Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Umur Panjang: Ilmuwan Menjelaskan Potensi Hidup di Atas 100 Tahun

2026-01-11 | 19:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T12:13:19Z
Ruang Iklan

Rahasia Umur Panjang: Ilmuwan Menjelaskan Potensi Hidup di Atas 100 Tahun

Perdebatan ilmiah mengenai batas usia maksimal manusia semakin intensif di tengah kemajuan teknologi dan pemahaman biologi penuaan, dengan sejumlah penelitian terbaru menyoroti kemungkinan manusia hidup melampaui 100 tahun, bahkan hingga 120 atau 150 tahun, meskipun dengan tantangan dan batasan biologis yang jelas. Jeanne Calment dari Prancis, yang meninggal pada usia 122 tahun pada tahun 1997, tetap menjadi patokan sebagai manusia tertua yang pernah terverifikasi, memicu pertanyaan tentang apakah rekor ini dapat dipecahkan dan seberapa jauh rentang hidup manusia dapat direntangkan.

Para ilmuwan dari Malardalen University (MDU) di Swedia, dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Futures, memperkirakan bahwa harapan hidup manusia dapat meningkat hingga 120 tahun dalam beberapa dekade mendatang, setidaknya di negara-negara maju. Ignat Kulkov, seorang peneliti di MDU, mengatakan bahwa kemajuan pesat dalam teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), pengetahuan yang diperoleh dari pandemi COVID-19, serta pengobatan yang dipersonalisasi akan menjadi faktor pendorong utama. AI sudah digunakan untuk mendiagnosis penyakit lebih cepat dan mengembangkan pengobatan baru, sementara perangkat yang dapat dipakai (wearable device) akan terhubung dengan dokter dan rumah sakit untuk merekomendasikan perubahan gaya hidup sejak dini.

Namun, konsensus mengenai batas atas ini tidak bulat. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature Aging pada Oktober 2024 menunjukkan bahwa umat manusia sedang mendekati batas atas harapan hidup, dengan peningkatan harapan hidup yang melambat di negara-negara dengan populasi berumur panjang. S. Jay Olshansky, seorang peneliti dari University of Illinois-Chicago dan penulis utama studi tersebut, menekankan bahwa kita harus menyadari adanya batasan dan mungkin perlu meninjau kembali asumsi tentang pensiun dan kebutuhan finansial jangka panjang. Studi ini berargumen bahwa kemajuan medis dan kesehatan masyarakat selama periode 1990-2019 belum secara radikal memperlambat penuaan manusia atau memperpanjang rentang hidup maksimum.

Meskipun demikian, penelitian lain menyajikan pandangan yang lebih optimis. Sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Communications pada Mei 2021, menggunakan pemodelan matematika, memprediksi bahwa manusia mungkin bisa hidup antara 120 hingga 150 tahun. Para peneliti mengungkap bahwa setelah usia tersebut, tubuh manusia akan kehilangan kemampuannya untuk pulih dari stres seperti penyakit dan cedera, yang pada akhirnya menyebabkan kematian. Jika terapi dapat dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh, ini mungkin memungkinkan manusia untuk hidup lebih lama dan lebih sehat. Dr. Ernst von Schwarz, seorang dokter dan ahli jantung, berpendapat bahwa hidup hingga 120 tahun dapat dicapai lebih mudah dalam dekade ini, bahkan memprediksi usia 150 tahun akan menjadi normal pada akhir abad ini, berkat kemajuan dalam terapi sel punca (stem cell). Terapi sel punca diyakini dapat memperbaiki kerusakan dan memperlambat proses penuaan tertentu.

Faktor genetik dan gaya hidup memainkan peran krusial dalam mencapai umur panjang ekstrem. Penelitian terhadap Maria Branyas, yang hidup hingga 117 tahun, menunjukkan kombinasi genetika dan gaya hidup aktif secara mental, sosial, dan fisik berkontribusi pada umurnya yang panjang. Menariknya, Branyas memiliki erosi telomer yang besar, namun ia tetap mempertahankan kesehatan yang relatif baik. Studi lain yang diterbitkan di eLife menemukan bahwa individu yang hidup lebih dari 105 tahun memiliki genom unik yang membuat tubuh mereka lebih efisien dalam memperbaiki DNA dan memiliki beban mutasi rendah pada gen tertentu, melindungi mereka dari penyakit terkait usia. Gen-gen seperti APOC3, IGF-r, dan CETP juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung dan regulasi kolesterol yang lebih baik.

Selain genetika, kebiasaan sehari-hari juga mempengaruhi. Sebuah studi dari Swedia yang diterbitkan di GeroScience pada Maret 2025 menemukan bahwa centenarian (orang berusia 100 tahun atau lebih) memiliki kadar gula darah yang lebih rendah dan fungsi ginjal serta hati yang lebih sehat sejak usia 60 tahun ke atas. Mereka juga cenderung memiliki kadar kolesterol total yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa faktor gaya hidup seperti pola makan dan konsumsi alkohol dapat menjadi penyebab perbedaan tersebut. Ikatan sosial yang kuat juga terbukti memperpanjang harapan hidup, sebagaimana ditunjukkan oleh studi dari Brigham Young University, dengan orang-orang yang memiliki kehidupan sosial aktif cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Populasi centenarian telah meningkat signifikan secara global, dari 151.000 pada tahun 2000 menjadi 573.000 pada tahun 2020, dan diperkirakan akan mencapai 3,7 juta pada tahun 2050. Jepang memiliki tingkat centenarian tertinggi per kapita, sementara Amerika Serikat memiliki jumlah absolut centenarian tertinggi. Peningkatan jumlah lansia ini membawa implikasi besar terhadap sistem perawatan kesehatan, rasio ketergantungan, dan perekonomian, menuntut perencanaan matang untuk mendukung populasi yang menua dengan kualitas hidup yang baik. William Mair, profesor metabolisme molekuler di Harvard T.H. Chan School of Public Health, menyatakan bahwa "tidak ada alasan intelektual mengapa kita tidak bisa memecahkan batas atas harapan hidup manusia sekitar 90 tahun." Tantangan selanjutnya bagi penelitian adalah mengubah biologi penuaan secara langsung, bukan hanya mengobati penyakit terkait usia. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia sendiri telah meluncurkan Program Riset Prioritas Tahun Anggaran 2026, dengan alokasi dana lebih dari Rp3 triliun, yang salah satunya mendukung sektor kesehatan, menandakan komitmen nasional terhadap inovasi yang relevan.