:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477183/original/008126800_1768810776-Kue_pia.jpg)
Menjelang Ramadan 2026, Pia Kacang Hijau, kudapan tradisional berakar Tionghoa yang telah berakulturasi kuat di Indonesia, menawarkan alternatif berbuka puasa yang unik dan bernutrisi di tengah dominasi takjil modern. Penganan ini tidak sekadar memuaskan selera, melainkan juga menopang sistem pencernaan pasca-puasa dengan kandungan gizi kompleks yang kerap diabaikan pada pilihan camilan lain.
Asal-usul pia dapat ditelusuri kembali ke Dinasti Ming di Tiongkok, di mana ia dikenal sebagai "Tou Luk Pia" yang secara harfiah berarti kue pia kacang hijau, atau "bak pia" yang berarti kue berisi daging. Awalnya digunakan dalam ritual keagamaan dan perayaan sebagai simbol keberuntungan dan kesempurnaan, pia tiba di kepulauan Nusantara pada abad ke-17 melalui pedagang dan imigran Tionghoa. Di Indonesia, khususnya Yogyakarta, pia mengalami transformasi signifikan. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, isian daging babi asli diganti dengan pasta kacang hijau, sebuah adaptasi budaya yang memastikan penganan ini diterima luas. Kwik Sun Kwok disebut-sebut sebagai pionir pia kacang hijau di Yogyakarta sekitar tahun 1948, mulanya dikemas dalam besek tanpa merek, sebelum populer dengan label dan angka khas seperti Bakpia Pathok 25 pada tahun 1980-an.
Secara nutrisi, kacang hijau (Vigna radiata) merupakan pilihan yang sangat relevan untuk mengembalikan energi setelah berpuasa. Ahli gizi Luciana dari Rumah Sakit Mitra Keluarga menekankan pentingnya mengonsumsi porsi kecil dan manis saat berbuka untuk mengaktifkan saluran cerna dan mengembalikan kadar gula darah. Kacang hijau kaya serat makanan dan pati, yang vital untuk melancarkan pencernaan dan menutrisi bakteri baik dalam usus, sebuah kondisi krusial mengingat perubahan jam makan selama puasa. Selain itu, ia mengandung antioksidan serta nutrisi antiradang yang membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko penyakit jantung, termasuk menurunkan kolesterol LDL. Kandungan serat dan proteinnya juga berkontribusi pada rasa kenyang lebih cepat dan lebih lama, membantu mengontrol nafsu makan berlebihan pasca-puasa. Kacang hijau juga merupakan sumber karbohidrat kompleks, protein, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B5, B12), D, E, K, serta mineral seperti zat besi, fosfor, kalium, magnesium, mangan, dan folat. Sementara itu, nutrisionis Leona Victoria Djajadi, MND, mengingatkan untuk menghindari takjil modern yang tinggi gula buatan, santan berlebihan, dan minim nutrisi agar tidak terjadi penumpukan kalori tanpa asupan gizi yang berarti. Dalam konteks ini, Pia Kacang Hijau yang dibuat dengan gula terkontrol dan bahan-bahan segar dapat menyajikan keseimbangan antara kelezatan dan manfaat gizi.
Dalam konteks tren kuliner Ramadan 2026, di mana konsumen semakin mencari opsi takjil yang praktis, higienis, dan menarik secara visual, Pia Kacang Hijau memiliki posisi strategis sebagai camilan tradisional yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Meskipun tren makanan penutup berbasis oatmilk, Korean Fruit Sando, atau dessert box personal diprediksi populer, daya tarik jajanan pasar dalam kemasan boks tetap kuat. Permintaan terhadap makanan dan minuman ringan meningkat tajam selama Ramadan, menciptakan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner. Pia Kacang Hijau, sebagai produk yang telah mapan dan digemari, dapat memperkaya keragaman takjil, memberikan alternatif "anti-mainstream" yang berakar pada warisan budaya sekaligus mendukung ekonomi lokal. Berbagai penjual pia kacang hijau, mulai dari skala rumahan hingga merek terkenal, memanfaatkan momentum ini dengan penyesuaian produksi dan pemasaran.
Implikasi jangka panjang dari keberadaan Pia Kacang Hijau sebagai pilihan takjil melampaui aspek konsumsi musiman. Ini menegaskan adaptabilitas kuliner tradisional dalam menghadapi perubahan selera pasar dan kebutuhan gizi. Pergeseran preferensi konsumen ke arah makanan sehat dan praktis tidak menghilangkan, melainkan mendorong inovasi dalam menyajikan kudapan klasik. Peran pia dalam ekosistem UMKM juga vital, menyediakan lapangan kerja musiman dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal selama periode peningkatan aktivitas ekonomi Ramadan. Dengan demikian, Pia Kacang Hijau bukan sekadar camilan buka puasa, melainkan manifestasi dari kekayaan budaya kuliner Indonesia yang terus berevolusi, relevan, dan berkontribusi secara sosial ekonomi.