Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragis: Niat Memperbesar Mr P, Pria Korea Justru Kehilangan Penisnya

2025-12-14 | 22:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-14T15:36:09Z
Ruang Iklan

Tragis: Niat Memperbesar Mr P, Pria Korea Justru Kehilangan Penisnya

Seorang pria berusia 35 tahun di Korea Selatan harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan fungsi seksual dan mengalami kesulitan buang air kecil permanen menyusul operasi pembesaran penis yang gagal. Insiden tragis ini terjadi pada tahun 2020 di sebuah klinik di distrik Gangnam, Seoul. Prosedur yang seharusnya meningkatkan ukuran penis, justru berujung pada kerusakan mengerikan dan tekanan psikologis berat bagi pasien.

Dalam operasi tersebut, ahli bedah diduga memotong seluruh korpus kavernosum, yaitu jaringan vital di batang penis yang berfungsi untuk ereksi. Tidak hanya itu, korpus spongiosum, jaringan yang melindungi uretra, juga ikut terpotong, menyebabkan penis pasien mengalami kerusakan horizontal. Akibat kesalahan fatal ini, pasien tidak hanya kehilangan kemampuan ereksi, tetapi juga mengalami gangguan serius dalam fungsi buang air kecil.

Kasus malpraktik ini telah dibawa ke jalur hukum. Pada Januari 2024, pengadilan memerintahkan ahli urologi yang bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi sekitar Rp28 juta. Namun, dokter tersebut mengajukan banding. Setelah kalah dalam banding, jumlah kompensasi ditingkatkan menjadi sekitar Rp66 juta, lantaran pengadilan menemukan adanya kelalaian medis.

Dalam persidangan, dokter dituduh tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai risiko prosedur kepada pasien. Padahal, risiko operasi pembesaran penis pada pasien ini jauh lebih tinggi karena ia sebelumnya telah memiliki implan penis yang sudah menyatu dengan jaringannya. Pengadilan menyatakan bahwa ada kemungkinan pasien akan menolak operasi seandainya risiko tersebut dijelaskan dengan benar. Majelis hakim juga menegaskan bahwa cedera tersebut sebenarnya bisa dicegah jika tanda-tanda peringatan selama operasi diperhatikan. Dalam kasus perlengketan serius, pembedahan seharusnya dihentikan sebelum menyebabkan cedera, dan penjahitan harus dipertimbangkan untuk mencegah komplikasi. Upaya pembedahan meskipun anatomi penis kurang terlihat disebut sebagai penyebab cedera.

Kejadian ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya tren operasi pembesaran penis di Korea Selatan, yang diminati banyak pria untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kepuasan seksual. Berbagai metode seperti "sunflower surgery" atau "T-Ring surgery" serta transfer lemak menjadi populer. Namun, para ahli medis telah berulang kali mengingatkan akan risiko tinggi dan potensi komplikasi yang belum terbukti efektif dari banyak teknik pembesaran penis. Asosiasi Urologi Amerika (AUA) bahkan telah memperingatkan bahwa sebagian besar teknik pembesaran penis yang beredar tidak efektif dan memiliki risiko tinggi, termasuk suntikan lemak yang gagal menyebar rata, pemotongan ligamen yang membahayakan, hingga efek samping yang mengganggu fungsi seksual.