:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456659/original/013734200_1766914974-588323593_18543344926026721_884352680808322773_n.jpg)
Penyanyi K-pop Soyou, mantan anggota grup idola SISTAR, mengungkapkan keterkejutannya setelah menjalani liburan sebulan penuh di Bali, Indonesia, mendapati berat badannya turun menjadi 49,1 kilogram, berlawanan dengan tujuannya untuk menambah massa otot. Bintang berusia 32 tahun itu membagikan pengalamannya melalui kanal YouTube pribadinya, "Soyougi," pada 25 Desember 2025, menyoroti rutinitas kesehatannya yang intens di tengah suasana liburan tropis.
"Ini adalah berat badan terendah saya sejak tiba di Bali," kata Soyou dalam video tersebut, menyatakan keheranannya. "Saya tidak sengaja mencoba menurunkan berat badan, jadi saya tidak yakin mengapa berat badan saya turun." Dia juga secara transparan menambahkan bahwa dia sebenarnya sedang berusaha untuk menambah berat badan dan membangun otot, bukan mengurangi bobot tubuhnya.
Selama menghabiskan waktu di pulau Dewata, Soyou mempertahankan jadwal latihan yang ketat, bergantian antara yoga dan sesi di pusat kebugaran. Ia bahkan secara bercanda mempertanyakan, "Apakah saya datang ke Bali hanya untuk berolahraga? Ini adalah lingkaran latihan tanpa henti." Pola makannya di Bali didominasi makanan kaya protein seperti Americano, nasi goreng, dan tumisan sayuran. Komitmennya pada aktivitas fisik yang intens, bahkan setelah makan malam, disebutnya sebagai kemungkinan penyebab penurunan berat badannya yang tidak disengaja.
Pengungkapan Soyou ini memberikan sorotan tajam terhadap tekanan citra tubuh yang tak henti-hentinya dihadapi oleh idola K-pop. Industri ini secara historis menuntut standar kecantikan yang ketat, seringkali mendorong idola untuk menjalani diet ekstrem dan regimen olahraga intensif untuk mencapai fisik yang sangat ramping. Soyou sendiri memiliki riwayat manajemen diet yang ketat, termasuk pernah menghilangkan karbohidrat dari makanannya selama tiga tahun untuk menjaga berat badan. Namun, dia juga mengakui bahwa diet ekstrem dapat menyebabkan efek samping seperti pusing dan hipotensi ortostatik, serta penambahan berat badan yang tidak terkontrol saat kembali mengonsumsi karbohidrat.
Kasus Soyou ini menjadi relevan dalam diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental dan citra tubuh di kalangan selebriti dan penggemar K-pop. Lingkungan industri sering kali menempatkan penampilan visual sebagai prioritas tinggi, dengan tekanan yang dapat memicu masalah kesehatan seperti depresi dan kecemasan bagi idola maupun audiens. Standar kecantikan Korea yang toksik, yang mengagungkan sosok kurus dan ramping, turut diperkuat oleh media dan industri hiburan, menciptakan ekspektasi yang tidak realistis.
Keputusan Soyou untuk fokus pada pembangunan otot dan manajemen kesehatan yang seimbang sebelum kembali ke Korea, alih-alih hanya berorientasi pada angka timbangan, menandai pergeseran potensial menuju pendekatan yang lebih holistik terhadap kebugaran dalam sorotan publik. Ini terjadi di tengah tren pariwisata Bali yang terus menguat, dengan pulau itu mencatat pertumbuhan kunjungan internasional signifikan, mencapai 5,29 juta wisatawan dari Januari hingga September 2025, meningkat 11,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Destinasi ini, dengan daya tarik wellness dan ekowisata yang berkembang, menjadi pilihan populer bagi mereka yang mencari "istirahat sehat" seperti yang dipraktikkan Soyou, menggabungkan relaksasi dengan komitmen kebugaran.
Meskipun industri hiburan terus menuntut kesempurnaan visual, transparansi Soyou mengenai tantangan menjaga berat badan di tengah gaya hidup aktif dan tujuan kesehatan yang berbeda dapat memberikan perspektif yang lebih realistis bagi para penggemarnya. Hal ini menekankan bahwa keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan penerimaan diri jauh lebih krusial dibandingkan angka pada timbangan semata.