
Turnamen Padel for Philanthropy sukses digelar pada Sabtu, 17 Januari 2026, di Let's Go Padel, Sunter, Jakarta Utara, menggalang dana signifikan untuk mendukung peningkatan literasi anak dan kualitas pendidikan guru di Indonesia. Inisiatif ini digagas oleh para siswa kelas 10 dan 11 dari ACS Jakarta serta Jakarta Intercultural School (JIS) melalui program Youth Academy Mycelia (YAM), sebuah program kewirausahaan sosial yang mengadopsi kurikulum University of Pennsylvania (UPenn). Seluruh hasil penggalangan dana dialokasikan untuk Credo Foundation, sebuah organisasi yang berfokus pada pemberantasan buta aksara dan pengembangan kurikulum pengajaran anak-anak, serta akan digunakan untuk mengembangkan asisten pengajar berbasis kecerdasan buatan (AI) guna membantu guru di daerah terpencil.
Penyelenggaraan Padel for Philanthropy menandai titik evolusi olahraga padel di Indonesia, dari sekadar tren gaya hidup menjadi platform filantropi yang efektif. Padel, yang memadukan elemen tenis dan squash, telah mencuri perhatian masyarakat urban Indonesia sejak sekitar tahun 2022, tumbuh pesat di kalangan profesional muda, kreator konten, hingga eksekutif. Dengan sekitar 5.000 hingga 8.000 pemain aktif dan lebih dari 133 lapangan yang tersebar di lebih dari 15 lokasi nasional, Indonesia menduduki peringkat teratas di Asia Tenggara dalam hal fasilitas padel, keenam di Asia, dan ke-29 secara global menurut Federasi Padel Internasional (FIP). Kemudahan aksesibilitas bagi pemula dan karakter permainan berpasangan yang mendorong interaksi sosial menjadi daya tarik utama olahraga ini, menjadikannya sarana ideal untuk menggalang kepedulian sosial.
Ian Tristan Yoncer, salah satu panitia penyelenggara dari kalangan siswa, menjelaskan bahwa dana yang terkumpul akan seluruhnya disumbangkan untuk misi kemanusiaan Credo Foundation. "Jadi, kami sumbang uang untuk Credo Foundation terus uang ini dipakai membantu guru-guru mengajar anak-anak yang masih kurang," ujar Ian. Organisasi tersebut telah memberikan bantuan kepada 46.000 anak di 100 lokasi di Indonesia, sebuah angka yang menunjukkan skala dampak dari program literasi yang berkelanjutan. Ke depannya, Padel for Philanthropy juga bertujuan untuk berinvestasi dalam teknologi pendidikan, melalui pengembangan asisten pengajar AI yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan literasi, khususnya bagi anak-anak di daerah terpencil. Inisiatif ini didukung oleh sejumlah sponsor utama seperti Teh Pucuk dan Impack Pratama, bersama mitra pendukung lainnya.
Peserta turnamen, termasuk Joyce Arta, menyatakan apresiasi terhadap inisiatif para pelajar. "Saya suka karena gamenya sangat fun. Kalau tenis kan gak semua teman suka, karena susah juga. Sementara teman-teman juga banyak yang main padel, jadi jika digunakan untuk acara sosialisasi lebih dapat," ungkap Joyce. Pernyataan ini merefleksikan bagaimana padel, dengan sifatnya yang inklusif dan menyenangkan, berhasil memobilisasi komunitas untuk tujuan yang lebih besar.
Implikasi jangka panjang dari Padel for Philanthropy melampaui penggalangan dana sesaat. Ini menyoroti potensi olahraga sebagai katalisator perubahan sosial, terutama ketika diinisiasi oleh generasi muda. Model kewirausahaan sosial yang diadopsi dari kurikulum University of Pennsylvania memberikan kerangka kerja yang kuat bagi para siswa untuk tidak hanya mengasah keterampilan organisasi, tetapi juga menanamkan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dengan pertumbuhan padel yang eksponensial di Indonesia, inisiatif semacam ini dapat menjadi preseden penting bagi komunitas olahraga lain untuk memanfaatkan popularitas mereka dalam mengatasi masalah sosial. Sementara ada kekhawatiran tentang potensi "bubble" dalam bisnis padel, kolaborasi dengan misi filantropi memberikan dimensi keberlanjutan dan nilai sosial yang dapat memperkuat ekosistem padel secara keseluruhan. Padel for Philanthropy menunjukkan bahwa olahraga, yang kerap dipandang sebagai arena kompetisi, juga dapat menjadi wahana kolaborasi untuk kebaikan bersama.