:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478624/original/053286200_1768906587-000_Par1406003.jpg)
Dunia mode internasional berduka atas wafatnya Valentino Garavani, maestro yang dijuluki "Kaisar Terakhir" mode, pada usia 93 tahun di Roma pada 19 Januari 2026. Kepergiannya menutup satu babak penting dalam sejarah haute couture, namun meninggalkan warisan abadi yang terangkum dalam "Valentino Red", rona merah ikonik yang bukan sekadar warna, melainkan manifestasi filosofi keindahan, gairah, dan kekuatan yang telah menghiasi ribuan momen bersejarah dan karpet merah global.
Cikal bakal "Valentino Red" bermula dari sebuah pencerahan masa remaja sang desainer. Valentino Garavani, saat masih muda, mengunjungi pertunjukan opera "Carmen" karya George Bizet di Barcelona. Di sana, ia terpesona oleh pemandangan panggung yang seluruh kostumnya berwarna merah, para wanita di kotak penonton yang mengenakan gaun merah cerah menyerupai geranium di balkon, serta kursi dan tirai teater yang juga berwarna merah. Momen itu menanamkan keyakinan pada dirinya bahwa "setelah hitam dan putih, tidak ada warna yang lebih indah" dari merah. Sejak saat itu, ia memutuskan, "Merah akan menjadi warna keberuntungan saya."
Gaun merah pertama yang diperkenalkan secara resmi dalam koleksinya adalah "La Fiesta" pada koleksi Musim Semi-Musim Panas 1959, tahun yang sama dengan pendirian rumah mode Valentino. Gaun tulle tanpa tali dengan panjang sedang berwarna merah terang ini dengan cepat menjadi ciri khas yang melambungkan popularitas Valentino. Warna ini, yang kemudian dikenal sebagai "Valentino Red," adalah rona karmin dengan sentuhan oranye yang kuat, bahkan memiliki campuran Pantone spesifiknya sendiri: 100 persen magenta, 100 persen kuning, dan 10 persen hitam.
Bagi Valentino, merah adalah lambang kehidupan, gairah, dan cinta. Ia pernah menyatakan, "Saya rasa seorang wanita bergaun merah selalu luar biasa, dia adalah gambaran sempurna seorang pahlawan wanita." Rona ini melambangkan keberanian, kekuatan, dan vitalitas, yang dalam konteks mode, mengkomunikasikan kesan seksi, berani, dan percaya diri. Ia memahami bahwa wanita menginginkan untuk merasa cantik dan percaya diri. "Gaun yang bagus harus membuat seorang perempuan merasa bercahaya, seolah memiliki aura yang memancar dari dalam dirinya," ujarnya.
Selama lima dekade kariernya, Valentino secara konsisten mengakhiri banyak koleksinya dengan gaun merah, menjadikannya sebuah pernyataan visual bahwa keindahan adalah bentuk kekuasaan. Gaun-gaun merahnya telah dikenakan oleh deretan tokoh paling berpengaruh dunia, mulai dari Jacqueline Kennedy Onassis, Elizabeth Taylor, Sophia Loren, Putri Diana, hingga bintang Hollywood modern seperti Julia Roberts, Anne Hathaway, Gwyneth Paltrow, Nicole Kidman, Cate Blanchett, Zendaya, Carey Mulligan, dan Gemma Chan. Kehadiran gaun merah Valentino di karpet merah menjadi simbol keanggunan, kemewahan, dan daya tarik yang tak lekang oleh waktu.
Meskipun Valentino Garavani pensiun dari dunia mode pada tahun 2008 setelah peragaan busana haute couture terakhirnya di Paris, warisan "Valentino Red" tetap hidup. Di bawah kepemimpinan direktur kreatif berikutnya, termasuk Pierpaolo Piccioli dan kini Alessandro Michele sejak 2024, penggunaan warna merah tetap menjadi elemen inti identitas rumah mode Valentino. Ini bukan sekadar penghormatan, melainkan penegasan filosofi abadi Valentino yang menolak mengikuti tren demi tren, melainkan fokus pada kemewahan yang dapat dikenakan dan mengejar keindahan. "Valentino Red" bukan hanya sepotong sejarah mode; ia adalah simbol keabadian estetika yang terus relevan, membuktikan bahwa visi seorang maestro dapat terus menginspirasi dan mendefinisikan standar keindahan lintas generasi.