:strip_icc()/kly-media-production/medias/4007310/original/073636000_1650970092-269879543_447602990188526_1004348801651320857_n.jpg)
Kota Pekalongan, dikenal sebagai "Kota Batik," menawarkan lebih dari sekadar warisan budaya berupa kain tradisional; kota ini juga merupakan surga kuliner dengan kekayaan rasa yang telah berakar selama berabad-abad. Perpaduan budaya Jawa, Tionghoa, dan India telah melahirkan hidangan unik yang menjadi daya tarik utama, terutama bagi para pelancong yang tiba di Stasiun Pekalongan dan mencari pengalaman bersantap malam yang autentik. Sektor kuliner di Pekalongan menunjukkan ketahanan signifikan, bahkan ketika sektor pariwisata lainnya terdampak pandemi, dengan 79% konsumen menyukai makanan tradisional karena rasa khas, harga terjangkau, bahan baku alami, dan sebagai bentuk pelestarian budaya. Popularitas ini juga meluas ke kalangan anak muda, dengan 71,4% responden dalam survei GoodStats menyukai hidangan tradisional karena variasi dan kekayaan rasanya.
Nasi Megono, Soto Tauto, dan Sekoteng merupakan tiga pilar gastronomi Pekalongan yang esensial. Nasi Megono, hidangan sederhana namun penuh makna, terbuat dari cacahan nangka muda yang dibumbui kelapa parut, memiliki akar sejarah sebagai ransum prajurit Mataram pada abad ke-17. Nama "Megono" sendiri berasal dari frasa Jawa "merga ana" (karena ada), mencerminkan filosofi kesederhanaan dan rasa syukur masyarakat yang memanfaatkan bahan seadanya. Sementara itu, Soto Tauto, perpaduan unik antara soto dan tauco (fermentasi kedelai), mencerminkan akulturasi kuliner Tionghoa dan India yang kuat di kota pelabuhan ini. Tauco memberikan kuah soto warna pekat, gurih, dan sedikit asam yang khas, membedakannya dari soto daerah lain. Sekoteng, minuman jahe hangat dengan isian beragam, juga memiliki sejarah panjang dan disajikan dalam versi dingin maupun hangat, menjadi penutup yang menyegarkan atau penghangat di malam hari.
Stasiun Pekalongan, sebagai gerbang utama, telah mendorong pertumbuhan sejumlah tempat makan legendaris di sekitarnya yang menawarkan hidangan-hidangan tersebut. Berikut sembilan rekomendasi yang wajib dikunjungi untuk merasakan jantung kuliner Pekalongan:
1. Sekoteng Pak Woh
Berlokasi di Jalan Kenanga, Klego, Kecamatan Pekalongan Timur, Sekoteng Pak Woh menyajikan minuman hangat tradisional dengan isian jahe, roti tawar, kolang-kaling, kacang tanah, dan biskuit. Tempat ini juga menawarkan kudapan tambahan seperti sate-satean dan gorengan, bahkan menu utama seperti nasi megono dan nasi campur cumi hitam. Berdiri sejak 1970-an, tempat ini buka dari pagi hingga dini hari, dengan rating 4.5 dari pengguna Google Maps. Harganya pun terjangkau, mulai dari sekitar Rp6.000 per mangkuk.
2. Soto Tauto Bang Dul
Soto Tauto Bang Dul, berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Sokorejo, Pekalongan Timur, telah menjadi destinasi wajib bagi pecinta kuliner otentik Pekalongan. Warung ini menyajikan soto tauto khas dengan kuah kaya rempah, potongan daging sapi dan jeroan melimpah. Buka setiap hari dari pukul 06.30 hingga 20.00, satu porsi soto tauto dibanderol sekitar Rp17.000, belum termasuk nasi. Cabang lainnya juga dapat ditemukan di Jalan Gajah Mada.
3. Warung Nasi Megono Pak Bon
Beroperasi sejak 1960-an, Warung Nasi Megono Pak Bon di Jalan Mawar, Poncol, Pekalongan Timur, menyajikan nasi megono dengan cacahan nangka muda dan bumbu khas. Lauk pelengkapnya beragam, mulai dari kari otot, ayam goreng, hingga sate telur puyuh. Warung ini buka setiap hari dari pukul 17.00 hingga 00.00 WIB, menjadikannya pilihan ideal untuk makan malam.
4. Nasi Uwet H. Zarkasi
Pionir kuliner uwet sejak 1959, Nasi Uwet H. Zarkasi di Jalan Sulawesi No. 25, Bendan Kergon, Pekalongan Barat, menawarkan hidangan nasi uwet yang memadukan nasi putih dengan olahan daging kambing dan jeroan, dilengkapi megono yang menyegarkan. Tempat ini buka dari pukul 07.00 hingga 23.00, dengan harga sekitar Rp17.000 per porsi, dan selalu ramai dikunjungi.
5. Sego Rakyat Mbak Ibah
Lebih dikenal sebagai Sego Rakyat Mbah Ibah, warung legendaris ini telah berdiri sejak 1992 di Jalan Teratai No. 81, Poncol, Kecamatan Pekalongan Timur. Warung ini menyajikan nasi campur dengan lauk pauk sederhana namun lezat, dengan harga mulai dari Rp5.000. Sego Rakyat Mbak Ibah buka dari pukul 07.00 hingga 00.00 WIB.
6. Soto Tauto Kunawi
Soto Tauto Kunawi, berlokasi di Jalan Teratai Gang 5 Klego, Kecamatan Pekalongan Timur, dikenal luas sebagai salah satu soto tauto paling terkenal di Pekalongan. Warung ini menyajikan soto dengan kuah kental, bumbu khas, dan daging lembut, yang kerap dikunjungi oleh tokoh nasional.
7. Nasi Megono Rindu Malam
Berada di Jalan Urip Sumoharjo, Pringlangu, Kecamatan Pekalongan Barat, Nasi Megono Rindu Malam terkenal dengan nasi megono khas beraroma kecombrang, disajikan dengan tempe hangat goreng dadakan. Warung ini buka setiap hari dari pukul 17.00 hingga 21.00 WIB.
8. Garang Asem H. Masduki
Ikon kuliner Pekalongan sejak 1959, Garang Asem H. Masduki menawarkan hidangan garang asem yang unik dengan cita rasa berbeda, seringkali disangka rawon karena penampilannya. Cabang utamanya berada di Alun-Alun Pekalongan dan Jalan Sudirman No. 169. Hidangan ini memadukan daging sapi dengan bumbu rempah khas, tomat, daun melinjo, dan cabai, menciptakan kombinasi rasa segar dan pedas.
9. Sego Dalem
Sego Dalem menawarkan masakan tradisional Jawa yang kaya rasa. Meskipun detail spesifik mengenai menu makan malamnya tidak selalu eksplisit, Sego Dalem sering masuk dalam daftar rekomendasi kuliner Pekalongan yang patut dicoba karena menyajikan hidangan autentik. Tempat ini biasanya menawarkan hidangan yang cocok untuk santap malam, menghadirkan suasana tradisional yang nyaman.
Pengembangan wisata kuliner di Pekalongan tidak hanya mengandalkan cita rasa, tetapi juga upaya pelestarian budaya. Studi dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2024 menyoroti pentingnya Gastronomi Center sebagai upaya pelestarian makanan khas Pekalongan, dengan memadukan unsur budaya "World's City of Batik" dengan modernitas. Pemanfaatan storytelling dan edukasi kepada konsumen memiliki peran krusial dalam memperkenalkan keunikan rasa serta nilai historis dan budaya yang terkandung dalam kuliner lokal. Dengan demikian, setiap kunjungan ke tempat-tempat makan ini tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga turut mendukung pelestarian warisan gastronomi yang tak ternilai dari Pekalongan.