Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BRIN Ungkap Bahaya Air Sinkhole Sumbar yang Viral Dipercaya Sakti

2026-01-18 | 20:21 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T13:21:28Z
Ruang Iklan

BRIN Ungkap Bahaya Air Sinkhole Sumbar yang Viral Dipercaya Sakti

Sebuah sinkhole raksasa yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada awal Januari 2026 telah menarik perhatian luas masyarakat, dengan sejumlah warga bahkan meyakini air jernih kebiruan di dalamnya memiliki khasiat penyembuhan. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pemerintah daerah setempat dengan tegas membantah klaim tersebut dan memperingatkan bahaya kesehatan serius akibat kontaminasi bakteri dan logam berat pada air tersebut.

Fenomena geologi yang terjadi pada 4 Januari 2026 ini menyebabkan tanah di area persawahan ambles secara tiba-tiba, membentuk lubang berdiameter antara 10 hingga 20 meter dengan kedalaman belasan meter. Meskipun awalnya air yang muncul berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi biru jernih, memicu antusiasme warga untuk mengambilnya dengan galon dan botol, keyakinan akan "air ajaib" ini telah dibantah keras oleh pihak berwenang.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa air di dasar sinkhole tersebut sangat berisiko tercemar dan tidak layak konsumsi. Analisis awal menunjukkan adanya kandungan bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) yang sangat tinggi, serta potensi logam berat. "Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan," kata Adrin Tohari pada Jumat, 16 Januari 2026. Kontaminasi E. coli diketahui dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare dan masalah kesehatan serius lainnya jika air dikonsumsi tanpa pengolahan yang aman.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, juga telah menegaskan bahwa klaim khasiat penyembuhan air sinkhole adalah kabar bohong. Berdasarkan hasil kajian Dinas Kesehatan, air tersebut memiliki pH di bawah 6,5, mengindikasikan keasaman, dan terbukti tercemar bakteri E. coli. Vasko mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi air tersebut secara langsung dan mengingatkan bahwa fenomena ini adalah proses alam biasa, bukan sesuatu yang berunsur mistis atau memiliki manfaat kesehatan.

Secara ilmiah, sinkhole merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di wilayah karst atau kawasan batugamping (limestone), seperti yang banyak ditemukan di Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros di Indonesia. Adrin Tohari menjelaskan, proses pembentukan sinkhole dimulai ketika air hujan yang sedikit asam (karena menyerap karbon dioksida) meresap ke dalam tanah dan secara perlahan melarutkan batugamping di bawah permukaan, menciptakan rekahan dan rongga. Seiring waktu, rongga-rongga ini membesar dan melemahkan lapisan tanah penutup di atasnya. Keruntuhan tiba-tiba terjadi saat lapisan penutup tidak mampu lagi menahan beban di atasnya, seringkali dipicu oleh hujan lebat. Kejernihan air di sinkhole sendiri seringkali menipu, sebab batugamping cenderung berfungsi sebagai penyaring alami, namun hal ini tidak menjamin air tersebut bebas dari kontaminan mikrobiologis atau logam berat.

Kemunculan sinkhole di Nagari Situjuah Batua ini juga menjadi peringatan akan potensi bahaya geologi bagi permukiman di sekitarnya yang berdiri di atas lapisan batugamping. BRIN menyarankan penerapan teknologi geoteknik seperti cement grouting untuk menstabilkan tanah di kawasan rawan bencana tersebut dan menekankan pentingnya survei geofisika seperti metode gayaberat, georadar, dan geolistrik untuk mendeteksi keberadaan rongga bawah tanah lebih dini. Pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota, telah memasang garis pembatas di sekitar area sinkhole untuk mencegah risiko kecelakaan dan mengamankan masyarakat. Edukasi publik yang berkelanjutan dan kajian teknis mendalam dari tim geologi di lapangan sangat krusial untuk mencegah insiden lebih lanjut dan mengatasi misinformasi di masyarakat terkait fenomena alam ini.