Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Influenza AS Merajalela: 18 Juta Kasus Flu 'Super' Gemparkan Amerika

2026-01-18 | 09:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T02:29:12Z
Ruang Iklan

Influenza AS Merajalela: 18 Juta Kasus Flu 'Super' Gemparkan Amerika

Amerika Serikat sedang bergulat dengan lonjakan kasus influenza yang meluas dan parah pada musim 2025-2026, dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan setidaknya 18 juta kasus penyakit, 230.000 rawat inap, dan 9.300 kematian akibat flu hingga pekan yang berakhir pada 10 Januari 2026. Situasi ini, yang oleh banyak pihak disebut sebagai "super flu", didorong oleh peredaran dominan subtipe influenza A(H3N2) subclade K, varian yang menunjukkan penyebaran agresif dan gejala lebih intens, menempatkan tekanan signifikan pada sistem layanan kesehatan nasional.

CDC mengklasifikasikan musim flu 2025-2026 sebagai "cukup parah" (moderately severe) untuk pertama kalinya, sebuah indikasi peningkatan kekhawatiran dari otoritas kesehatan. Kunjungan pasien dengan gejala mirip flu ke fasilitas kesehatan telah mencapai tingkat tertinggi dalam 25 tahun terakhir, setara dengan musim flu 1997-1998. Dr. Caitlin Rivers, seorang ahli epidemiologi dari Johns Hopkins Center for Health Security, mencatat bahwa ini adalah tahun yang sangat berat, dengan kondisi yang belum pernah terlihat setidaknya dalam dua dekade terakhir. Hospitalisasi akibat flu juga menunjukkan laju yang mengkhawatirkan, dengan 33.301 pasien dirawat di rumah sakit dalam satu minggu hingga akhir Desember. Sebanyak 48 yurisdiksi di AS melaporkan aktivitas influenza yang tinggi atau sangat tinggi pada awal Januari 2026.

Istilah "super flu" sendiri bukanlah diagnosis medis resmi, melainkan deskripsi populer yang digunakan untuk merujuk pada musim flu yang sangat parah atau meluas, atau gejala flu yang terasa lebih intens dari biasanya. Banyak ahli mengaitkan istilah ini dengan subclade K dari virus influenza A(H3N2), yang pertama kali diidentifikasi oleh CDC pada Agustus 2025. Varian ini menjadi dominan di belahan bumi utara setelah komposisi vaksin flu musim 2025-2026 ditetapkan pada Februari 2025, menimbulkan kekhawatiran tentang potensi ketidaksesuaian vaksin. Dr. Robert Hopkins Jr., Direktur Medis National Foundation for Infectious Diseases (NFID), menyatakan kekhawatirannya akan strain baru yang bermutasi ini, mengingat H3N2 secara historis dikenal menyebabkan penyakit yang lebih berat. Namun, Dr. Nia Krisniawati, seorang dosen ahli Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Unsoed, menegaskan bahwa subclade K adalah bagian dari evolusi normal virus influenza dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan varian H3N2 lainnya.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap lonjakan kasus ini meliputi mobilitas tinggi selama liburan akhir tahun, cakupan vaksinasi yang rendah, serta misinformasi terkait vaksin. Tingkat vaksinasi flu pada anak-anak telah menurun dari 53 persen pada musim 2019-2020 menjadi 42 persen musim ini, sementara pada orang dewasa turun dari 61 juta dosis menjadi 48 juta dosis. Meskipun demikian, para ahli kesehatan seperti Dr. Michael Osterholm dari Center for Infectious Disease Research and Policy University of Minnesota, mendesak masyarakat untuk segera mendapatkan vaksinasi, menegaskan bahwa vaksin tetap memberikan perlindungan terhadap dampak terburuk flu. Perkiraan awal efektivitas vaksin di Inggris menunjukkan perlindungan 70-75% terhadap rawat inap terkait flu pada anak-anak dan 30-40% pada orang dewasa.

Implikasi jangka panjang dari musim flu yang parah ini melampaui statistik kasus dan rawat inap. Tekanan pada rumah sakit telah mencapai titik kritis di beberapa negara bagian, dengan Komisioner Kesehatan Publik Massachusetts, Dr. Robbie Goldstein, melaporkan bahwa rumah sakit kewalahan menangani pasien, termasuk anak-anak dengan kondisi berat, dan keluarga yang kehilangan orang tercinta. Situasi ini menyoroti kerapuhan kapasitas sistem layanan kesehatan di hadapan wabah pernapasan yang masif dan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya pencegahan dan respons. Musim flu yang didominasi H3N2 secara historis cenderung lebih berat, dan meskipun para ahli menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti mengenai puncaknya, aktivitas flu diperkirakan akan berlanjut selama beberapa minggu mendatang.