Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Semarak Festival Tempe Mengukuhkan Warisan Budaya Takbenda UNESCO

2025-12-21 | 20:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-21T13:20:16Z
Ruang Iklan

Semarak Festival Tempe Mengukuhkan Warisan Budaya Takbenda UNESCO

JAKARTA – Ribuan masyarakat dan pejabat tinggi pemerintah berkumpul di Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat, Minggu (21/12), dalam "Festival Budaya Tempe" untuk secara masif menggalang dukungan bagi pengajuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, festival ini menjadi platform krusial untuk memperkenalkan tempe sebagai representasi pengetahuan dan tradisi fermentasi mendalam yang sudah diajukan ke UNESCO sejak awal tahun 2025, dengan harapan pengakuan resmi pada akhir 2026.

Tempe, pangan fermentasi kedelai yang diyakini berasal dari tanah Jawa sekitar seribu tahun silam, telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia. Manuskrip kuno Serat Centhini dari abad ke-16 atau ke-18 telah mencatat keberadaan tempe, menunjukkan akarnya yang dalam dalam kebudayaan lokal. Makanan ini awalnya dianggap santapan rakyat jelata, namun kini bertransformasi menjadi simbol kearifan lokal serta identitas kuliner yang mendunia.

Festival bertema "Budaya Tempe: Warisan Hidup dari Indonesia untuk Dunia" ini bukan hanya seremonial, melainkan sebuah aktivasi budaya komprehensif. Rangkaian acara meliputi eksibisi sejarah dan proses pembuatan tempe, pameran produk inovatif berbahan tempe, hingga kegiatan "Fun Run 3K dan 10K" yang menghubungkan pelestarian budaya dengan gaya hidup sehat. Seluruh elemen ini dirancang untuk memperkuat proposal penelitian, dokumentasi, dan dukungan komunitas yang telah disampaikan ke UNESCO.

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo menekankan bahwa pengakuan dunia terhadap tempe akan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia. Diperkirakan 170 ribu komunitas dan sekitar 1,5 juta orang terlibat langsung dalam produksi dan usaha tempe di seluruh negeri. Pengakuan UNESCO diharapkan mendorong UMKM "naik kelas" seiring dengan meningkatnya tren global terhadap pola makan sehat dan vegan.

Proses pengajuan tempe ke UNESCO telah dilakukan pada 31 Maret 2025, bersamaan dengan Teater Mak Yong dan Jaranan: Seni Pertunjukan dan Ritual. Jika berhasil, tempe akan menjadi Warisan Budaya Takbenda ke-17 dari Indonesia yang diakui secara global. Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah Tjahjani Dwirini, menargetkan penetapan pada sidang Komite Antarpemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda (ICH) yang dijadwalkan Maret 2026.

Pengakuan tempe sebagai WBTb UNESCO lebih dari sekadar validasi budaya; ini adalah investasi masa depan. Status ini akan memberi tempe identitas baru sebagai warisan dunia, meningkatkan kebanggaan nasional, dan mendorong diplomasi budaya di sektor gastronomi. Para ahli gizi, seperti Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), turut mendukung penuh karena kandungan protein tinggi, serat pangan, probiotik, dan isoflavon yang menjadikan tempe "superfood" menyehatkan.

Namun, tantangan krusial membayangi keberlanjutan industri tempe: ketergantungan tinggi pada kedelai impor. Pada tahun 2021, produksi kedelai domestik Indonesia hanya mencapai 200.315 ton, jauh di bawah permintaan industri yang berkisar 2,8 juta ton. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya mencari solusi agar Indonesia dapat memproduksi kedelainya sendiri. Upaya ini menjadi vital untuk memastikan tempe tidak hanya diakui secara global, tetapi juga dapat diproduksi secara mandiri dan berkelanjutan.