
Seorang wanita berusia 52 tahun mengalami kondisi neurologis langka yang menyebabkan dirinya melihat wajah orang lain berubah menjadi kepala naga setiap kali ia memandanginya. Fenomena aneh yang telah dialaminya sepanjang hidup ini telah menjadi subjek studi medis dan dikenal sebagai prosopometamorphopsia (PMO).
Menurut laporan kasus yang dipublikasikan pada tahun 2014, wanita tersebut, yang tinggal di Belanda, menggambarkan bagaimana wajah manusia yang awalnya tampak normal, setelah beberapa menit, akan berubah menjadi hitam, tumbuh telinga panjang meruncing dan moncong menonjol, serta menunjukkan kulit reptil dengan mata besar berwarna kuning cerah, hijau, biru, atau merah. Selain itu, ia juga kerap melihat wajah-wajah naga melayang dari dinding, stopkontak listrik, atau layar komputer, bahkan di malam hari di kegelapan, tanpa adanya pola wajah yang jelas.
Prosopometamorphopsia adalah kelainan neurologis langka yang ditandai dengan persepsi wajah yang terdistorsi. Kondisi ini berbeda dari prosopagnosia (buta wajah), di mana penderita kesulitan mengenali wajah. Dalam kasus PMO, penderita masih dapat mengenali siapa yang mereka lihat, tetapi wajah orang tersebut terlihat melengkung, kabur, membengkak, melorot, atau berubah bentuk secara drastis. Kondisi ini sangat jarang terjadi, dengan kurang dari 100 kasus yang dilaporkan dalam literatur ilmiah sejak tahun 1904.
Para peneliti yang menangani kasus wanita tersebut tidak dapat segera memastikan penyebab pasti PMO-nya. Serangkaian pemeriksaan otak, termasuk MRI, elektroensefalogram (EEG), dan pemeriksaan neurologis, serta tes darah, semuanya menunjukkan hasil normal. Namun, pemindaian MRI kemudian menunjukkan adanya beberapa kelainan materi putih (lesi) di dekat nukleus lentiformis dan pusat semioval di otaknya. Area-area ini, khususnya girus fusiformis di korteks oksipitotemporal ventral, diketahui terkait dengan pengenalan wajah. Para ahli meyakini bahwa korteks visual wanita tersebut mungkin telah berkembang secara tidak normal, kemungkinan karena kekurangan oksigen saat lahir atau sesudahnya.
Penyebab PMO seringkali tidak jelas, namun dapat dipicu oleh berbagai kondisi seperti penggunaan obat halusinogen, stroke, tumor otak, epilepsi, migrain, atau cedera kepala. Distorsi visual semacam ini dapat menimbulkan tekanan emosional yang besar, menyebabkan penderita merasa terganggu dan kesulitan berinteraksi secara normal dengan orang lain, bahkan menyebabkan depresi dan isolasi sosial.
Dalam upaya mengatasi halusinasi naga yang dialaminya, wanita tersebut akhirnya menemukan bantuan melalui obat anti-demensia bernama rivastigmine. Rivastigmine membantu tubuh mensintesis neurotransmitter asetilkolin, yang terlibat dalam pembelajaran dan memori. Pengobatan ini secara signifikan mengurangi distorsi, memungkinkan wanita itu untuk berfungsi lebih normal dan berinteraksi lebih baik dengan rekan-rekannya. Kasus langka ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana otak manusia memproses citra visual dan bagaimana persepsi dapat "disusun ulang" secara tidak sengaja oleh otak ketika jalur saraf terganggu.