:strip_icc()/kly-media-production/medias/1001705/original/022994500_1443327434-20150927-RUN-and-FUN-Walk-Jakarta4.jpg)
Jakarta – Rekomendasi berlari bagi individu dengan obesitas, yang sering digaungkan sebagai solusi cepat penurunan berat badan, justru dapat menimbulkan serangkaian masalah kesehatan baru yang serius. Para ahli ortopedi dan kedokteran olahraga memperingatkan bahwa aktivitas fisik berdampak tinggi seperti lari, tanpa pertimbangan kondisi fisik dan berat badan, berisiko tinggi menyebabkan cedera sendi permanen, memperburuk kondisi kardiovaskular, hingga memicu tekanan psikologis.
Tekanan berlebihan pada sendi menjadi inti permasalahan. Saat seseorang dengan berat 100 kilogram berlari, lututnya menahan beban hingga 300 kilogram atau bahkan 3-5 kali berat badannya sendiri. Beban ganda ini meningkatkan risiko kerusakan tulang rawan, ligamen, dan meniskus, yang dapat memicu osteoarthritis. Ahli Ortopedi Konsultan Sport Medicine, dr. Andre Pontoh, SpOT(K), dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), menegaskan bahwa lari tidak dianjurkan bagi penderita obesitas karena dapat meningkatkan risiko osteoarthritis. Studi sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa individu dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas rata-rata memiliki peningkatan risiko osteoarthritis hingga 7% dengan berlari. Dokter Umum IGD RSIA Galeri Chandra Malang, dr. Syariffiyana Mawaddah, juga menyatakan bahwa tekanan berulang pada lutut dapat menyebabkan iritasi dan peradangan jaringan di sekitar sendi lutut, yang berujung pada radang sendi atau osteoarthritis jika berlangsung lama.
Di luar cedera muskuloskeletal, lari juga membebani sistem kardiovaskular. Individu dengan obesitas seringkali memiliki kondisi jantung dan pembuluh darah yang lebih rentan. Aktivitas lari yang intens dapat menyebabkan kelelahan berlebihan, sesak napas, detak jantung tidak stabil, bahkan risiko serangan jantung, terutama jika sistem kardiovaskular belum siap. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa obesitas menyumbang jutaan kematian setiap tahun dan menjadi faktor risiko utama penyakit kronis, termasuk penyakit jantung dan pembuluh darah.
Melihat risiko yang signifikan, para ahli merekomendasikan pendekatan yang lebih hati-hati dan terstruktur. Latihan fisik low-impact menjadi pilihan utama bagi penderita obesitas. Jenis olahraga seperti jalan kaki, berenang atau berjalan di air (aqua jogging/aerobik air), bersepeda (biasa atau statis), tai chi, dan latihan kekuatan (strength training) lebih disarankan. Berenang, misalnya, sangat dianjurkan karena air menopang sebagian besar berat tubuh, mengurangi tekanan pada sendi sambil memberikan latihan seluruh tubuh. Jalan kaki juga merupakan permulaan yang mudah dan murah, bahkan Kementerian Kesehatan menyarankan berjalan minimal 10 ribu langkah per hari untuk membakar lebih banyak kalori.
Pentingnya konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum memulai program olahraga juga ditekankan. Evaluasi status kesehatan, komorbiditas, dan kapasitas fungsional secara keseluruhan diperlukan untuk menentukan intensitas, durasi, dan jenis latihan yang aman dan efektif. Pendekatan multidisiplin yang menggabungkan modifikasi diet, pengurangan perilaku sedenter, dan latihan fisik yang sesuai akan lebih berhasil dalam penanganan obesitas. Kurangnya aktivitas fisik terbukti berbahaya, bahkan studi dari Universitas Cambridge menemukan bahwa tidak berolahraga sama sekali dua kali lebih berbahaya daripada obesitas, dengan jalan cepat 20 menit per hari dapat mengurangi risiko kematian dini 16-30%. Namun, hal ini harus dilakukan dengan strategi yang tepat untuk menghindari menambah masalah baru yang justru menghambat tujuan kesehatan jangka panjang.