
Munculnya memar tanpa penyebab yang jelas pada tubuh telah lama dikaitkan dengan mitos di masyarakat, namun kondisi ini secara medis merupakan sinyal penting yang tidak boleh diabaikan, berpotensi menjadi indikasi awal beberapa jenis kanker, terutama kanker darah. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan darah dan kanker, Dr. Agung Firmansyah Sumantri, SpPD-KHOM, menjelaskan bahwa memar tiba-tiba seringkali disebabkan oleh gangguan pada trombosit atau keping darah yang berperan vital dalam proses pembekuan darah.
Secara normal, memar terbentuk ketika pembuluh darah kecil di bawah kulit pecah, biasanya akibat benturan atau trauma ringan, menyebabkan darah merembes ke jaringan sekitar dan menimbulkan perubahan warna. Namun, ketika memar muncul secara spontan, berukuran lebih besar, sangat nyeri, atau di lokasi yang tidak biasa seperti punggung atau wajah, serta membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sembuh, ini memerlukan evaluasi medis lebih lanjut. Kondisi ini bisa menjadi manifestasi dari penyakit serius, termasuk kanker yang memengaruhi darah dan sumsum tulang.
Kanker Darah dan Mekanisme Memar
Kanker darah seperti leukemia, limfoma, dan multiple myeloma adalah jenis kanker yang paling sering dikaitkan dengan gejala memar tanpa sebab.
1. Leukemia: Kanker yang berkembang di sumsum tulang, tempat sel darah diproduksi. Leukemia dapat menyebabkan tubuh memproduksi sel darah putih abnormal secara berlebihan yang mengganggu produksi trombosit (keping darah) dan sel darah merah yang sehat. Penurunan jumlah trombosit secara drastis (trombositopenia) membuat darah sulit membeku, sehingga penderita mudah mengalami memar bahkan dari benturan ringan, sering mimisan, atau gusi berdarah. Memar akibat leukemia seringkali terlihat seperti memar biasa, tetapi jumlahnya lebih banyak dan bisa muncul di area yang tidak biasa, seperti punggung.
2. Multiple Myeloma: Kanker ini menyerang sel plasma di sumsum tulang, yang bertanggung jawab membentuk antibodi. Ketika sel plasma tidak berkembang normal, sel kanker menekan pertumbuhan sel plasma sehat dan mengganggu fungsi sumsum tulang, termasuk produksi sel darah lainnya, yang dapat mengakibatkan trombosit rendah. Gejala multiple myeloma meliputi mudah memar, mimisan, nyeri tulang, mual, dan kelelahan ekstrem.
3. Limfoma: Kanker sistem limfa yang bermula dari sel imun (limfosit) dan dapat memengaruhi kelenjar getah bening, limpa, timus, dan sumsum tulang. Jika limfoma menyerang sumsum tulang, hal ini dapat menyebabkan penumpukan sel kanker dan mengurangi ruang untuk produksi sel darah normal, termasuk trombosit. Akibatnya, penderita dapat mengalami trombosit rendah yang meningkatkan risiko perdarahan dan memar. Limfoma juga dapat ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening yang tidak nyeri di leher, ketiak, atau selangkangan, serta demam, keringat malam berlebih, dan penurunan berat badan yang tidak disengaja.
Peran Trombositopenia
Trombositopenia, atau kondisi rendahnya jumlah trombosit di bawah batas normal (150.000–450.000 keping per mikroliter darah), adalah penyebab utama di balik munculnya memar pada pasien kanker darah. Selain kanker, trombositopenia juga dapat disebabkan oleh kemoterapi dan radiasi, infeksi virus, penyakit hati, atau gangguan autoimun. Pada kasus kanker, trombositopenia dapat timbul karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel kanker leukemia, yang secara efektif mengusir sel-sel yang memproduksi trombosit.
Implikasi dan Deteksi Dini
Kementerian Kesehatan RI memproyeksikan peningkatan kasus kanker hingga 70 persen pada tahun 2050. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi krusial untuk menekan angka kejadian dan kematian akibat kanker.
"Jangan menunggu sakit untuk peduli terhadap kesehatan. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Mulailah dengan pola hidup sehat dan rutin lakukan pemeriksaan kesehatan," ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat.
Individu yang mengalami memar berulang tanpa sebab jelas, terutama jika disertai gejala lain seperti kelelahan ekstrem yang tidak membaik setelah istirahat, penurunan berat badan tanpa alasan, demam persisten, sering infeksi, atau pembengkakan kelenjar getah bening, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis hematologi dan onkologi medik. Pemeriksaan darah lengkap, tes fungsi hati dan ginjal, hingga biopsi sumsum tulang mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab pasti dan memastikan diagnosis. Deteksi dan penanganan dini adalah kunci untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah komplikasi serius.