Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengupas Dinamika Pria Pasca-Pacaran: Pakar Hubungan Ungkap Rahasia Perubahan

2026-01-19 | 23:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T16:04:06Z
Ruang Iklan

Mengupas Dinamika Pria Pasca-Pacaran: Pakar Hubungan Ungkap Rahasia Perubahan

Fenomena perubahan perilaku pria setelah memasuki fase pacaran atau komitmen seringkali menjadi pertanyaan mendalam, memicu perdebatan di kalangan pasangan dan memantik analisis dari para pakar hubungan. Pergeseran dinamika ini, yang kerap ditafsirkan sebagai berkurangnya perhatian atau antusiasme, berakar pada berbagai faktor psikologis dan sosial yang kompleks, bukan semata-mata hilangnya perasaan.

Para ahli psikologi dan konselor hubungan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama perubahan ini adalah transisi dari fase "pendekatan" (PDKT) menuju kemapanan hubungan. Selama masa PDKT, baik pria maupun wanita cenderung menampilkan versi diri terbaik mereka, berinvestasi besar pada upaya menarik perhatian, romansa, dan ketersediaan emosional. Jet Veetlev, seorang Love & Relationship Coach dari Loveable Lady, menyatakan bahwa pada fase ini, pria secara alami akan menunjukkan sisi paling pengertian, baik, dan dengan banyak kesamaan. Namun, "Kenyataannya tidak ada yang berubah. Itu hanyalah wujud aslinya, tanpa ada paksaan dan kewajiban untuk selalu tampil menjadi dirinya sendiri,” ungkap Veetlev, merujuk pada fakta bahwa setelah hubungan terjalin, individu merasa lebih nyaman untuk menunjukkan diri mereka yang sesungguhnya, termasuk kekurangan yang sebelumnya tertutupi.

Lebih lanjut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, pada Senin (30/12/2024), menjelaskan fenomena ini melalui konsep "happiness treadmill". Ia mengumpamakan kegembiraan awal seperti saat mendapatkan mobil baru yang intensitasnya memudar seiring waktu, kembali ke titik kebahagiaan dasar. Hal serupa berlaku dalam hubungan; semangat awal untuk "memenangkan" pasangan akan berkurang setelah tujuan tersebut tercapai, bukan berarti kebahagiaan dalam hubungan menghilang, melainkan stabil pada tingkat yang berbeda.

Aspek lain yang sangat berpengaruh adalah gaya keterikatan (attachment style) yang berkembang sejak masa kecil, sebagaimana dijelaskan dalam teori keterikatan John Bowlby. Teori ini mengklasifikasikan gaya keterikatan menjadi aman (secure), cemas (anxious), dan menjauh (avoidant), yang semuanya memengaruhi pola interaksi dan kebutuhan emosional dalam hubungan romantis. Individu dengan gaya keterikatan aman cenderung nyaman dengan keintiman sekaligus kemandirian, dan memiliki pandangan positif terhadap diri serta pasangannya. Sebaliknya, individu dengan gaya keterikatan cemas mungkin merasa tidak aman dan membutuhkan validasi terus-menerus, sementara gaya menjauh cenderung menghindari keintiman emosional dan ketergantungan. Penelitian menunjukkan bahwa gaya keterikatan ini berkorelasi dengan kemampuan self-disclosure (keterbukaan diri). Pria dengan keterikatan aman lebih cenderung melakukan self-disclosure secara signifikan karena memandang diri dan orang lain secara positif. Namun, individu dengan keterikatan cemas atau menjauh mungkin lebih sulit mengungkapkan diri karena pandangan negatif terhadap diri atau orang lain, meskipun self-disclosure juga bisa menjadi cara mereka mencari kedekatan atau mengurangi rasa takut ditinggalkan.

Perbedaan ekspektasi antara pria dan wanita juga sering menjadi sumber kesalahpahaman. Setelah menjalin komitmen, banyak pria mencari kestabilan dalam hubungan. Mereka merasa aman karena telah memiliki pasangan, memungkinkan mereka untuk mengalihkan fokus pada aspek kehidupan lain seperti karier atau hobi. Bagi pria, momen bersama pasangan yang diisi dengan aktivitas masing-masing namun tetap dalam satu ruangan dapat diartikan sebagai kedamaian dan kenyamanan, bukan ketidakpedulian. Sebaliknya, wanita mungkin mengharapkan perhatian, romansa, dan interaksi yang lebih konsisten seperti di awal hubungan. Perbedaan sudut pandang ini, antara kebutuhan pria akan stabilitas dan fokus pada tujuan lain versus kebutuhan wanita akan perhatian dan romansa yang berkelanjutan, seringkali menciptakan persepsi "perubahan".

Implikasi dari perbedaan-perbedaan ini sangat signifikan terhadap kesehatan mental dan kepuasan hubungan jangka panjang. Misinterpretasi terhadap perubahan perilaku dapat menyebabkan konflik dan rasa tidak aman pada pasangan. Komunikasi terbuka menjadi krusial untuk menjembatani kesenjangan ekspektasi dan memahami kebutuhan masing-masing. Memahami bahwa perubahan perilaku setelah pacaran seringkali merupakan manifestasi dari kenyamanan, gaya keterikatan, atau pergeseran prioritas alami, dapat membantu pasangan membangun hubungan yang lebih sehat dan tangguh. Pengakuan terhadap identitas otentik masing-masing, yang muncul setelah fase pendekatan, adalah fondasi penting untuk membangun koneksi yang lebih dalam dan berkelanjutan, jauh melampaui ilusi romansa awal.