
Ketertarikan masyarakat urban Indonesia terhadap padel melonjak pesat, mendorong pembangunan puluhan fasilitas lapangan baru di Jakarta dan sekitarnya, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah lapangan padel terbanyak di Asia Tenggara. Tren ini merefleksikan pergeseran gaya hidup menuju aktivitas olahraga yang sosial dan mudah diakses, memicu investasi signifikan dalam infrastruktur dan layanan pendukung padel di berbagai kota besar.
Padel, olahraga raket yang memadukan elemen tenis dan squash, mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 2010-an oleh komunitas ekspatriat. Olahraga ini pertama kali diciptakan oleh Enrique Corcuera di Meksiko pada 1969 dan kemudian menyebar pesat di Spanyol, tempat Federasi Internasional Padel (FIP) didirikan pada 1991. Popularitas padel di Indonesia menanjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak tahun 2022. Komunitas padel mulai terbentuk, turnamen lokal digelar, dan retailer khusus perlengkapan padel seperti PADELTOP.ID muncul pada 2025, mendukung ekosistem olahraga ini.
Data Federasi Internasional Padel (FIP) per Mei 2024 menunjukkan Indonesia memiliki 134 lapangan padel, terbanyak di Asia Tenggara (mencakup 51% dari total 267 lapangan di kawasan tersebut), menempati peringkat keenam di Asia, dan ke-29 secara global. Perkembangan ini menjadikan Indonesia sebagai pemimpin di Asia Tenggara dalam hal fasilitas padel yang terdaftar di FIP. Laporan Playtomic Global Padel Report 2025 bahkan mencatat lebih dari 7.000 lapangan baru dibangun di seluruh dunia sepanjang tahun lalu, dengan pertumbuhan 17 persen, dan Indonesia termasuk di antara negara dengan pertumbuhan tercepat. Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) secara resmi terbentuk pada 7 Juli 2023 di bawah naungan KONI Pusat, menunjukkan keseriusan dalam mengembangkan olahraga ini. PBPI juga telah menjaring atlet dan akan menggelar sirkuit nasional bertajuk Indonesia Open di empat kota besar pada tahun 2025.
Lokasi lapangan padel terkonsentrasi di Bali dengan 92 lapangan, diikuti Jakarta dengan 28 lapangan, dan Nusa Tenggara Barat dengan delapan lapangan. Di Jabodetabek saja, tercatat ada 95 lapangan padel yang sudah beroperasi hingga Agustus 2025, dengan 89 lapangan lainnya berstatus 'coming soon' atau sedang dalam tahap pembangunan. Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah lapangan terbanyak, mencapai 29 court yang beroperasi dan 40 court jika digabungkan dengan yang sedang dibangun. Beberapa lokasi padel terkemuka di Jakarta mencakup Padel Pro Kemang, Pondok Indah Padel Club, Racquet Padel Club Cilandak, Homeground Padel Kedoya, Orange Garden Padel Club, Futton Padel Club, Star Padel Pulomas, Elite Padel Club, Anfa Arena Padel Kelapa Gading, Growth Padel Ciracas, Wins Arena Kuningan, Basic Padel Reserve, Seven Padel, Verde Sports Hub, Tangkas Padel, dan Rage Padel. Harga sewa lapangan bervariasi, mulai dari Rp230 ribu hingga Rp500 ribu per jam, tergantung lokasi dan waktu.
Ryan Putra, salah satu pengelola Padel Arena Jakarta, menyatakan bahwa dahulu padel hanya dimainkan oleh ekspatriat, namun kini banyak anak muda lokal yang ikut bermain karena olahraga ini menyenangkan, sosial, dan dapat dimainkan siapa saja. Djoko Pekik Irianto, pengamat olahraga, menambahkan bahwa padel digemari karena masyarakat ingin menjajal hal baru dan merupakan permainan dinamis yang disukai kaum muda. Permainan yang bersifat ganda ini mendorong interaksi dan kekompakan antarpemain, menjadikannya aktivitas sosial yang menarik bagi milenial urban dan Gen Z.
Pertumbuhan padel yang eksponensial ini menarik minat investor dan pengembang fasilitas olahraga. Biaya pembangunan satu lapangan padel outdoor berkisar antara Rp500 juta hingga Rp800 juta, sementara okupansi lapangan di beberapa tempat mencapai 98 persen. Menurut Nailul Huda, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), bisnis padel di Indonesia berada pada tahap pertumbuhan eksponensial, atau "masa bulan madu". Huda mengingatkan agar Indonesia belajar dari kasus Swedia, di mana ledakan padel pada 2016-2020 diikuti oleh kebangkrutan puluhan operator dan penutupan ribuan lapangan akibat persaingan ketat dan inflasi. Pembentukan komunitas yang kuat melalui turnamen lokal dan nasional akan krusial untuk menjaga keberlanjutan tren ini, memberikan jalur yang jelas bagi atlet untuk berkembang. Padel bahkan telah resmi masuk program cabang olahraga Asian Games Aichi-Nagoya 2026.