Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ancaman 'Super Flu': Peringatan Eks Petinggi WHO Soal Pandemi Global Berikutnya

2026-01-01 | 18:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T11:42:14Z
Ruang Iklan

Ancaman 'Super Flu': Peringatan Eks Petinggi WHO Soal Pandemi Global Berikutnya

Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, Dr. Robert Redfield, memperingatkan pada Februari 2025 bahwa flu burung (H5N1) memiliki potensi menjadi "pandemi besar" berikutnya, dengan menyatakan bahwa pandemi COVID-19 adalah "pandemi minor" bila dibandingkan. Pernyataan ini muncul di tengah penyebaran global virus H5N1 yang belum pernah terjadi sebelumnya pada populasi hewan dan kekhawatiran yang meningkat dari para ahli kesehatan masyarakat mengenai kemungkinan mutasi virus yang memicu penularan antarmanusia yang efisien.

Sejak awal tahun 2020, varian H5N1 dari garis keturunan goose/Guangdong telah menyebabkan kematian massal pada burung liar dan unggas di berbagai benua, termasuk Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, Tengah, dan Selatan. Virus ini telah meluas ke 48 spesies mamalia yang berbeda, termasuk anjing laut, kucing, dan sapi perah. Di Amerika Serikat saja, sejak April 2024, H5N1 telah menginfeksi hampir 70 orang, menyebabkan setidaknya satu kematian. Data terbaru hingga Agustus 2025 menunjukkan 26 infeksi H5N1 pada manusia secara global. Meskipun risiko kesehatan masyarakat umum saat ini dianggap rendah karena belum ada penularan antarmanusia yang berkelanjutan, tinjauan pada Oktober 2025 mengungkapkan adanya infeksi H5N1 asimtomatik pada manusia dan kemungkinan penularan dari orang ke orang dalam beberapa situasi. Dr. Redfield menekankan tingginya tingkat kematian H5N1 pada kasus manusia, sekitar 50%, yang jauh melampaui tingkat kematian COVID-19.

Kekhawatiran akan "super flu" diperkuat oleh kemampuan virus influenza untuk berevolusi dan bermutasi dengan cepat. Strain influenza A(H3N2) subclade K, yang dijuluki "super flu" oleh beberapa pejabat kesehatan seperti mantan Direktur Layanan Kesehatan Belize Dr. Marvin Manzanero, menunjukkan tiga mutasi yang memungkinkan penularan lebih cepat dan menghindari kekebalan sebelumnya. Fenomena reassortment genetik, di mana dua atau lebih virus influenza menginfeksi sel yang sama dan bertukar materi genetik untuk menciptakan strain baru, menjadi perhatian utama. Sejarah mencatat bahwa pandemi influenza 2009 (H1N1) dipicu oleh reassortment antara flu manusia dan babi. Jika H5N1 melakukan reassortment dengan virus flu manusia, hal itu dapat menghasilkan "super flu" yang tidak hanya sangat patogen tetapi juga mampu menyebar dengan mudah di antara manusia.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, berulang kali menegaskan bahwa pandemi berikutnya adalah "kepastian epidemiologis," bukan "risiko teoretis" atau "masalah jika, tetapi kapan." Ia menyoroti tren global penurunan kesiapsiagaan pandemi pasca-COVID-19 meskipun pandemi tersebut menewaskan setidaknya tujuh juta orang, dengan perkiraan WHO lebih dari 20 juta, dan merugikan ekonomi global lebih dari $10 triliun.

Mengingat sejarah pandemi influenza yang menghancurkan, seperti Flu Spanyol 1918 yang menewaskan 20 hingga 50 juta orang, ancaman ini memerlukan respons terkoordinasi. WHO meluncurkan Strategi Influenza Global 2019-2030 untuk memperkuat kesiapsiagaan pandemi, mengendalikan penyebaran influenza zoonosis, dan meningkatkan pencegahan flu musiman. Strategi ini menekankan pembangunan kapasitas negara dalam pengawasan dan respons penyakit, serta pengembangan alat yang lebih baik seperti vaksin, antivirus, dan perawatan. Namun, pada tahun 2011, sebuah komite WHO menyimpulkan bahwa dunia "tidak siap" untuk pandemi influenza parah, penilaian yang baru-baru ini diulangi oleh para ahli bahaya infeksi.

Situasi saat ini diperparah oleh tanggapan yang terfragmentasi di negara-negara seperti Amerika Serikat, di mana langkah-langkah biosekuriti di peternakan seringkali tidak memadai dan pengawasan bervariasi antar negara bagian, mempersulit penilaian penyebaran H5N1 yang sebenarnya. Para ahli, termasuk Dr. Nicole Lurie dari Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) dan Rick Bright, telah menyerukan tindakan global yang mendesak untuk mengisi kesenjangan dalam pengembangan dan pengiriman vaksin pelindung baru. Dr. Jeremy Rossman, dosen senior kehormatan dalam virologi di University of Kent, memperingatkan bahwa tingkat sirkulasi yang tinggi antarspesies meningkatkan kemungkinan virus berevolusi menjadi strain dengan penularan dan tingkat kematian yang tinggi. Para ahli menyerukan peningkatan pengawasan, transparansi, vaksinasi, dan urgensi dalam upaya global untuk mencegah pandemi influenza berikutnya.