:strip_icc()/kly-media-production/medias/5298152/original/035667900_1753749426-chuttersnap-mytSmcgVHRE-unsplash.jpg)
Lebih dari 60 penerbangan di seluruh Asia, membentang dari Indonesia hingga Hong Kong, dibatalkan menjelang dan selama periode libur Tahun Baru 2026, menjebak ribuan pelancong dan menyoroti kerentanan infrastruktur penerbangan regional terhadap cuaca ekstrem serta ketegangan geopolitik. Insiden yang tercatat pada Senin, 29 Desember 2025, ini sebagian besar terkonsentrasi pada layanan regional jarak pendek, meskipun beberapa rute jarak jauh ke San Francisco dan Delhi juga terpengaruh. Pembatalan ini, yang disertai penundaan tambahan di berbagai bandara, memicu frustrasi massal di kalangan penumpang, dengan video-video kekecewaan mereka membanjiri media sosial.
Di Indonesia, pembatalan penerbangan memengaruhi rute-rute penting ke dan dari Jakarta, Bali, Surabaya, serta Makassar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan berulang mengenai potensi cuaca buruk yang dapat mengganggu transportasi udara selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) serta gelombang tinggi di sejumlah jalur penerbangan perlu diwaspadai, terutama di sekitar Laut Natuna Selatan, Selat Karimata, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Papua bagian Utara pada Desember 2025, yang diprediksi berlanjut hingga Januari 2026. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, secara spesifik menyebut bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan turbulensi dapat meningkatkan risiko gangguan penerbangan, termasuk keterlambatan, perubahan rute, hingga penundaan lepas landas dan pendaratan. Pola monsun Indonesia dan badai konvektif yang sering terjadi secara rutin menekan jadwal penerbangan, namun episode hujan lebat yang terkait musim yang lebih basah dari biasanya telah memperparah tekanan pada akhir 2025.
Sistem penerbangan Malaysia juga merasakan tekanan signifikan, terutama pada rute domestik yang menghubungkan semenanjung dengan Sabah dan Sarawak, termasuk layanan ke bandara regional seperti Sibu, Limbang, dan Mulu. Hujan monsun dan banjir yang melanda beberapa bagian Asia Tenggara sejak September 2025 telah berdampak pada keandalan operasional maskapai. Di Hong Kong, meskipun peringatan topan sering menyebabkan pembatalan penerbangan massal seperti Topan Ragasa pada September 2025 yang membatalkan ratusan penerbangan, gangguan kali ini terjadi di tengah pembatalan perayaan Tahun Baru 2026 oleh otoritas kota dengan alasan keamanan.
Selain faktor cuaca, ketegangan geopolitik di Asia Timur turut menjadi penyebab signifikan gangguan penerbangan. Konflik yang memanas antara China dan Jepang menyebabkan pembatalan 46 rute penerbangan, memengaruhi 38 bandara di kedua negara, bertepatan dengan libur Tahun Baru China. Maskapai China juga diinstruksikan oleh pemerintahnya untuk mengurangi jumlah penerbangan ke Jepang hingga Maret 2026 menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan. Kebijakan ini, yang telah memicu kerugian pariwisata Jepang hingga miliaran dolar, diperkirakan akan terus berlanjut hingga Tahun Baru Imlek. Di sisi lain, Taiwan melaporkan lebih dari 80 penerbangan domestik dibatalkan dan sekitar 100.000 penumpang internasional berpotensi terdampak akibat latihan militer China di sekitar pulau itu pada akhir Desember 2025.
Di luar gangguan langsung, industri penerbangan di Asia menghadapi tantangan struktural yang lebih dalam. AirNav Indonesia memproyeksikan kenaikan pergerakan pesawat yang konservatif untuk Nataru 2025/2026, sekitar 3,5 persen, karena keterbatasan armada maskapai. Kementerian Perhubungan mencatat 194 dari 560 unit pesawat di Indonesia masih dalam perawatan. Meskipun pemerintah telah menyiapkan 326 pesawat dan menerima permintaan 558 penerbangan tambahan untuk Nataru, serta memberikan diskon tarif tiket domestik, efektivitas langkah-langkah ini terancam oleh isu kapasitas dan kesiapan operasional.
Situasi ini menggarisbawahi bahwa perjalanan udara di Asia semakin menjadi pelajaran kesabaran, di mana aktivitas geologis dan meteorologis yang intensif, ditambah dinamika geopolitik, telah menjadi pertimbangan dasar dalam manajemen risiko perjalanan. Dampak jangka panjang mencakup erosi kepercayaan penumpang, kerugian ekonomi bagi sektor pariwisata, dan tekanan berkelanjutan pada maskapai untuk beradaptasi dengan kondisi operasional yang semakin tidak menentu. Meskipun pemulihan perjalanan pasca-pandemi terus menunjukkan permintaan yang terpendam, tantangan seperti kenaikan biaya operasional, inflasi, dan kerentanan infrastruktur terhadap gangguan eksternal tetap menjadi penghalang signifikan. Perlu ada adaptasi strategis yang berkelanjutan dari maskapai dan otoritas penerbangan untuk memastikan keandalan dan keselamatan di tengah lanskap operasional yang terus berkembang.