:strip_icc()/kly-media-production/medias/5443293/original/086012900_1765672739-WhatsApp_Image_2025-12-14_at_5.38.57_AM.jpeg)
Lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental, dengan kondisi seperti kecemasan dan depresi menjadi yang paling umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa satu dari delapan orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan mental, yang setara dengan sekitar 970 juta orang pada tahun 2024, menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Angka ini terus meningkat, dengan studi skala besar yang dipimpin oleh Harvard Medical School dan University of Queensland menemukan bahwa satu dari dua orang di dunia akan mengalami gangguan kesehatan mental seumur hidup mereka pada usia 75 tahun. Meskipun prevalensinya tinggi, stigma yang melekat pada masalah kesehatan mental seringkali menjadi penghalang utama bagi individu untuk mencari bantuan profesional yang mereka butuhkan.
Stigma ini dapat memperlambat pencarian pengobatan, memperburuk gejala, menurunkan kualitas hidup, dan membuat jalan menuju pemulihan menjadi lebih menantang. Ketakutan akan label negatif, pengucilan, kesalahpahaman, penghakiman, atau diskriminasi adalah alasan umum mengapa banyak orang menghindari mencari bantuan. Kesalahpahaman bahwa penyakit mental adalah kegagalan pribadi atau kelemahan, dan bukan kondisi medis yang sah, turut berkontribusi pada stigma ini. Kurangnya edukasi dan kesadaran juga terus melanggengkan stigma seputar kesehatan mental.
Stigma kesehatan mental dapat muncul dalam berbagai bentuk. Stigma publik merujuk pada sikap dan kepercayaan negatif masyarakat terhadap orang dengan kondisi kesehatan mental. Stigma diri adalah keyakinan negatif yang diinternalisasi oleh individu yang memiliki kondisi kesehatan mental tentang diri mereka sendiri, yang dapat menyebabkan perasaan malu dan harga diri rendah. Selain itu, stigma struktural melibatkan kebijakan dan praktik diskriminatif di lembaga dan sistem sosial yang membatasi hak dan peluang bagi individu dengan gangguan mental. Bahkan, para profesional kesehatan juga menghadapi stigma yang signifikan saat mencari perawatan kesehatan mental untuk diri mereka sendiri, karena kekhawatiran akan dampak pada lisensi atau kredensial mereka.
Dampak dari masalah kesehatan mental yang tidak diobati sangat besar. Gangguan kesehatan mental berada di antara 10 penyebab utama hilangnya kesehatan di seluruh dunia, menduduki peringkat kelima pada tahun 2023, naik dari peringkat ke-12 pada tahun 1990. Kecemasan dan depresi saja diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar 1 triliun dolar AS setiap tahunnya akibat hilangnya produktivitas. Bunuh diri tetap menjadi hasil yang menghancurkan, merenggut sekitar 727.000 jiwa pada tahun 2021 dan merupakan penyebab utama kematian di kalangan kaum muda. Orang dengan kondisi kesehatan mental yang parah cenderung meninggal 10 hingga 20 tahun lebih awal dibandingkan populasi umum.
Untuk mengatasi krisis ini, upaya global terus dilakukan. Kampanye kesadaran publik, intervensi yang memberdayakan, dan reformasi kebijakan dianggap sebagai strategi yang efektif untuk memerangi stigma. Mendidik diri sendiri dan orang lain tentang penyakit mental adalah langkah pertama dalam mengatasi stigma. WHO menekankan perlunya investasi dan tindakan yang lebih besar secara global untuk meningkatkan layanan kesehatan mental. Hari Kesehatan Mental Sedunia, yang diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Oktober, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menantang stigma. Tema untuk Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 adalah "Akses ke Layanan - Kesehatan Mental dalam Bencana dan Keadaan Darurat," menyoroti pentingnya melindungi kesehatan mental di masa ketidakstabilan global.