
Keterputusan rantai pasokan insulin secara global menimbulkan ancaman koma diabetik yang fatal bagi ribuan anak penderita diabetes tipe 1 di zona konflik dan pengungsian, sebuah krisis kemanusiaan yang sering terabaikan di tengah urgensi lain. Di Jalur Gaza, misalnya, kekhawatiran meningkat tajam setelah Jamie McGoldrick, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Palestina, pada Januari 2024 menyatakan Israel memasukkan pena insulin untuk anak-anak ke dalam daftar barang yang dilarang masuk, meskipun klaim ini dibantah oleh COGAT, lembaga pemerintah Israel. Situasi ini mencerminkan tantangan krusial dalam ketersediaan obat-obatan esensial yang tak hanya dipengaruhi konflik, tetapi juga oleh birokrasi dan keputusan korporasi farmasi.
Kebutuhan akan insulin adalah mutlak bagi penderita diabetes tipe 1, terutama anak-anak, yang pankreasnya tidak memproduksi insulin sama sekali. Tanpa suntikan insulin harian, kadar gula darah mereka akan melonjak tak terkendali, memicu kondisi yang disebut ketoasidosis diabetik (DKA). DKA adalah keadaan darurat medis yang dapat menyebabkan kejang, kehilangan kesadaran, koma, dan bahkan kematian. Dokter Spesialis Endokrinologi Anak dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, dr. Aditya Suryansyah, menegaskan bahwa yang menyebabkan komplikasi pada penderita diabetes adalah gula yang tidak terkontrol, bukan insulin. Di negara berkembang dan zona konflik, akses terhadap insulin menjadi sangat terbatas, dengan hanya sekitar satu dari tujuh orang yang membutuhkan insulin di Afrika yang dapat memperolehnya.
Para ahli dan organisasi kemanusiaan telah berulang kali menyuarakan alarm tentang situasi ini. Direktur Eksekutif Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengkritik keras kesenjangan akses insulin, menyatakan bahwa "ilmuwan yang menemukan insulin 100 tahun lalu menolak mengambil keuntungan dari penemuan mereka dan menjual patennya hanya dengan satu dolar. Sayangnya, isyarat solidaritas itu telah diambil alih oleh bisnis bernilai miliaran dolar yang telah menciptakan kesenjangan akses yang besar." Laporan MSF baru-baru ini juga menyoroti bagaimana hanya tiga korporasi farmasi — Eli Lilly, Novo Nordisk, dan Sanofi — yang mengendalikan 90 persen pasar insulin global, memungkinkan mereka menetapkan harga tinggi dan memutuskan ketersediaan perangkat pengiriman insulin.
Di Jalur Gaza, Doctors Without Borders melaporkan kondisi kemanusiaan yang mengerikan, dengan satu dari empat anak kecil dan wanita hamil di klinik MSF menderita malnutrisi. Tingkat malnutrisi akut global mencapai 20 persen, jauh melampaui ambang batas darurat 15 persen, menandakan krisis kesehatan publik yang parah. "Ini adalah pertama kalinya kami menyaksikan skala malnutrisi yang begitu parah di Gaza," kata Mohammed Abu Mughaisib, Wakil Koordinator Medis MSF di Gaza. Caroline Willemen, Koordinator Proyek MSF di Gaza City, menambahkan, "Kami sekarang menerima 25 pasien baru setiap hari untuk malnutrisi. Kami melihat kelelahan dan kelaparan pada rekan-rekan kami sendiri." Kelangkaan insulin di tengah krisis pangan dan pertempuran hanya memperburuk kerentanan anak-anak dengan diabetes tipe 1 yang membutuhkan nutrisi stabil dan manajemen gula darah yang ketat.
Di Sudan Selatan, MSF melaporkan bahwa ketoasidosis diabetik (DKA) adalah penyebab kematian kedua setelah malnutrisi pada anak-anak. Di Aweil, MSF merawat sekitar 30 anak dengan DKA di unit perawatan intensif setiap bulan. Anak-anak seperti Aher, seorang pengungsi Suriah berusia 11 tahun di Arsal, Lebanon, bergantung pada pena insulin yang disimpan dalam wadah tanah liat sebagai "kulkas darurat" keluarganya. Logistik yang sulit, infrastruktur yang terbatas, dan masalah keamanan di daerah-daerah terpencil serta zona konflik menghambat distribusi obat-obatan vital ini.
Kondisi serupa juga dilaporkan di wilayah lain. Krisis Suriah telah menyebabkan jutaan pengungsi dan pengungsi internal berjuang untuk mendapatkan insulin. UNHCR, WHO, dan MSF telah membentuk program penyakit kronis di Yordania, Lebanon, dan Irak sebagai respons terhadap peningkatan permintaan perawatan diabetes. Sementara itu, di Ukraina, perang telah menciptakan jutaan pengungsi internal dan sementara negara menanggung biaya insulin, masalah logistik dan kerusakan fasilitas farmasi menyebabkan interupsi pasokan jangka pendek.
Upaya mitigasi sedang berlangsung. Kemitraan antara World Diabetes Foundation (WDF) dan UNHCR bertujuan meningkatkan respons terhadap penyakit tidak menular (NCDs), termasuk diabetes, di kamp-kamp pengungsi di Tanzania, Burundi, dan Sudan, dengan memperkuat kapasitas dan memberikan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Namun, tantangan masih besar, termasuk harga insulin yang tinggi dan dominasi pasar oleh segelintir produsen.
Dampak jangka panjang dari kekurangan insulin dan episode DKA berulang pada anak-anak sangat mengerikan. Selain kematian, DKA dapat menyebabkan komplikasi serius seperti edema serebral yang berpotensi fatal, terutama pada anak-anak. Anak-anak yang bertahan hidup mungkin mengalami gangguan pertumbuhan, masalah kognitif, dan kerusakan organ permanen yang memengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan. Situasi ini menuntut respons global yang lebih terkoordinasi dan akses tanpa hambatan terhadap insulin dan perlengkapan medis esensial lainnya untuk melindungi generasi yang paling rentan di dunia dari ancaman koma dan kematian yang dapat dicegah.