
Amerika Serikat resmi menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis, 22 Januari 2026, menyelesaikan proses administratif setahun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kembali niatnya untuk keluar dari badan kesehatan global tersebut. Keputusan ini, yang secara efektif mengakhiri komitmen 78 tahun AS terhadap WHO, datang di tengah kritik berkelanjutan pemerintahan Trump terhadap penanganan pandemi COVID-19 oleh organisasi tersebut, dugaan kurangnya reformasi, dan pengaruh politik yang tidak semestinya dari negara-negara anggota tertentu, terutama Tiongkok.
Penarikan ini merupakan upaya kedua dari pemerintahan Trump untuk memutuskan hubungan dengan WHO. Upaya pertama pada Juli 2020 dibatalkan oleh Presiden Joe Biden pada hari pertamanya menjabat pada Januari 2021, dengan alasan bahwa WHO sangat penting dalam mengendalikan COVID-19 dan membangun kesiapsiagaan pandemi global. Namun, pada 20 Januari 2025, segera setelah memulai masa jabatan keduanya, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang kembali mengarahkan AS untuk menarik diri dari WHO, memicu periode pemberitahuan satu tahun yang diperlukan.
Administrasi Trump berargumen bahwa WHO telah "menyalahgunakan" pandemi COVID-19 yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, dan krisis kesehatan global lainnya, serta gagal mengadopsi reformasi yang sangat dibutuhkan dan menunjukkan independensi dari pengaruh politik negara-negara anggota WHO. Selain itu, Presiden Trump mengklaim bahwa WHO terus menuntut pembayaran yang terlalu memberatkan dari Amerika Serikat, yang "jauh di luar proporsi" dibandingkan dengan iuran negara lain. Ia menyoroti bahwa Tiongkok, dengan populasi tiga kali lipat dari AS, berkontribusi hampir 90 persen lebih sedikit. Seorang pejabat senior Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) AS menyatakan bahwa AS akan tetap menjadi pemimpin global dalam kesehatan melalui "keterlibatan yang ada dan baru secara langsung dengan negara-negara lain, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, dan entitas berbasis agama."
Dampak finansial penarikan AS, yang secara historis merupakan kontributor terbesar WHO dengan rata-rata $111 juta per tahun dalam iuran keanggotaan dan sekitar $570 juta dalam kontribusi sukarela, sangat signifikan. AS memiliki tunggakan iuran keanggotaan sebesar $278 juta untuk periode 2024-2025, yang menurut Departemen Luar Negeri AS, tidak akan dibayarkan sebelum penarikan. Kepergian AS diperkirakan akan menciptakan defisit anggaran di WHO, yang telah menyebabkan pemotongan anggaran, pengurangan staf, dan penskalaan kembali operasi, termasuk rencana untuk memberhentikan seperempat stafnya pada pertengahan 2026. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya menyatakan bahwa organisasi tersebut masih kekurangan 25 persen dari anggaran yang dibutuhkan.
Implikasi global dari penarikan ini melampaui aspek keuangan. Para ahli kesehatan global dan otoritas internasional menyatakan kekhawatiran mendalam. Ronald G. Nahass, presiden Infectious Diseases Society of America, menyebut penarikan AS sebagai "sembrono secara ilmiah" dan "jangka pendek serta keliru," menambahkan bahwa "kerja sama global bukanlah kemewahan; itu adalah kebutuhan biologis." Lawrence Gostin, seorang ahli hukum kesehatan masyarakat di Universitas Georgetown, menggambarkan keputusan ini sebagai "keputusan presiden paling merusak dalam hidupnya."
Kehilangan keikutsertaan AS berarti negara tersebut tidak akan lagi berpartisipasi dalam Sistem Pengawasan dan Respons Influenza Global, sebuah platform penting untuk memantau kasus flu dan berbagi data serta sampel virus yang digunakan untuk mengembangkan vaksin flu tahunan. Inisiatif-inisiatif vital seperti kampanye vaksinasi, kesehatan ibu dan anak, serta kesiapsiagaan darurat kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan akan terganggu, yang dapat memperlambat deteksi dan respons terhadap ancaman yang muncul seperti flu burung. Penarikan AS dari WHO juga berarti Inisiatif Pemberantasan Polio Global kehilangan akses ke laboratorium polio khusus Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS.
Secara geopolitik, absennya AS dapat menciptakan ruang bagi negara-negara lain seperti India, Arab Saudi, Rusia, dan Tiongkok untuk memberikan lebih banyak pengaruh, yang berpotensi mengubah prioritas kesehatan global. Bagi Amerika Serikat sendiri, penarikan ini mengurangi akses real-time terhadap pengawasan penyakit global, panduan teknis, dan jaringan peringatan dini, sumber daya yang terbukti penting selama COVID-19. Hal ini juga merusak kredibilitas AS dan kepemimpinannya dalam bidang kesehatan global.
Terlepas dari keputusan AS, Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus menyatakan keterbukaannya untuk menerima AS kembali sebagai anggota, dengan harapan negara tersebut akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menarik diri. Namun, dengan administrasi Trump yang mengarahkan sumber daya dan fokus pada program "America First Global Health" dan keterlibatan bilateral langsung, masa depan peran AS dalam kerangka kerja kesehatan global multilateral yang dipimpin WHO tetap tidak pasti.