Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bakso Madinah: Doa Terjawab Seketika di Tanah Suci

2025-12-02 | 11:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-02T04:36:32Z
Ruang Iklan

Bakso Madinah: Doa Terjawab Seketika di Tanah Suci

Di tengah khusyuknya ibadah para jemaah di kota suci Madinah, kuliner Indonesia seperti bakso menjadi primadona yang mampu mengobati kerinduan akan cita rasa tanah air. Fenomena ini dilaporkan oleh berbagai media, termasuk Liputan6.com, yang menyoroti betapa bakso seringkali menjadi 'doa yang terjawab' bagi banyak jemaah yang mendambakan hidangan familiar di perantauan.

Jemaah haji dan umrah dari Indonesia kerap mencari makanan khas Nusantara untuk menghilangkan rasa rindu akan kampung halaman selama berada di Arab Saudi. Bakso, dengan kuahnya yang gurih dan tekstur kenyalnya, menjadi pilihan utama dan seolah berfungsi sebagai 'obat rindu' yang sangat dicari. Bahkan, terdapat restoran Asia di Madinah, seperti Media Asian Restaurant atau Madena Asian Restaurant, yang secara khusus menyajikan bakso dan hidangan Indonesia lainnya untuk memenuhi permintaan tinggi ini.

Tak hanya populer, kualitas bakso Indonesia di Madinah juga mendapat pengakuan. Salah satu rumah makan di Madinah bahkan pernah dinobatkan sebagai menu terenak kedua, mengalahkan beragam sajian dari 80 negara dalam sebuah festival di Arab Saudi, dengan koki asli Indonesia yang meraciknya. Semangkuk bakso di Madinah umumnya dibanderol sekitar 25 riyal, atau setara dengan Rp 98.000 hingga Rp 100.000, harga yang dinilai sepadan dengan kenikmatan dan nostalgia yang ditawarkan.

Bagi sebagian jemaah, menemukan semangkuk bakso yang autentik di tanah suci terasa seperti sebuah anugerah atau doa yang dikabulkan, terutama setelah seharian beribadah dan merindukan kehangatan rumah. Meskipun laporan Liputan6.com lebih sering menyoroti aspek spiritual dan khusyuknya ibadah di Raudhah, keberadaan bakso di Madinah tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman jemaah Indonesia, di mana kenyamanan kuliner dapat menjadi penawar rindu dan memberi energi untuk melanjutkan ibadah. Kisah-kisah tentang bagaimana rasa familiar ini menghadirkan kelegaan mendalam, bahkan hingga terasa seperti respons langsung atas doa, kerap menjadi bagian tak terucapkan dari perjalanan spiritual para jemaah di Madinah.