:strip_icc()/kly-media-production/medias/4838452/original/078403200_1716273759-IMG_2550.jpeg)
Peningkatan kesadaran publik terhadap dampak konsumsi gula berlebih memicu perubahan signifikan dalam lanskap kuliner Indonesia, khususnya pada minuman favorit seperti jus alpukat, yang secara tradisional banyak menggunakan susu kental manis. Masyarakat kini aktif mencari alternatif resep yang lebih sehat dan segar, bergeser dari kebiasaan yang berpotensi memicu masalah kesehatan kronis menuju pilihan yang mengedepankan nutrisi optimal. Tren ini mencerminkan respons konsumen terhadap informasi kesehatan yang semakin mudah diakses dan regulasi yang mulai memperketat penjualan produk tinggi gula.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia secara konsisten menegaskan bahwa susu kental manis (SKM) bukanlah produk susu bernutrisi yang dapat dikonsumsi sebagai minuman tunggal atau satu-satunya sumber gizi, terutama bagi anak di bawah usia lima tahun. Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018, yang kemudian diperbarui dengan Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021, melarang visualisasi yang menggambarkan SKM sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu. SKM diidentifikasi sebagai bahan pelengkap atau topping makanan dan minuman, bukan penambah atau pelengkap gizi utama. Ahli gizi klinis Emilia Elfiranti Achmadi juga menyoroti bahwa kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis sudah "mendarah daging" lintas usia di masyarakat. Konsumsi gula berlebihan sendiri telah dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, perlemakan hati, arteriosklerosis, serta penyakit jantung koroner. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan konsumsi gula pasir per kapita Indonesia pada tahun 2024 mencapai 5,37 kilogram per kapita per tahun, menunjukkan penurunan 7,4% dari tahun sebelumnya dan menjadi level terendah dalam lima tahun terakhir. Meskipun demikian, tekanan untuk mengurangi asupan gula tetap relevan mengingat tingginya prevalensi penyakit kronis. Pada tahun 2024, lebih dari 20,4 juta orang dewasa di Indonesia atau sekitar 11% dari total populasi dewasa, mengidap diabetes.
Alpukat, di sisi lain, dikenal sebagai buah padat nutrisi yang kaya akan lemak sehat, protein, serat, serta beragam vitamin dan mineral. Buah ini efektif dalam membantu mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL), meningkatkan kolesterol baik (HDL), mengontrol tekanan darah, mencegah hipertensi, dan menjaga kesehatan jantung. Kandungan antioksidan seperti zeaxanthin dan lutein juga penting untuk kesehatan mata. Ketersediaan serat dan lemak sehat dalam alpukat juga berkontribusi pada rasa kenyang yang lebih lama, mendukung manajemen berat badan, serta meningkatkan kesehatan pencernaan. Dengan manfaat gizi yang substansial, alpukat ideal untuk diolah menjadi minuman sehat.
Sebagai respons terhadap tuntutan kesehatan ini, modifikasi resep jus alpukat menjadi krusial. Alih-alih mengandalkan susu kental manis, masyarakat beralih menggunakan bahan alami untuk mencapai tekstur kental dan rasa manis yang diinginkan. Untuk kekentalan, susu cair rendah lemak atau susu nabati seperti susu almond atau santan segar dalam jumlah moderat dapat digunakan, yang sekaligus menambah dimensi rasa tanpa tambahan gula berlebih. Beberapa konsumen juga memanfaatkan biji chia atau oat yang direndam untuk menambah kekentalan dan serat. Sementara untuk pemanis, kurma, madu, atau stevia menjadi pilihan favorit karena menawarkan rasa manis alami dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan gula rafinasi. Penambahan sedikit perasan jeruk nipis atau lemon dapat menyeimbangkan rasa dan memberikan kesegaran ekstra.
Tren minuman sehat di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi hanya mencari rasa, melainkan juga manfaat fungsional dan nutrisi. Merek minuman yang dikaitkan kuat dengan hidrasi, pencernaan, daya tahan tubuh, dan asupan nutrisi mendominasi preferensi pasar. Kondisi ini mendorong inovasi kuliner, di mana produk-produk dengan klaim "rendah kalori," "bebas gluten," "berbasis tumbuhan," "tanpa pengawet," dan "kaya serat atau protein" semakin diminati. Pergeseran kebiasaan ini memiliki implikasi jangka panjang terhadap industri makanan dan minuman. Produsen didorong untuk mengembangkan produk yang lebih sehat dan transparan dalam label gizinya, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pola makan seimbang dan pengurangan asupan gula. Adopsi resep jus alpukat yang lebih sehat ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikasi perubahan fundamental dalam preferensi konsumen yang memprioritaskan kesehatan sebagai bagian integral dari gaya hidup modern.