:strip_icc()/kly-media-production/medias/3335255/original/042749200_1609160437-agto-nugroho-NYMRvWePmn8-unsplash.jpg)
Yogyakarta mencatat lonjakan signifikan dalam minat wisatawan domestik selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, bahkan mengungguli Bali sebagai destinasi pilihan utama bagi keluarga Indonesia. Fenomena ini didominasi oleh tren micro tourism, yang menekankan eksplorasi destinasi lokal yang lebih intim dan autentik. Sementara Bali masih menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, pergeseran preferensi wisatawan nusantara ke Yogyakarta menjadi indikator kuat perubahan pola perjalanan pascapandemi.
Data pencarian akomodasi dari Agoda menunjukkan Yogyakarta menjadi destinasi domestik paling banyak dicari untuk liburan akhir tahun 2025, dengan peningkatan minat mencapai 29% dibandingkan tahun sebelumnya. Survei RedDoorz pada November 2025 juga menempatkan Yogyakarta sebagai destinasi domestik terfavorit, diikuti Bandung, Bali, dan Jakarta, dengan 86,6% responden memilih liburan dalam negeri karena faktor keterjangkauan dan kemudahan. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, mengakui isu pergeseran minat wisatawan ini sebagai narasi lama yang kembali muncul, namun menegaskan bahwa Bali kini fokus pada pariwisata berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat, bukan semata mengejar angka kunjungan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengonfirmasi adanya penurunan tipis sekitar 2% pada kunjungan wisatawan domestik ke Bali selama Nataru 2025/2026, yang disinyalir karena kekhawatiran cuaca buruk dan faktor lainnya, mendorong mereka memilih destinasi di Jawa, termasuk Yogyakarta. Widiyanti menyebut Yogyakarta mengalami peningkatan wisatawan yang luar biasa selama periode tersebut. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali justru menunjukkan tren peningkatan, mencapai 6,8 juta orang hingga akhir Desember 2025, mendekati target tahunan pemerintah sebesar 7 juta kunjungan.
Tren micro tourism menjadi pendorong utama di balik popularitas Yogyakarta. Konsep ini merujuk pada gaya berwisata yang berfokus mengeksplorasi destinasi di sekitar tempat tinggal, baik dalam kota maupun daerah yang mudah dijangkau dalam waktu singkat, menawarkan pengalaman liburan hemat dan berkesan tanpa perlu cuti panjang. Kementerian Pariwisata telah mengidentifikasi micro tourism sebagai tren baru liburan hemat, yang memungkinkan wisatawan menemukan keindahan tersembunyi seperti taman kota, museum, kafe unik, hingga tempat-tempat alam tersembunyi.
Di Yogyakarta, micro tourism terwujud dalam pengembangan desa wisata yang pesat. Beberapa desa wisata di Yogyakarta yang naik daun pada 2025 antara lain Kampung Wisata Pandeyan yang menawarkan kenyamanan tinggal di kampung dekat fasilitas kota, Desa Wisata Sukunan yang fokus pada edukasi lingkungan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta Kampung Wisata Sosromenduran yang dekat dengan Malioboro. Selain itu, Desa Wisata Wukirsari di Imogiri, Bantul, menyajikan perpaduan alam dan budaya dengan belajar membuat wayang kulit, bermain gamelan, hingga sepak bola sawah. Desa Wisata Pentingsari menawarkan pengalaman membatik dan membuat wayang suket, bahkan telah meraih penghargaan ASEAN Tourism Award 2023 dalam kategori community-based tourism. Pengembangan desa wisata di Kulon Progo, misalnya, juga dinilai penting dalam memperkuat perekonomian berbasis masyarakat.
Lonjakan wisatawan ke Yogyakarta ini berimplikasi langsung pada ekonomi lokal. Sektor pariwisata telah lama diakui sebagai faktor pendorong kesejahteraan dan penurunan kemiskinan di daerah berkembang. Di Yogyakarta, pariwisata menyumbang signifikan terhadap pendapatan daerah, terutama melalui jasa dan penjualan yang terkait dengan aktivitas wisata, seperti oleh-oleh dan cinderamata yang sebagian besar dihasilkan oleh Usaha Mikro Kecil (UMK). Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di D.I. Yogyakarta pada April 2025 mencapai 49,98%, naik 26,83 poin dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan peningkatan aktivitas akomodasi.
Namun, potensi overtourism juga menjadi perhatian. Peningkatan kunjungan wisatawan yang membludak dapat menimbulkan dampak negatif pada aspek ekonomi, lingkungan, hingga sosial budaya. Oleh karena itu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, melalui ketuanya Deddy Pranowo Eryono, telah mengingatkan anggotanya untuk tidak menaikkan harga secara tidak wajar atau "aji mumpung" selama periode Nataru, demi menjaga citra pariwisata Yogyakarta dan memberikan pelayanan terbaik. PHRI DIY menargetkan tingkat okupansi hotel sebesar 80% dan optimistis angka tersebut dapat terlampaui.
Di sisi lain, Bali menghadapi tantangan yang berbeda. Selain penurunan wisatawan domestik, isu over-tourism, degradasi lingkungan, kemacetan, persoalan sampah, banjir, hingga keluhan biaya berwisata yang kian mahal menjadi perbincangan publik. Masuknya Bali dalam FODOR's No List 2025 juga menjadi peringatan atas pembangunan yang tidak terkendali yang mengikis habitat alami dan menciptakan "bencana plastik". Pemerintah Provinsi Bali menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 6,6 juta dan wisatawan domestik 10,8 juta pada 2025, angka yang dinilai lebih realistis. Sinergi semua pihak menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini, dengan penekanan pada pariwisata berkelanjutan yang mempertahankan nilai-nilai budaya lokal dan keseimbangan lingkungan.
Pergeseran ini mencerminkan tren pariwisata nasional menuju pendekatan "quality tourism" yang berkelanjutan dan inklusif. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong fokus pada kualitas pengalaman wisatawan, serta dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang positif. Ini berarti pariwisata tidak hanya tentang jumlah kunjungan, tetapi bagaimana pariwisata dapat menyentuh kehidupan masyarakat, melestarikan budaya, dan menciptakan dunia yang lebih baik. Bank Indonesia turut mendukung pengembangan pariwisata berkualitas dengan memperkuat UMK melalui berbagai program stimulus dan mempromosikan investasi pariwisata. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi bagi setiap destinasi di Indonesia untuk beradaptasi, berinovasi, dan mengedepankan keberlanjutan demi daya tarik jangka panjang.