:strip_icc()/kly-media-production/medias/5430638/original/090581700_1764668217-Depositphotos_686157766_L.jpg)
Susu kental manis (SKM) telah lama menjadi bahan pokok dalam khazanah kuliner Indonesia, menawarkan solusi praktis dan ekonomis untuk memperkaya rasa manis serta tekstur berbagai hidangan. Sejarahnya di Nusantara dimulai sejak 1873 melalui pemerintahan kolonial Belanda, dan popularitasnya meluas setelah 1922, bertransformasi dari logistik tentara menjadi primadona rumah tangga untuk aneka kreasi makanan dan minuman. Produk ini, yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula, hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu, diakui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai produk susu dengan standar mutu dan gizi, meski bukan pengganti susu segar karena kandungan gulanya yang tinggi.
Fleksibilitas SKM dalam dunia kuliner telah mendorong munculnya berbagai inovasi resep. Dari hidangan penutup klasik hingga minuman kekinian, SKM berperan vital dalam menciptakan profil rasa yang kaya dan tekstur yang diinginkan. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan konsumsi bijak dan seimbang sebagai bagian dari pola makan sehat, mengingat kandungan gula yang signifikan.
Puding susu kental manis, misalnya, menjadi salah satu kreasi paling mudah dipraktikkan. Dengan hanya menggunakan agar-agar plain, air, SKM, dan sedikit garam, hidangan ini menawarkan tekstur lembut dan rasa manis yang digemari. Proses pembuatannya yang sederhana, cukup dengan melarutkan bahan dalam panci, mendidihkannya, dan mendinginkannya, menjadikannya pilihan favorit untuk camilan rumahan yang praktis.
Dalam kategori minuman, SKM menjadi bahan dasar untuk es kopi susu yang populer. Kopi instan sendiri menjadi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang paling banyak dikonsumsi rumah tangga, dengan 42,0% rumah tangga mengonsumsinya secara harian, dan SKM tercatat dikonsumsi oleh 20,3% rumah tangga Indonesia berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024. Matcha frappe juga memanfaatkan SKM untuk menciptakan minuman berbasis matcha yang creamy dan manis, sesuai dengan tren minuman kekinian yang digemari milenial dan Gen Z yang suka mencoba produk dan pengalaman baru.
Tidak hanya itu, SKM juga memperkaya sajian roti panggang, menjadikannya camilan praktis dengan olesan mentega dan siraman SKM. Variasi lain seperti pie kacang pecan, kue sus dengan vla kental manis, dan tiramisu juga menunjukkan kemampuan SKM untuk beradaptasi dalam resep yang lebih kompleks, menambah kelezatan dan dimensi rasa. Bahkan, ada kreasi "susu goreng" yang memanfaatkan SKM sebagai bahan dasar adonan yang kemudian dilapisi tepung dan digoreng hingga renyah, menunjukkan inovasi dalam penggunaan bahan ini. Untuk kue semprit dan berbagai jenis kue lainnya, SKM seringkali menjadi pengganti gula dan mentega, menyederhanakan proses pembuatan tanpa mengurangi cita rasa manis dan gurih.
Profesor Tria Astika Endah Permatasari, Guru Besar Ahli Gizi UMJ, menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam edukasi dan kebijakan terkait konsumsi SKM, khususnya di tengah masih tingginya persepsi SKM sebagai susu untuk balita di beberapa daerah, yang dipicu oleh faktor sosial budaya seperti keterbatasan ekonomi dan kebiasaan keluarga. Hal ini menggarisbawahi urgensi pemahaman bahwa SKM lebih tepat digunakan sebagai pelengkap atau bahan tambahan dalam olahan makanan dan minuman, bukan sebagai sumber nutrisi utama.
Penggunaan SKM dalam berbagai resep ini tidak hanya mencerminkan kreativitas kuliner masyarakat, tetapi juga adaptasi terhadap ketersediaan bahan yang mudah ditemukan dan harganya yang relatif terjangkau. Meskipun demikian, perlu terus ditekankan bahwa peran SKM adalah sebagai penambah rasa dan tekstur, bukan pengganti nutrisi dari susu murni, guna mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat di tengah masyarakat.