:strip_icc()/kly-media-production/medias/2245386/original/050027300_1528618987-20180610-mudik-stasiun_tugu3-yogya.jpg)
Pemandangan malam di sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta, salah satu gerbang utama bagi wisatawan, telah lama berevolusi menjadi sebuah pusat gastronomi yang hidup, menawarkan spektrum kuliner khas yang memikat para pelancong dan penduduk lokal. Sektor kuliner malam ini bukan sekadar pemuas lapar, melainkan tulang punggung ekonomi mikro dan refleksi budaya yang dinamis, menopang narasi pariwisata berkelanjutan kota ini.
Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif, dalam kajian yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Pariwisata November 2020, mendefinisikan kuliner sebagai aktivitas persiapan, pengolahan, dan penyajian makanan yang mengintegrasikan kreativitas, estetika, tradisi, serta kearifan lokal untuk meningkatkan nilai dan daya tarik produk. Di Yogyakarta, konsep ini terwujud dalam berbagai hidangan yang tersedia hingga larut malam di sekitar Stasiun Tugu, sebuah area yang secara strategis menjadi titik pertemuan bagi mereka yang baru tiba atau bersiap meninggalkan kota. Dinas Koperasi dan UKM DIY mencatat bahwa sektor usaha ini menjadi penyangga utama kegiatan pariwisata, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat UMKM kuliner sebagai bagian dari pemulihan ekonomi.
Wisatawan yang mencari sajian makan malam setelah perjalanan panjang dapat menemukan beragam pilihan. Warung Iga Cak Erwan, yang berlokasi sekitar satu kilometer dari Stasiun Tugu di Jalan Margo Utomo, menjadi tujuan populer bagi penggemar olahan iga dan tunjang. Mereka menyajikan iga bakar, iga bakar sambal, hingga gulai tunjang bakar yang tersedia sepanjang jam operasional malam hari.
Alternatif lain yang nyaman berada tepat di dalam Stasiun Tugu adalah Loko Cafe. Kafe ini beroperasi 24 jam dan menawarkan menu bervariasi mulai dari nasi goreng Jawa, soto Jogja, hingga iga bakar dan chicken katsu, ideal untuk penumpang kereta yang tiba atau berangkat kapan saja.
Untuk cita rasa otentik masakan khas Yogyakarta, Gudeg Yu Sri 1959 Tugu menawarkan pengalaman gudeg tradisional. Meskipun gudeg sering dinikmati sebagai sarapan, beberapa warung gudeg di sekitar Tugu tetap menjadi opsi kuliner malam. Sementara itu, bagi penyuka pedas, Gudeg Mercon Bu Tinah di Jalan Asem Gede adalah sebuah institusi. Dikenal dengan gudeg super pedasnya, warung ini buka mulai pukul 21.00 hingga 01.00 WIB, menarik wisatawan yang ingin menantang lidah mereka dengan sensasi berbeda.
Nuansa angkringan, sebuah ikon kuliner malam Yogyakarta, juga sangat kental di area ini. Angkringan Lik Man di Jalan Poncowinatan misalnya, buka dari pukul 16.00 hingga 01.00 WIB, terkenal dengan nasi kucing, aneka sate, dan Kopi Joss-nya yang legendaris, disajikan dengan arang menyala.
Bagi yang mencari sajian unik dan buka hingga dini hari, Soto Sampah di Jalan Kranggan Nomor 2 menawarkan soto dengan nama nyentrik yang tetap ramai pengunjung hingga tengah malam, lengkap dengan pilihan bakso urat dan ayam geprek. Tidak jauh dari sana, Gulai Sapi Pak Samin, yang telah berdiri sejak 1968, menyajikan gulai sapi yang gurih dengan harga terjangkau di seberang Tugu, memberikan pengalaman bersantap malam yang legendaris.
Bakmi Jogja Trunojoyo, yang berlokasi dekat Malioboro dan Tugu, menyajikan bakmi Jawa yang dimasak di atas tungku arang, dengan kuah kaldu ayam kampung dan mie rumahan, menjadi pilihan "aman" bagi banyak wisatawan yang mencari hidangan hangat di malam hari.
Sate Klathak, hidangan sate kambing khas Yogyakarta yang ditusuk dengan jeruji besi, memiliki representasinya di Sate Klathak Kranggan di Jalan Poncowinatan Jetis Tugu, yang juga menyuguhkan nasi goreng kambing dan tengkleng dengan bumbu rempah otentik. Untuk pilihan lauk lain, Bebek Goreng Rempah Suwarno di Jalan Sosrowijayan, sekitar 600 meter dari Stasiun Tugu, menawarkan bebek dan ayam goreng dengan bumbu rempah yang meresap dan kulit renyah, buka hingga pukul 21.00 WIB.
Terakhir, Kedai Lur, dengan bangunan berarsitektur kayu, menawarkan suasana nyaman untuk berkumpul. Beroperasi hingga pukul 21.00 WIB, tempat ini populer dengan menu bakmi goreng, nasi goreng kambing, teh poci, dan sego gongso brongkos khas Jogja, menunjukkan keragaman kuliner malam di sekitar stasiun.
Potensi wisata kuliner di Yogyakarta telah diidentifikasi sebagai strategi tepat untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan, terutama mengingat kota ini tidak memiliki potensi wisata alam yang dominan. Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Malioboro, yang mencatat 412.079 pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru 2025, secara tidak langsung mengindikasikan bahwa sektor kuliner di sekitarnya, termasuk area Stasiun Tugu, ikut merasakan dampak positif. Peran media sosial, khususnya platform seperti TikTok, juga signifikan dalam mempromosikan atraksi kuliner lokal dan meningkatkan minat berwisata, dengan keunikan rasa dan pengalaman otentik menjadi konten viral yang efektif. Kelangsungan dan pertumbuhan sektor kuliner malam di sekitar Stasiun Tugu tidak hanya menjadi penanda denyut kehidupan kota, tetapi juga esensi dari upaya Yogyakarta untuk terus menyajikan warisan budaya dan kelezatan gastronomi kepada dunia.