peningkatan ini dengan pola dan gaya hidup modern, termasuk konsumsi makanan berkolesterol tinggi yang tidak terkontrol yang memicu menarche (menstruasi pertama) lebih dini, memperpanjang paparan estrogen, dan meningkatkan risiko kanker payudara pada usia muda. Tantangan diagnosis dini pada wanita muda juga muncul karena kepadatan jaringan payudara mereka yang lebih tinggi, membuat mamografi kurang efektif dan seringkali menyembunyikan tumor.

Pengobatan kanker payudara, terutama kemoterapi, seringkali menimbulkan efek samping yang signifikan, termasuk menopause dini. Kemoterapi merusak ovarium, yang bertanggung jawab untuk memproduksi hormon dan sel telur, menyebabkan kegagalan ovarium prematur. Dr. Kshitiz Murdia, Pendiri CEO & Co Indira IVF, menjelaskan bahwa kerusakan folikel ovarium akibat kemoterapi dapat mengurangi cadangan sel telur, menyulitkan kehamilan. Kemungkinan seorang wanita mengalami menopause dini setelah kemoterapi sangat bergantung pada usianya saat pengobatan dan jenis serta dosis obat kemoterapi yang diberikan. Wanita muda mungkin memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kembali fungsi menstruasi, namun mereka yang mendekati usia menopause alami lebih rentan mengalami menopause permanen. Sebuah studi menemukan bahwa menambahkan obat goserelin pada kemoterapi dapat mengurangi risiko menopause prematur.

Menopause dini pada usia 25 tahun membawa implikasi fisik dan psikologis yang mendalam. Secara fisik, kondisi ini meningkatkan risiko osteoporosis (penipisan tulang) dan masalah jantung, yang memerlukan pemantauan dan perawatan berkala. Selain itu, kekeringan vagina dan nyeri saat berhubungan intim juga menjadi keluhan umum. Secara psikologis, menopause dini dapat memicu kecemasan, depresi, perubahan suasana hati yang drastis, iritabilitas, serangan panik, sulit tidur, dan penurunan gairah seksual. Dr. Natalia Widiasih Raharjanti, Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSCM, menekankan bahwa wanita dengan menopause berisiko mengalami gangguan psikologis akibat perubahan neurohormonal dan gejala fisik. Perasaan "insecurity" dan citra tubuh negatif juga sering muncul. Bagi wanita Gen Z, kehilangan kesuburan di usia muda dapat menjadi pukulan berat, mempengaruhi rencana hidup, aspirasi menjadi ibu, dan identitas diri. Pembekuan sel telur sebelum memulai pengobatan adalah salah satu pilihan yang direkomendasikan untuk mempertahankan kesuburan.

Menghadapi meningkatnya insiden kanker payudara pada usia muda menuntut pendekatan proaktif dalam pencegahan dan deteksi dini. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) tetap menjadi alat deteksi penting. Untuk wanita di bawah 35 tahun, USG payudara direkomendasikan sebagai metode skrining yang lebih akurat dibandingkan mammografi karena jaringan payudara yang lebih padat. Selain itu, pemahaman mendalam tentang faktor risiko genetik melalui konseling dan pengujian genetik juga krusial bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga. Dukungan psikososial, termasuk konseling dan kelompok dukungan, sangat penting bagi pasien muda untuk mengatasi dampak emosional dari diagnosis kanker dan menopause dini. Fokus tidak hanya pada pengobatan medis, tetapi juga pada pemulihan kualitas hidup holistik bagi para penyintas muda yang harus menavigasi tantangan kesehatan yang kompleks di awal masa dewasa mereka.