Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Performa Optimal Sepatu Lari: Kunci di Balik Jeda Istirahat

2026-01-23 | 23:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T16:57:20Z
Ruang Iklan

Performa Optimal Sepatu Lari: Kunci di Balik Jeda Istirahat

Penggunaan sepatu lari tunggal secara terus-menerus tanpa jeda yang memadai secara signifikan mempersingkat masa pakainya dan meningkatkan risiko cedera pada pelari, menurut penelitian ilmiah terbaru yang menganjurkan praktik rotasi alas kaki. Sebuah studi penting tahun 2015 yang diterbitkan dalam Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports menunjukkan bahwa pelari yang mengrotasi sepatu lari mereka mengalami penurunan risiko cedera sebesar 39%. Strategi ini memanfaatkan sifat pemulihan material busa midsole sepatu dan mendistribusikan beban ke berbagai struktur tubuh pelari, menawarkan keuntungan performa dan ekonomi jangka panjang.

Inti dari sepatu lari modern terletak pada midsole busanya, yang dirancang untuk menyerap guncangan dan mengembalikan energi. Material seperti etilena vinil asetat (EVA), polieter blok amida (PEBA), dan termoplastik poliuretan (TPU) adalah komponen utama yang menentukan bantalan dan daya tanggap sepatu. Namun, tekanan berulang dari setiap langkah lari secara progresif memadatkan sel-sel busa ini, menyebabkan mereka kehilangan kemampuan bantalan dan pantulan awal. Misalnya, busa E-TPU dan EVA + OBC, meskipun pada awalnya menunjukkan pemulihan yang lambat dalam 24 hingga 100 jam pertama, dapat mencapai pemulihan hingga 90% setelah lima hari istirahat. Sebaliknya, busa EVA standar, meskipun tahan lama, cenderung hanya mempertahankan sekitar 70% pemulihannya. Para ahli menyarankan untuk memberi sepatu jeda setidaknya 48 hingga 72 jam, atau bahkan hingga lima hari untuk pemulihan optimal, sebelum menggunakannya kembali, terutama untuk sepatu dengan busa non-standar.

Rotasi sepatu tidak hanya memberikan waktu bagi busa midsole untuk memulihkan diri dari kompresi intens, tetapi juga mengubah pola tekanan yang dialami kaki dan tungkai. Tyler Slayman, MD, seorang dokter kedokteran keluarga dan olahraga di University of Iowa Health Care, menyamakan sepatu lari dengan stik golf, yang berfungsi sebagai alat spesifik untuk tujuan tertentu bagi pelari. Dengan menggunakan sepatu yang berbeda untuk berbagai jenis lari – seperti sepatu yang lebih empuk untuk lari jarak jauh, sepatu responsif untuk lari tempo, atau sepatu minimalis untuk latihan kecepatan – pelari dapat mendistribusikan stres dan beban impak ke otot dan sendi yang berbeda. Ini mencegah kelelahan berlebihan pada area spesifik dan mendorong respons fisik yang lebih seimbang dan adaptif, sehingga mengurangi risiko cedera. Studi menunjukkan bahwa setelah menempuh 500 kilometer, tekanan pada telapak kaki dapat meningkat hingga 100% karena efektivitas bantalan sepatu yang menurun. Kebanyakan sepatu lari standar memiliki umur pakai antara 300 hingga 500 mil (sekitar 500-800 kilometer) sebelum kehilangan 50% kemampuan kompresinya. Dengan merotasi beberapa pasang, umur pakai setiap sepatu dapat diperpanjang, yang pada akhirnya menghemat biaya bagi pelari.

Beyond manfaat langsung bagi pelari, praktik rotasi sepatu juga membawa implikasi yang lebih luas terhadap keberlanjutan lingkungan. Industri alas kaki global sangat besar, memproduksi sekitar 24,2 miliar pasang sepatu setiap tahun. Setiap pasang sepatu lari, dari ekstraksi material hingga pembuangan, diperkirakan menghasilkan 30 pon emisi karbon dioksida. Dengan lebih dari 300 juta pasang sepatu dibuang di Amerika Serikat setiap tahunnya, sampah alas kaki menumpuk di tempat pembuangan akhir, membutuhkan 30-40 tahun untuk terurai dan melepaskan bahan kimia beracun ke lingkungan. Dengan memperpanjang umur pakai sepatu melalui rotasi yang bijak, pelari dapat secara tidak langsung berkontribusi pada pengurangan limbah dan jejak karbon industri ini. Ini mewakili pergeseran dari budaya konsumsi yang cepat menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam gaya hidup olahraga.