
Seorang pria Taiwan berusia 50-an tahun, yang sebelumnya dikenal memiliki gaya hidup sehat dan aktif, didiagnosis dengan penyakit ginjal stadium akhir setelah bertahun-tahun mengonsumsi kopi yang diseduh dari biji kopi berjamur. Kasus ini, yang dibagikan oleh nefrolog Hung Yung-hsiang dari sebuah rumah sakit di Taipei pada 4 Januari, menyoroti bahaya tersembunyi mikotoksin, khususnya okratoksin A, yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal progresif meskipun tidak ada riwayat diabetes atau hipertensi.
Pria tersebut mencari perawatan medis setelah pingsan saat berlari pagi, di mana tes menunjukkan laju filtrasi glomerulus (eGFR) diperkirakan di bawah 10, sebuah indikator gagal ginjal parah. Dokter menemukan bahwa pasien secara teratur membeli biji kopi dalam jumlah besar dengan harga diskon dan menyimpannya di lemari dapur untuk waktu yang lama. Ia terus menggiling dan menyeduh biji kopi tersebut meskipun warnanya telah berubah dan muncul jamur, meyakini bahwa menyeduh dengan air mendidih pada suhu 100 derajat Celcius akan menghilangkan bakteri dan jamur berbahaya.
Keyakinan ini terbukti fatal. Okratoksin A (OTA), mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur seperti Aspergillus ochraceus dan Penicillium verrucosum, dikenal sangat tahan panas. Menurut Dr. Hung, toksin ini baru terurai pada suhu di atas 280 derajat Celcius, jauh melampaui suhu penyeduhan kopi biasa. Konsumsi kopi yang terkontaminasi jamur secara terus-menerus menyebabkan penumpukan toksin yang secara bertahap merusak ginjal pasien.
Sebelum kolaps, pria itu mengalami gejala seperti urin berbusa persisten dan pembengkakan pergelangan kaki, yang ia salah artikan sebagai efek dari aktivitas fisik intensif. Dr. Hung menggambarkan okratoksin sebagai "bom waktu" bagi kesehatan, menjelaskan bahwa tidak seperti toksin yang menyebabkan keracunan makanan akut dan dibersihkan dalam beberapa hari, okratoksin tetap berada dalam tubuh selama 35 hingga 50 hari. Toksin ini merusak ginjal dengan memicu peradangan, kematian sel, mengganggu metabolisme tubulus, dan menyebabkan fibrosis kronis pada jaringan ginjal. Dr. Hung menganalogikan paparan okratoksin seperti "menuangkan semen ke dalam sistem penyaringan air," yang secara permanen menyumbat dan merusak membran penyaring ginjal.
Kasus ini menggarisbawahi tantangan kesehatan masyarakat yang lebih luas di Taiwan, sebuah negara yang memiliki salah satu tingkat insiden dan prevalensi penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) tertinggi di dunia. Tingkat prevalensi penyakit ginjal kronis (CKD) nasional diperkirakan mencapai 10,0%, memengaruhi sekitar 1,91 juta orang dewasa. Namun, kesadaran akan kondisi ini sangat rendah, dengan hanya sekitar 8% pasien CKD yang mengetahui status penyakit ginjal mereka.
Kontaminasi okratoksin A pada biji kopi adalah masalah global yang terdokumentasi dengan baik. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis global menemukan prevalensi OTA pada kopi mencapai 53,0%, dengan konsentrasi rata-rata 3,21 µg/kg. Tingkat OTA dalam biji kopi hijau berkisar antara 0,5 hingga 48 nanogram per gram (ng/g). Kontaminasi cenderung lebih tinggi di wilayah dengan iklim hangat dan lembap serta praktik pengeringan dan penyimpanan yang tidak memadai. Biji kopi yang diproses secara kering (natural) juga cenderung mempertahankan lebih banyak OTA dibandingkan dengan yang diproses secara basah (washed).
Pemerintah Taiwan, melalui Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) dan Administrasi Makanan dan Obat-obatan Taiwan (TFDA), telah berupaya memperkuat kebijakan keamanan pangan. "Undang-Undang Tata Kelola Keamanan dan Sanitasi Pangan" (FSSA) adalah kerangka hukum utama. Upaya ini mencakup penguatan manajemen kontrol sumber, sistem manajemen produksi makanan, dan kemampuan inspeksi pasar, serta harmonisasi peraturan dengan norma internasional. Meskipun ada standar kebersihan umum untuk kontaminan dan toksin dalam makanan, kasus ini menyoroti perlunya peningkatan kesadaran publik tentang risiko spesifik mikotoksin dan praktik penyimpanan makanan yang aman.
Para ahli mendesak masyarakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang menunjukkan tanda-tanda jamur, terutama dalam kondisi panas dan lembap di atas 25 derajat Celcius dan kelembapan di atas 18,5%, yang merupakan kondisi ideal bagi pertumbuhan jamur. Keengganan untuk membuang makanan yang rusak dapat mengorbankan kesehatan jangka panjang. Insiden seperti ini berfungsi sebagai pengingat kritis akan pentingnya penanganan makanan yang tepat dan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap keamanan mikotoksin dalam rantai pasokan makanan.