Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pelajaran dari Wanita 24 Tahun: Gejala Kanker Stadium 3 yang Terlewatkan

2025-12-21 | 19:53 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-21T12:53:17Z
Ruang Iklan

Pelajaran dari Wanita 24 Tahun: Gejala Kanker Stadium 3 yang Terlewatkan

Peningkatan kasus kanker pada populasi usia muda menjadi sorotan serius di seluruh dunia, termasuk Indonesia, di mana diagnosis sering kali terlambat karena gejala yang diabaikan. Sebuah studi global yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Oncology pada 5 September 2023, menunjukkan adanya peningkatan signifikan sebesar 79% dalam diagnosis kanker baru pada individu di bawah 50 tahun pada tahun 2019 dibandingkan tahun 1990, dengan 1,06 juta kematian terkait kanker pada kelompok usia ini di tahun yang sama. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar juga mengindikasikan peningkatan insidensi kanker pada usia 25-34 tahun dari 0,9% pada 2013 menjadi 1,2% pada 2018. Kondisi ini diperparah dengan tingkat kesadaran deteksi dini yang masih rendah di masyarakat.

Kasus Yuni (bukan nama sebenarnya), seorang wanita 24 tahun di Demak, Jawa Tengah, menjadi potret nyata dari ancaman ini. Ia baru saja didiagnosis menderita kanker stadium 3 setelah berbulan-bulan mengabaikan serangkaian gejala yang dianggapnya remeh, seperti kelelahan ekstrem, penurunan berat badan tak terjelaskan, dan perubahan pada pola buang air besar. Gejala-gejala umum kanker seringkali mirip dengan kondisi medis lain, menyebabkan banyak orang, terutama wanita muda, menunda pemeriksaan medis.

Pakar onkologi, termasuk Ketua Umum Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Dr. dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD-KHOM, FINASIM, telah berulang kali menekankan bahwa sebagian besar pasien kanker di Indonesia terdiagnosis pada stadium lanjut. Keterlambatan ini disebabkan oleh multifaktor, mulai dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang gejala kanker yang kadang tidak khas hingga minimnya kesadaran akan pentingnya deteksi dini. Misalnya, kanker payudara, jenis kanker terbanyak pada wanita Indonesia dengan 42,1 per 100.000 penduduk, sering terdiagnosis pada usia 40-50 tahun atau lebih muda di Asia, berbeda dengan negara Barat pada usia 60-70 tahun, menunjukkan profil penyakit yang lebih kompleks. Harapan hidup untuk kanker payudara stadium 3 berada di kisaran 72% selama 5 tahun.

Kanker kolorektal juga menunjukkan tren peningkatan signifikan pada generasi muda, dengan kasus yang sering ditemukan pada stadium lanjut. Dokter bedah kolorektal dari Yale Medicine bahkan melaporkan menangani pasien semuda 18 tahun dengan diagnosis kanker rektal. Gejala seperti pendarahan rektal, sembelit, atau perubahan pola buang air besar seringkali disalahartikan sebagai wasir, menunda diagnosis krusial.

Meskipun stadium 3 menunjukkan kanker telah tumbuh lebih besar dan menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar area asalnya, namun belum menjalar ke organ jauh, peluang untuk dikendalikan masih besar berkat kemajuan pengobatan modern. Namun, deteksi dini merupakan kunci utama. Program deteksi dini telah terbukti menurunkan angka kematian pada beberapa jenis kanker.

Edukasi berkelanjutan tentang tanda dan gejala kanker serta ketersediaan program skrining menjadi sangat vital. Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wisaksono Sudoyo menyoroti faktor risiko dari lingkungan dan gaya hidup modern yang tidak sehat sebagai pemicu peningkatan kanker usia muda. Mengingat angka kanker diperkirakan tidak akan turun dalam satu abad ke depan, penguatan upaya promotif dan preventif, termasuk pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan Pap Smear, sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, terutama perempuan usia subur.

Kisah Yuni mencerminkan urgensi bagi setiap individu untuk mengenali "irama dan kebiasaan tubuh" mereka sendiri. Perubahan yang tidak biasa dan tidak merespons pengobatan umum harus segera diperiksakan. Jika tidak ada intervensi efektif melalui pencegahan dan deteksi dini, beban kesehatan masyarakat dalam penanganan kanker akan terus meningkat.