Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

10 Destinasi Halal Asia Paling Menjanjikan 2026: Ungkap Kejutan Tak Terduga

2026-01-16 | 08:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T01:17:35Z
Ruang Iklan

10 Destinasi Halal Asia Paling Menjanjikan 2026: Ungkap Kejutan Tak Terduga

Sektor pariwisata ramah Muslim di Asia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan pengeluaran dan permintaan dari populasi Muslim global yang terus bertambah, dengan beberapa destinasi yang sebelumnya kurang dikenal kini tampil sebagai pemain utama dalam lanskap perjalanan halal. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa ekonomi Muslim global pada tahun 2024 mencapai sekitar $2,6 triliun, dengan pariwisata menjadi salah satu segmen yang berkembang paling pesat. Pergeseran ini menyoroti investasi strategis dan pengembangan infrastruktur di kota-kota yang berupaya menarik segmen pasar yang menguntungkan ini, menawarkan pengalaman yang melampaui destinasi tradisional.

Pertumbuhan pariwisata ramah Muslim bukan fenomena baru; ia telah berkembang pesat selama dekade terakhir, didorong oleh peningkatan pendapatan di negara-negara mayoritas Muslim dan kesadaran yang lebih tinggi akan kebutuhan khusus wisatawan Muslim, seperti akses mudah ke makanan halal, fasilitas salat, dan akomodasi yang menghormati nilai-nilai Islam. Namun, yang membedakan tren tahun 2026 adalah kemunculan kota-kota yang sebelumnya tidak terlalu menonjol dalam peta pariwisata halal, yang kini secara aktif memposisikan diri untuk melayani segmen ini. Inisiatif pemerintah dan swasta dalam mengembangkan ekosistem ramah Muslim, mulai dari sertifikasi halal untuk restoran dan hotel hingga promosi destinasi yang kaya akan warisan Islam, menjadi kunci dalam transformasi ini. Dr. Fazal Bahardeen, CEO CrescentRating dan HalalTrip, sering menekankan bahwa "Wisatawan Muslim mencari pengalaman otentik yang sejalan dengan nilai-nilai mereka, bukan hanya tempat dengan makanan halal. Mereka mencari destinasi yang memahami dan memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka secara holistik.".

Salah satu destinasi yang menunjukkan potensi besar adalah Daegu, Korea Selatan. Kota ini, yang dikenal dengan pegunungan yang indah dan warisan tekstilnya, telah secara proaktif berinvestasi dalam infrastruktur ramah Muslim. Jumlah restoran bersertifikat halal dan restoran ramah Muslim di Daegu meningkat lebih dari 30% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan inisiatif pemerintah daerah untuk melatih penyedia layanan pariwisata mengenai kebutuhan dan kebiasaan wisatawan Muslim. Pusat komunitas Muslim yang berkembang pesat dan masjid-masjid yang mudah diakses juga berkontribusi pada daya tariknya, menjadikannya pilihan yang menarik bagi mereka yang mencari pengalaman Korea otentik namun tetap nyaman secara Islami. Implikasinya adalah diversifikasi pasar pariwisata Korea Selatan, yang secara historis didominasi oleh wisatawan dari Tiongkok dan Jepang, kini merambah ke pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Selanjutnya, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, juga muncul sebagai tujuan yang tak terduga. Meskipun Vietnam adalah negara dengan mayoritas non-Muslim, kota metropolitan selatan ini telah menyaksikan lonjakan jumlah restoran halal dan akomodasi yang berorientasi pada wisatawan Muslim, terutama di Distrik 1 dan area sekitar Masjid Jami' Anwar. Data dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam menunjukkan peningkatan jumlah wisatawan dari negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebesar 15% setiap tahunnya sejak 2023. Peningkatan konektivitas udara langsung dari kota-kota besar di Malaysia dan Indonesia juga mempermudah akses bagi segmen pasar ini. Inisiatif untuk memasukkan panduan perjalanan ramah Muslim dalam materi promosi pariwisata nasional menunjukkan komitmen Vietnam untuk memanfaatkan potensi ini.

Penang, Malaysia, meskipun sudah dikenal sebagai destinasi populer, kini mengalami kebangkitan sebagai pusat wisata halal yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan warisan budaya yang kaya dan status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Penang melampaui citranya sebagai surga makanan dengan memperkenalkan pengalaman ramah Muslim yang lebih mendalam, termasuk tur sejarah Islam, butik fesyen Muslim lokal, dan layanan kesehatan yang sensitif terhadap Muslim. "Penang selalu menjadi persimpangan budaya, dan kami memperkuat aspek ramah Muslim kami untuk menawarkan pengalaman yang lebih kaya, bukan hanya makanan halal," kata seorang pejabat dari Tourism Penang baru-baru ini. Pengembangan ini menunjukkan bahwa bahkan destinasi yang sudah mapan terus berinovasi untuk mempertahankan dan menarik wisatawan Muslim yang semakin cerdas.

Perkembangan ini mencerminkan tren yang lebih luas di mana negara-negara Asia, baik mayoritas Muslim maupun non-Muslim, menyadari nilai ekonomi dari pasar pariwisata halal. Investasi dalam infrastruktur, pelatihan sumber daya manusia, dan pemasaran yang ditargetkan diperkirakan akan terus berlanjut, membentuk kembali lanskap pariwisata Asia dan menawarkan beragam pilihan bagi wisatawan Muslim global di tahun-tahun mendatang. Transformasi ini juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi lokal yang substansial, mulai dari sektor perhotelan hingga industri makanan dan minuman.