:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474556/original/029936900_1768484908-Gemini_Generated_Image_l8ligvl8ligvl8li.png)
Popularitas jukut goreng sebagai hidangan pendamping atau camilan renyah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, menghadapi tantangan signifikan dalam mempertahankan kerenyahan teksturnya pascapenggorengan. Para profesional kuliner, didorong oleh peningkatan konsumsi gorengan di mana Badan Pusat Statistik mencatat 51,7% penduduk Indonesia usia 6 tahun ke atas mengonsumsi gorengan 1-6 kali seminggu pada tahun 2023, telah mengembangkan serangkaian trik dan teknik spesifik untuk memastikan jukut goreng tetap krispi tahan lama, menanggapi ekspektasi konsumen dan dinamika pasar.
Secara historis, gorengan, termasuk jukut goreng yang umumnya terbuat dari selada air atau kangkung, telah menjadi bagian integral dari kuliner Nusantara, mudah ditemukan dari pedagang kaki lima hingga restoran modern. Fenomena ini, yang kian menguat sejak melimpahnya minyak goreng dan tepung terigu di tahun 1970-an, menuntut inovasi dalam teknik pengolahan demi memenuhi standar kualitas yang semakin tinggi.
Teknik profesional untuk mencapai kerenyahan maksimal dan tahan lama dimulai dari komposisi adonan. Chef dan ahli kuliner merekomendasikan kombinasi tepung terigu dengan tepung lain seperti tepung beras, tapioka, atau maizena. "Untuk mendapatkan kerenyahan yang pas, tidak cukup menggunakan satu jenis tepung," ujar Head Chef Lucy in The Sky SPARK, Hendro Setio, yang menyarankan penggunaan tiga jenis tepung: terigu, tepung maizena, dan sagu tani, dengan persentase terigu paling banyak. Perbandingan umum lainnya mencakup 200 gram tepung terigu, 50 gram tepung beras, dan 25 gram tepung tapioka untuk adonan yang lebih renyah dan tidak cepat lembek. Penambahan bahan pengembang seperti baking powder atau baking soda juga krusial karena membuat adonan lebih ringan dan renyah. Selain itu, penggunaan air es atau air dingin saat mencampur adonan berperan penting dalam menciptakan tekstur yang lebih keras dan renyah karena perbedaan suhu saat digoreng, sekaligus membantu mencegah adonan menyerap minyak berlebihan.
Persiapan bahan baku juga tidak luput dari perhatian. Pemilihan sayuran segar dengan daun hijau cerah dan batang kokoh merupakan kunci utama. Sayuran harus ditiriskan hingga benar-benar kering sebelum dicampur adonan untuk menghindari hasil yang lembek.
Aspek krusial lainnya terletak pada teknik penggorengan. Metode deep frying, di mana bahan terendam sepenuhnya dalam minyak, memastikan kematangan merata dan kerenyahan optimal. Suhu minyak harus ideal, berkisar antara 160 hingga 180 derajat Celsius (320-356 derajat Fahrenheit). Minyak yang terlalu dingin akan menyebabkan gorengan menyerap banyak minyak dan menjadi lembek, sementara minyak yang terlalu panas akan membuat bagian luar gosong sebelum matang sempurna. Penggunaan minyak dengan titik asap tinggi seperti minyak kanola atau minyak kacang tanah juga disarankan untuk hasil yang lebih renyah. Teknik menggoreng dua kali (double frying) sering diterapkan para profesional. Penggorengan pertama pada suhu lebih rendah untuk mematangkan bagian dalam, diikuti dengan penggorengan kedua pada suhu lebih tinggi untuk menciptakan lapisan luar yang super garing dan berwarna keemasan. Selain itu, penggorengan dalam porsi kecil mencegah penurunan drastis suhu minyak.
Pascapenggorengan, proses penirisan juga menentukan. Jukut goreng harus segera diangkat dan ditiriskan di atas rak kawat atau kertas penyerap minyak untuk menghilangkan kelebihan minyak. Menumpuk gorengan saat masih panas harus dihindari karena uap panas yang terperangkap dapat mengurangi kerenyahan.
Implikasi dari penerapan trik profesional ini melampaui sekadar kenikmatan. Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan penjualan gorengan, teknik ini dapat meningkatkan kualitas produk, memperpanjang masa simpan, dan berpotensi meningkatkan omzet. Pedagang gorengan seperti Iwan, dengan omzet harian mencapai Rp 1.300.000 hingga Rp 1.400.000, menunjukkan signifikansi ekonomi dari industri ini. Namun, di sisi lain, peningkatan konsumsi gorengan memunculkan kekhawatiran kesehatan. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 37,4% penduduk Indonesia mengonsumsi makanan berlemak/berkolesterol/gorengan setidaknya sekali setiap hari pada tahun 2023. Prof. Katrin Rosita, Guru Besar Ilmu Gizi IPB, memperingatkan bahwa konsumsi berlebihan, bahkan sekitar dua potong gorengan ukuran standar per hari (114 gram), dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, obesitas, hingga kanker akibat kandungan lemak trans dan kolesterol tinggi. Oleh karena itu, inovasi dalam teknik penggorengan profesional ini juga harus diimbangi dengan edukasi konsumen mengenai konsumsi yang bijak.