Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jelajah Rasa Bandung Sehari: 10 Kuliner Ikonik Wajib Coba dengan Rute Cerdas

2026-01-18 | 16:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T09:51:56Z
Ruang Iklan

Jelajah Rasa Bandung Sehari: 10 Kuliner Ikonik Wajib Coba dengan Rute Cerdas

Bandung, Jawa Barat, mengukuhkan posisinya sebagai destinasi utama bagi wisatawan kuliner, dengan 60 persen dari 6,5 juta pengunjung hingga Agustus 2025 datang khusus untuk mengeksplorasi ragam hidangan khasnya, menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung. Fenomena ini mendorong pengembangan rute efisien bagi pelancong dengan waktu terbatas, memungkinkan eksplorasi sepuluh kuliner legendaris dalam satu hari yang terintegrasi.

Kota Bandung, yang sejak era kolonial dijuluki "Paris van Java" dan dikenal sebagai "surga tukang jajan," memiliki sejarah kuliner panjang yang diwarnai akulturasi budaya. Pengaruh Eropa dan keunikan cita rasa Sunda berpadu, melahirkan hidangan ikonik seperti batagor yang merupakan akulturasi bakso Tionghoa dengan tahu dan bumbu kacang khas Indonesia. Seiring waktu, kota ini terus berinovasi, menjaga tradisi sambil menciptakan tren kuliner baru yang menarik minat wisatawan modern yang mencari pengalaman otentik dan lokal.

Untuk memaksimalkan pengalaman kuliner dalam satu hari, perjalanan dapat dimulai pada pukul 07.00 pagi di Warung Kopi Purnama, Jalan Alkateri No.22, Braga, yang telah berdiri sejak 1930. Di sini, pengunjung dapat menikmati Roti Bakar Selai Srikaya buatan sendiri dengan Kopi Susu panas. Kedekatannya dengan Jalan Braga dan Alun-Alun memungkinkan eksplorasi awal dengan berjalan kaki. Pukul 08.30, tujuan berikutnya adalah Kupat Tahu Gempol di Jalan Gempol Kulon No.53, salah satu warung legendaris sejak 1965 yang terkenal dengan bumbu kacang kental dan tahu lembutnya.

Menjelang siang, pukul 10.00, perjalanan dilanjutkan ke Batagor Kingsley di Jalan Veteran No.25. Batagor, singkatan dari Bakso Tahu Goreng, adalah kudapan khas Bandung yang mendunia, disajikan dengan saus kacang gurih dan manis. Pada pukul 12.00, Mie Kocok Mang Dadeng di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No.67 menawarkan kenikmatan mie kuning dengan kuah kaldu sapi gurih dan kikil empuk yang legendaris sejak 1970-an. Setelah itu, pukul 14.00, Sate Jando Gasibu yang berlokasi di belakang Gedung Sate menyajikan sate jando, bagian payudara sapi, yang lembut dan lumer dengan bumbu kacang khas, telah eksis sejak 1970-an.

Sore hari, pukul 15.30, eksplorasi kuliner dapat mengarah ke kawasan Lengkong Kecil atau Dipati Ukur untuk mencicipi Seblak. Meskipun ada Seblak Teh Santi yang dikenal, banyak pedagang kaki lima di area ini menawarkan variasi seblak kerupuk basah pedas dengan berbagai isian. Pukul 17.30, Bebek Ali Borme di Jalan Dipati Ukur No.4 menjadi pilihan untuk hidangan bebek istimewa dengan sambal pedas manis dan bumbu kuning.

Menjelang malam, pukul 19.30, Nasi Kalong di Jalan R.E Martadinata No.57 menawarkan nasi hitam yang berasal dari kluwek, disajikan dengan aneka lauk seperti ayam goreng madu, menjadikannya ikon kuliner malam Bandung. Untuk camilan penutup, pukul 21.00, Surabi di Pasar Cihapit atau Serabi Mirasa di Jalan Cihampelas menyediakan penganan tradisional yang dibakar di tungku tanah liat dengan berbagai topping, dari original hingga modern. Terakhir, untuk oleh-oleh, gerai Kartika Sari yang tersebar di berbagai sudut kota menawarkan pilihan brownies dan bolen pisang yang telah menjadi ciri khas Bandung.

Sektor kuliner Bandung bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan juga mesin ekonomi yang krusial. Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, secara konsisten menekankan pentingnya peran kuliner dalam mencapai target kunjungan 8,7 juta wisatawan pada tahun 2025. Industri kuliner, yang didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menyerap sebagian besar tenaga kerja lokal. Meskipun UMKM kuliner Bandung sempat mengalami penurunan omzet rata-rata 70% selama pandemi 2020-2021, adaptasi digital memungkinkan UMKM dengan pemasaran daring mencatat pertumbuhan omzet 25-40% pada 2022-2023.

Pengembangan infrastruktur seperti Kereta Cepat Whoosh Jakarta–Bandung semakin memfasilitasi perjalanan satu hari, memperkuat potensi Bandung sebagai pusat gastronomi yang mudah diakses. Pemerintah Kota Bandung aktif mendorong pelaku usaha kuliner untuk memperkuat citra kota kreatif ini, bukan hanya lewat rasa, tetapi juga melalui inovasi produk, presentasi, dan pemasaran yang relevan dengan pasar global. Tantangan ke depan termasuk menjaga kualitas dan konsistensi, serta memastikan hidangan tradisional tetap menarik bagi generasi muda di tengah gempuran tren makanan global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha, Bandung berupaya menciptakan ekosistem kuliner yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif, memastikan "cerita di piring" kota ini terus hidup dan menyejahterakan warganya.