Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Eksperimen Puasa 7 Hari Pria Ini: Dampak Tak Terduga pada Tubuhnya Terkuak

2025-12-14 | 15:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-14T08:59:52Z
Ruang Iklan

Eksperimen Puasa 7 Hari Pria Ini: Dampak Tak Terduga pada Tubuhnya Terkuak

Seorang YouTuber asal South Carolina, Amerika Serikat, Quinton Heck, baru-baru ini menarik perhatian publik setelah nekat melakukan eksperimen ekstrem: tidak makan selama tujuh hari penuh. Selama periode tersebut, Heck hanya mengonsumsi air putih, kopi hitam, dan garam dapur, mendokumentasikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Pada hari pertama eksperimennya, Quinton Heck mengalami penurunan berat badan signifikan, mencapai 1,6 pon atau sekitar 0,7 kg. Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kondisi tanpa asupan makanan padat. Setelah delapan jam berpuasa, tubuhnya beralih menggunakan glikogen sebagai sumber energi. Fase awal ketosis, di mana tubuh mulai membakar lemak untuk energi, terjadi setelah 12 jam, diikuti oleh proses autofagi yang dimulai pada 16 jam. Autofagi adalah mekanisme penting di mana sel-sel tubuh memecah dan mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak lagi dibutuhkan. Setelah 24 jam, tubuh Heck sepenuhnya beralih menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama, sebuah fase di mana banyak orang justru mulai merasa lebih baik setelah melewati masa sulit di awal puasa.

Memasuki hari ketiga hingga kelima, Heck melaporkan bahwa ia mulai merasakan kepalanya "agak kosong" dan "sedikit berat," meskipun ia berharap segera memasuki "mode keto sepenuhnya." Pada periode ini, tubuhnya telah sepenuhnya masuk ke fase ketosis, yang tidak hanya berkontribusi pada penurunan berat badan tetapi juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, epilepsi, Alzheimer, dan diabetes tipe dua. Hal menarik yang Heck temukan adalah ia masih buang air besar beberapa kali, yang diasumsikannya sebagai proses detoksifikasi tubuh. Tantangan mental terberat baginya pada fase ini adalah melihat teman-temannya menjalani aktivitas makan dan minum seperti biasa.

Secara ilmiah, fenomena puasa panjang ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Metabolism. Sebuah studi yang melibatkan 12 sukarelawan sehat yang menjalani puasa air selama tujuh hari menunjukkan bahwa tubuh manusia mengalami perubahan penting dan sistematis di berbagai organ. Dalam dua hingga tiga hari pertama, tubuh mengalihkan sumber energinya dari glukosa ke cadangan lemak. Para peserta studi tersebut kehilangan rata-rata 5,7 kg, yang terdiri dari massa lemak dan massa tanpa lemak. Menariknya, setelah kembali makan selama tiga hari pascapuasa, sebagian besar massa tanpa lemak kembali, namun penurunan massa lemak cenderung tetap.

Para peneliti juga menemukan bahwa setelah sekitar tiga hari puasa, tubuh mengalami perubahan yang jelas pada sekitar 3.000 protein darah, menunjukkan respons seluruh tubuh terhadap pembatasan kalori total. Perubahan ini mencakup protein yang membentuk struktur pendukung neuron di otak, menunjukkan potensi dampak pada fungsi saraf dan kesehatan otak yang melampaui sekadar penurunan berat badan. Hormon-hormon seperti leptin (pengatur nafsu makan) juga mengalami perubahan, dengan penurunan leptin dan peningkatan reseptornya, mengindikasikan sensitivitas yang lebih tinggi saat sinyal penyimpanan energi melemah.

Meskipun penelitian dan pengalaman pribadi seperti Quinton Heck menyoroti potensi manfaat puasa panjang, para ahli kesehatan menekankan bahwa eksperimen semacam ini tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan medis yang ketat. Risiko yang mungkin timbul termasuk penurunan tekanan darah mendadak, dehidrasi, pusing, mual, gangguan elektrolit, penurunan energi ekstrem, hingga masalah ginjal dan kehilangan massa otot. Claudia Langenberg, Direktur Queen Mary's Precision Health University Research Institute, menggarisbawahi bahwa puasa, jika dilakukan dengan aman, dapat menjadi intervensi penurunan berat badan yang efektif dan memiliki manfaat kesehatan. Namun, puasa air tujuh hari adalah praktik ekstrem dan studi pun dilakukan di bawah pengawasan medis ketat, sehingga temuan ini tidak dimaksudkan sebagai panduan praktis untuk dicoba oleh semua orang. Konsultasi dengan dokter terpercaya sangat disarankan sebelum memulai puasa ekstrem untuk mencegah efek samping berbahaya.