:strip_icc()/kly-media-production/medias/5464408/original/044607400_1767688704-Dolorosa_Sinaga._Solidarity._2000_2025._Bronze__Open_edition__78.5____96.5____20_cm__base__5.5____106____32.5_cm._Collection_of_National_Gallery_Singapore.____Dolorosa_Sinaga.jpg)
Galeri Nasional Singapura pada 9 Januari 2026 membuka pameran "Fear No Power: Women Imagining Otherwise", sebuah eksplorasi mendalam terhadap karya lima perupa perempuan terkemuka Asia Tenggara, dengan karya pematung Indonesia Dolorosa Sinaga menjadi inspirasi sentral untuk judul pameran tersebut. Pameran yang berlangsung hingga 15 November 2026 di Ngee Ann Kongsi Concourse Gallery ini menghadirkan lebih dari 45 karya seni utama dan 110 materi arsip langka, banyak di antaranya dipamerkan untuk pertama kalinya di Singapura.
Dolorosa Sinaga, bersama dengan Amanda Heng (Singapura), Imelda Cajipe-Endaya (Filipina), Nirmala Dutt (Malaysia), dan Phaptawan Suwannakudt (Thailand), diakui atas praktik artistik mereka yang telah membentuk kembali norma seni dan sosial di kawasan ini. Judul pameran, "Fear No Power," diambil dari patung ikonik Dolorosa Sinaga tahun 2003, yang merayakan keberanian para seniman ini dalam perjalanan artistik mereka dan mengingatkan bahwa 'kekuasaan' tidak hanya merujuk pada aspek politik dan otoriter, tetapi juga pada kekuatan batin, kapasitas untuk perlawanan, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Sebagai salah satu pematung paling penting di Indonesia dan advokat terkemuka hak asasi manusia, Dolorosa Sinaga dikenal melalui patung-patung figuratifnya yang menyoroti sejarah yang tidak diakui, perjuangan bersama, dan ketahanan kolektif, dengan perempuan sering kali diposisikan sebagai pusat perlawanan dan solidaritas. Karyanya secara konsisten menggabungkan seni dan aktivisme, berevolusi seiring dengan karirnya sebagai aktivis sosial yang sangat terpengaruh oleh perubahan sosial-budaya di Indonesia selama tujuh dekade terakhir. Lulusan Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977 dan melanjutkan studi di St. Martin's School of Art di London, ia telah menjadi pionir di antara seniman Indonesia dalam menggunakan seni untuk perubahan sosial dan menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejaknya. Salah satu seri patungnya yang paling terkenal, "Solidarity," merupakan penghormatan bagi perempuan yang mengalami ketidakadilan dan penindasan karena gender mereka di masyarakat patriarkal.
Kurator Alexander Supartono menggambarkan Dolorosa sebagai seniman yang memiliki pemahaman terbaik tentang anatomi figuratif di antara pematung Indonesia. Dalam konteks pameran "Fear No Power," Direktur Kuratorial & Koleksi Galeri Nasional Singapura, Horikawa Lisa, menyatakan bahwa di seluruh Asia Tenggara, seniman telah menggunakan kekuasaan melalui seni yang berakar pada pengalaman hidup. Pameran ini menggarisbawahi bagaimana perempuan telah lama menggunakan praktik artistik untuk menanggapi realitas sosial dan politik, serta untuk membayangkan cara hidup dan bekerja yang berbeda.
Pameran ini terbagi dalam tiga zona yang saling berhubungan, melacak bagaimana praktik para seniman bergerak antara pengalaman pribadi, perlawanan, dan tindakan kolektif. Zona pertama, "Where the Body Thinks, Worlds Open", dimulai dengan karya-karya yang berakar pada pengalaman hidup, merefleksikan tubuh, memori, ruang domestik, dan warisan artistik saat para seniman ini menavigasi ekspektasi gender. Zona kedua, "Refusal and Hope", menguji bagaimana perspektif pribadi ini menginformasikan tanggapan para seniman terhadap isu-isu politik, lingkungan, dan sosial yang lebih luas. Pameran diakhiri dengan "Imagining Otherwise", yang menyoroti bagaimana karya dan komitmen para seniman ini melampaui pembuatan seni individu, membangun kolektif, mempertahankan tradisi, dan menciptakan ruang untuk dialog, dukungan, serta solidaritas.
Kehadiran karya Dolorosa Sinaga dalam pameran penting di institusi seni regional seperti Galeri Nasional Singapura menegaskan pengakuan internasional terhadap kontribusi seni rupa Indonesia, khususnya dari perspektif perempuan. Ini juga mendorong dialog lintas batas mengenai isu-isu kemanusiaan, hak asasi, dan peran seni sebagai katalisator perubahan sosial di Asia Tenggara. Pameran ini diharapkan dapat memperkuat posisi seniman perempuan dalam wacana seni kontemporer global dan menginspirasi generasi baru seniman untuk menggunakan platform mereka dalam menyuarakan keadilan dan kemanusiaan.