
Fakta bahwa usia muda menjadi perisai alami terhadap penyakit jantung adalah mitos berbahaya yang dibantah oleh data medis terbaru dan pengamatan klinis. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia dan dunia menyaksikan tren mengkhawatirkan: usia rata-rata penderita penyakit jantung, khususnya serangan jantung, semakin muda, dengan peningkatan prevalensi sebesar 2% setiap tahunnya pada kelompok usia di bawah 40 tahun secara global antara tahun 2000 hingga 2016. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan usia diagnosis pertama penyakit jantung di Indonesia bergeser dari rata-rata 48,5 tahun pada 2013 menjadi 43,2 tahun pada 2023. Bahkan, kelompok usia 25-34 tahun kini mendominasi jumlah pasien jantung dengan 140.206 orang, sedikit di atas kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 139.891 orang, menurut data SKI 2023.
Pergeseran demografi penderita penyakit jantung ini menandai kegagalan pemahaman publik yang mengasosiasikan penyakit kardiovaskular secara eksklusif dengan usia lanjut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian nomor satu secara global, dengan 17,9 juta kematian pada tahun 2019, 85% di antaranya akibat serangan jantung dan stroke. Di Indonesia, penyakit jantung menempati peringkat kedua setelah stroke sebagai penyebab kematian.
Penyebab utama peningkatan kasus pada usia muda adalah kombinasi faktor gaya hidup modern yang tidak sehat. Pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, konsumsi makanan cepat saji, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama. dr. Radityo Prakoso, Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, menyebutkan gaya hidup sedenter (minim gerak) dan kebiasaan merokok sebagai faktor pemicu utama peningkatan angka penyakit jantung koroner pada pemuda di bawah 40 tahun. Merokok, termasuk penggunaan vape, merusak dinding arteri, meningkatkan tekanan darah, dan kadar kolesterol jahat (LDL). Stres kronis, kurang tidur, obesitas, diabetes tipe 2, dan polusi udara juga turut memperburuk risiko. Spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular dr. M Tasrif Mansur, SpPD, K-KV, menyoroti banyak pasien muda datang dengan kondisi berat karena serangan jantung tanpa menyadari adanya faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau diabetes.
Penyakit jantung koroner, yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri koroner akibat penumpukan plak, merupakan jenis penyakit jantung paling umum di Indonesia dan semakin sering menyerang usia produktif. Proses aterosklerosis, penumpukan plak di arteri, bisa dimulai sejak usia remaja dan berkembang tanpa gejala signifikan hingga mencapai titik kritis. Gejala serangan jantung pada usia muda seringkali tidak dramatis dan mudah disalahartikan sebagai masuk angin atau kelelahan, seperti rasa tidak nyaman di dada, nyeri ringan di lengan kiri, napas pendek, mual, pusing, atau nyeri rahang/tenggorokan. Keterlambatan deteksi dan penanganan ini dapat berakibat fatal.
Dampak penyakit jantung pada usia produktif sangat luas, mencakup penurunan produktivitas, beban finansial bagi pasien dan keluarga akibat biaya pengobatan yang mahal, serta dampak psikologis. Pemerintah memperkirakan beban ekonomi akibat klaim BPJS Kesehatan untuk penyakit jantung akan mencapai Rp 67,34 triliun pada tahun 2024, termasuk kerugian produktivitas.
Untuk memitigasi tren yang mengkhawatirkan ini, ahli kesehatan menekankan pentingnya edukasi tentang pola hidup sehat, termasuk aktivitas fisik teratur, diet seimbang rendah lemak jenuh, gula, dan garam, berhenti merokok dan konsumsi alkohol, serta pengelolaan stres. Skrining faktor risiko secara dini, seperti pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, juga krusial bagi dewasa muda, terutama yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung. Kebijakan kesehatan yang mendukung, seperti pajak lebih tinggi pada produk berbahaya seperti minuman manis dan alkohol, juga didesak oleh WHO untuk mengurangi konsumsi dan melindungi kesehatan masyarakat.