:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5392466/original/042058100_1761462929-Salsabila_Avinandita_Karsawinata__Co-Founder_Salsalivefit_Gym___Artyo_Wicaksono__Founder_Salsalivefit_Gym.jpg)
Perempuan berusia 30 tahun ke atas seringkali fokus pada menjaga berat badan ideal dan penampilan fisik yang ramping. Namun, pakar kesehatan kini semakin menekankan bahwa kurus saja tidak cukup; memiliki massa otot yang memadai adalah fondasi penting untuk kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup yang optimal bagi perempuan di usia tersebut.
Penurunan massa otot, yang dikenal sebagai sarcopenia, secara alami mulai terjadi sekitar usia 30 tahun. Setiap dekade setelah usia 30, kebanyakan orang dewasa dapat kehilangan sekitar 3-8% massa otot, dengan percepatan setelah usia 60 tahun. Perempuan rentan mengalami kondisi ini karena berbagai faktor, termasuk perubahan hormon seiring bertambahnya usia.
Salsabila Avinandita Karsawinata, Co-founder Salsalivefit Gym, menjelaskan bahwa tanpa massa otot yang cukup, keluhan seperti sakit lutut dan sakit pinggang akan lebih mudah dirasakan. Massa otot yang rendah juga berkorelasi dengan metabolisme tubuh yang melambat, yang dapat memicu kenaikan berat badan dan berbagai risiko kesehatan lainnya. Lebih jauh, kurangnya massa otot dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh, menurunkan kekuatan dan daya tahan, serta meningkatkan risiko jatuh dan patah tulang, terutama karena penurunan kepadatan tulang yang juga mulai terjadi setelah usia 30 tahun. Kondisi ini bisa membatasi kemampuan beraktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Membangun dan mempertahankan massa otot menawarkan berbagai manfaat yang melampaui estetika semata. Latihan beban, misalnya, membantu mengontrol berat badan, mencegah pengeroposan tulang, bahkan dapat membangun tulang baru. Latihan kekuatan juga terbukti meningkatkan metabolisme basal tubuh, memungkinkan pembakaran kalori yang lebih efisien bahkan saat beristirahat. Selain itu, otot yang kuat dapat meningkatkan keseimbangan, mencegah cedera, memperbaiki postur tubuh, dan membantu menstabilkan hormon.
Penting untuk menghilangkan mitos bahwa latihan beban akan membuat wanita terlihat "kekar" seperti binaragawan. Tubuh wanita memiliki hormon testosteron yang jauh lebih sedikit dibandingkan pria, sehingga membentuk otot besar secara tiba-tiba sangatlah sulit. Sebaliknya, latihan kekuatan pada wanita umumnya menghasilkan tubuh yang lebih ramping, kencang, dan memiliki komposisi lemak tubuh yang lebih sehat.
Untuk perempuan usia 30 tahun ke atas, cara paling aman dan tepat untuk memulai adalah dengan latihan otot. Ini dapat berupa latihan beban menggunakan alat bebas seperti barbell dan dumbbell, atau bahkan hanya menggunakan berat tubuh sendiri seperti squat, sit-up, dan push-up. Para ahli merekomendasikan latihan kekuatan secara teratur, dengan peningkatan beban secara bertahap saat tubuh sudah terbiasa.
Selain aktivitas fisik, asupan protein yang cukup sangat krusial. Protein adalah komponen utama penyusun otot dan esensial untuk perbaikan jaringan otot yang rusak setelah berolahraga. Orang yang ingin membangun massa otot perlu meningkatkan asupan protein harian mereka menjadi antara 1,4 hingga 2 gram per kilogram berat badan, atau 1,6-2,2 gram per kilogram massa tubuh tanpa lemak. Istirahat yang cukup, sekitar tujuh hingga delapan jam sehari, juga penting untuk memungkinkan otot memperbaiki diri dan mengoptimalkan pembentukannya.
Dengan kombinasi latihan yang tepat, nutrisi yang mendukung, dan konsistensi, perempuan berusia 30 tahun ke atas tidak hanya dapat menjaga penampilan, tetapi juga memastikan tubuh tetap kuat, sehat, dan tangguh menghadapi setiap fase kehidupan.