:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481032/original/020409200_1769074145-000_93J42D4.jpg)
Pangeran Harry, Duke of Sussex, pada 21 Januari 2026 bersaksi di Pengadilan Tinggi London dalam gugatan hukumnya terhadap Associated Newspapers Limited (ANL), penerbit Daily Mail dan Mail on Sunday, di mana ia menyebut nama kakaknya, Pangeran William, dan iparnya, Kate Middleton, sebagai bagian dari lingkaran dekatnya yang berpotensi menjadi target praktik pengumpulan informasi ilegal. Kesaksiannya, yang berlangsung selama sekitar dua setengah jam, merupakan bagian dari klaim yang menuduh ANL melakukan peretasan telepon dan metode ilegal lainnya untuk memperoleh cerita pribadi antara tahun 2001 dan 2013.
Dalam pernyataan saksinya, Pangeran Harry mengidentifikasi Pangeran William, Yang Mulia Pangeran Wales, sebagai salah satu dari sepuluh kontak yang ia ajak berkomunikasi secara teratur selama periode yang relevan. Harry menyatakan, "Sebagai saudara, kami secara alami membahas aspek-aspek pribadi kehidupan kami karena kami saling mempercayai dengan informasi yang sangat sensitif yang kami bagikan tentang kehidupan pribadi, keluarga, dan profesional kami." Kate Middleton juga masuk dalam daftar tersebut, bersama dengan Raja Charles dan mantan kekasih Harry, Chelsy Davy, menyoroti tingkat kepercayaan dan kedekatan yang diyakini Harry telah dieksploitasi oleh media tabloid. Pengungkapan ini merupakan inti dari argumentasinya bahwa informasi pribadi dari lingkaran terdekatnya rentan terhadap praktik pengumpulan data yang melanggar hukum, bukan didapatkan dari sumber-sumber yang sah.
Persidangan terbaru ini menandai kembalinya Pangeran Harry ke Inggris, meskipun tanpa rencana pertemuan dengan anggota keluarga kerajaan lainnya. Pada hari yang sama dengan kesaksiannya, Pangeran William dan Kate Middleton diketahui sedang menjalankan tugas kerajaan di Skotlandia, sebuah langkah yang menyoroti jarak yang terus ada antara Duke of Sussex dan The Firm. Sejak mundur sebagai anggota senior kerajaan pada tahun 2020 dan pindah ke Amerika Serikat, hubungan Pangeran Harry dengan keluarganya telah menjadi subjek pengawasan publik yang intens.
Sepanjang kesaksiannya, Pangeran Harry secara emosional membahas dampak luas dari dugaan praktik ilegal tersebut terhadap kehidupannya dan kehidupan orang-orang terdekatnya, khususnya istrinya, Meghan Markle. Dengan suara yang bergetar, ia menyatakan bahwa tabloid telah "membuat hidup istri saya benar-benar sengsara, Yang Mulia." Ia juga menjelaskan bahwa kebijakan kerajaan "jangan pernah mengeluh, jangan pernah menjelaskan" telah "mengondisikannya untuk menerima" perlakuan pers, mencegahnya untuk mengambil tindakan hukum lebih awal. Pernyataan ini memberikan konteks historis yang mendalam mengenai mengapa ia memilih jalur litigasi yang agresif, terlepas dari ketegangan yang ditimbulkannya dalam hubungan keluarga.
Para ahli hukum menyoroti signifikansi kasus ini sebagai upaya berkelanjutan untuk meminta pertanggungjawaban media dan menetapkan preseden yang lebih kuat untuk hak privasi bagi tokoh masyarakat. Seorang pakar hukum menyatakan bahwa kasus ini bukan hanya tentang Pangeran Harry mencari keadilan pribadi, tetapi juga "mengirim pesan kepada organisasi media mengenai perlakuan mereka terhadap figur publik dan tanggung jawab mereka untuk menghormati privasi individu." Namun, analis kerajaan seperti Russell Myers dari Mirror mencatat bahwa keluarga kerajaan cenderung mempertahankan sikap "bisnis seperti biasa" untuk melewati gejolak semacam itu, sebuah strategi yang telah bertahan selama beberapa generasi. Implikasi jangka panjang dari kesaksian Pangeran Harry, terutama mengenai kerentanan informasi pribadi dalam lingkaran kerajaan, dapat membentuk kembali perdebatan tentang etika media dan privasi di era modern, sekaligus memperumit dinamika hubungan internal monarki. Meskipun Harry mungkin melihat ini sebagai misi pribadi untuk "meminta pertanggungjawaban media," ketidakhadiran komunikasi langsung dengan anggota keluarga inti selama kunjungannya menggarisbawahi adanya keretakan yang belum tertutup.