Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terobosan Medis Klaten: RS Soeradji Tirtonegoro Kini Layani Bedah Jantung Terbuka

2026-01-20 | 18:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T11:05:29Z
Ruang Iklan

Terobosan Medis Klaten: RS Soeradji Tirtonegoro Kini Layani Bedah Jantung Terbuka

Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro Klaten secara resmi memulai layanan bedah jantung terbuka pada Senin, 19 Januari 2026, menandai perluasan signifikan akses terhadap perawatan kardiovaskular canggih di Jawa Tengah dan upaya nasional untuk mengatasi beban penyakit jantung yang terus meningkat. Peluncuran layanan ini disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, didampingi Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan Direktur Utama RS Soeradji Tirtonegoro Sholahuddin Rhatomy. Operasi bedah jantung terbuka pertama yang sukses, yaitu prosedur penutupan Atrial Septal Defect (ASD), telah dilaksanakan dua hari sebelumnya pada 17 Januari 2026, oleh tim bedah jantung rumah sakit dengan pendampingan dari RS Kariadi Semarang sebagai pengampu regional dan RS Jantung Harapan Kita Jakarta sebagai pengampu nasional.

Langkah strategis ini menempatkan RS Soeradji Tirtonegoro sebagai sentra bedah jantung terbuka ke-36 di Indonesia, meningkat drastis dari hanya sekitar sepuluh rumah sakit pada tahun 2012 yang mampu melakukan prosedur serupa. Menurut Wakil Menteri Kesehatan Dante, pemerintah berkomitmen memperluas akses layanan ini di 30 provinsi, dengan target semua provinsi memiliki layanan bedah jantung terbuka pada akhir tahun 2026. Khusus di Jawa Tengah, layanan ini menambah kapasitas regional yang sebelumnya hanya tersedia di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Kebutuhan akan layanan bedah jantung terbuka di Indonesia sangat tinggi. Angka kasus kelainan jantung pada anak mencapai 8-9 kasus untuk setiap 1.000 kelahiran hidup, sementara banyak kasus penyakit jantung koroner pada dewasa tidak dapat lagi ditangani hanya dengan pemasangan stent atau balon, sehingga memerlukan tindakan bypass. Beban pembiayaan penyakit jantung secara nasional mencapai lebih dari Rp19 triliun per tahun melalui BPJS Kesehatan, mencerminkan tingginya prevalensi dan dampak ekonomi dari kondisi ini. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi penyakit jantung rata-rata di Indonesia sebesar 1,5%, dengan Jawa Tengah pada tahun yang sama mencatat angka 1,6%. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi nasional sebesar 0,85%, namun provinsi seperti DI Yogyakarta mencapai 1,67%, DKI Jakarta 1,56%, dan Jawa Barat 1,18%.

Transformasi layanan rujukan oleh Kementerian Kesehatan, yang mencakup penguatan layanan subspesialistik di rumah sakit vertikal, bertujuan untuk memastikan bahwa bedah jantung terbuka tidak lagi menjadi layanan yang dianggap mewah atau hanya tersedia di kota-kota besar. Program ini juga didukung oleh jaminan pembiayaan penuh oleh BPJS Kesehatan untuk pasien yang menjalani tindakan bedah jantung terbuka.

Namun, pengembangan layanan ini masih menghadapi tantangan dalam ketersediaan sumber daya manusia. Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 270 dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular (BTKV), sementara proyeksi kebutuhan dalam 10 tahun ke depan mencapai 1.300 dokter. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menekankan upaya pemerintah untuk meningkatkan distribusi dan pendidikan SDM kesehatan, termasuk melalui program beasiswa dan pengembangan pendidikan dokter berbasis rumah sakit. Kehadiran layanan bedah jantung di RS Soeradji Tirtonegoro yang sebelumnya telah memiliki layanan kateterisasi jantung (Cath Lab) sejak tahun 2021 yang juga dijamin BPJS, menunjukkan kematangan infrastruktur dan tim medis yang terus diperkuat untuk memberikan perawatan jantung komprehensif. Ekspansi ini diharapkan secara signifikan mengurangi kebutuhan pasien untuk melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan penanganan yang krusial, meningkatkan kualitas hidup masyarakat Klaten dan wilayah sekitarnya, serta mempercepat pencapaian pemerataan layanan kesehatan berkualitas tinggi di seluruh Indonesia.