
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menyambut positif maraknya komunitas jalan kaki yang kini menjadi alternatif bagi masyarakat, khususnya anak muda, di tengah persepsi olahraga lari yang kian kompetitif. Sadikin menegaskan bahwa inti dari aktivitas fisik adalah menjaga tubuh tetap aktif sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) minimal 30 menit sehari, tanpa harus selalu melibatkan intensitas tinggi atau nuansa kompetitif. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 19 Januari 2026, menanggapi tren yang berkembang di berbagai kota, di mana media sosial dipenuhi konten jalan santai menyusuri area "hidden gems" atau gang-gang kecil.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat yang mulai mencari bentuk olahraga lebih santai dan inklusif. Lari, yang sebelumnya sangat populer, kini banyak dinilai terlalu kompetitif karena fokus pada target kecepatan (pace), podium lomba, catatan waktu pribadi (personal best/PB), hingga ajang pamer di media sosial. Mahesa (28), seorang penggemar jalan kaki di Malang yang aktif di komunitas "Uklamtahes" sejak 2023, menyatakan bahwa jalan kaki menawarkan alternatif olahraga yang lebih santai dibandingkan komunitas lari atau sepeda yang cenderung kompetitif. Menurutnya, jalan kaki tidak membutuhkan usaha fisik seberat lari dan lebih fleksibel. Komunitas ini rutin mengadakan kegiatan "jalan kaki blusukan" 2-3 kali sebulan, mendorong anggotanya menjelajahi tempat baru dan bersosialisasi.
Meskipun tren komunitas jalan kaki menunjukkan peningkatan partisipasi aktif, data lain dari GoodStats per 24 Desember 2024 menunjukkan bahwa jalan kaki memang menempati posisi teratas sebagai aktivitas fisik favorit masyarakat Indonesia dengan tingkat popularitas 74%, mengungguli lari yang berada di urutan kedua dengan 44%. Namun, studi dari Stanford University yang dikutip oleh Kementerian Kesehatan RI pada 30 November 2024, justru menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk paling malas berjalan kaki di dunia, dengan rata-rata hanya 3.513 langkah per hari, jauh di bawah standar 10.000 langkah yang disarankan untuk menjaga kesehatan optimal. Data ini menunjukkan kontradiksi antara popularitas jalan kaki sebagai pilihan aktivitas fisik dengan realitas tingkat aktivitas jalan kaki harian secara keseluruhan.
Perdebatan mengenai mana yang lebih baik antara lari dan jalan kaki untuk kesehatan telah berlangsung lama. Meskipun lari dapat membakar kalori lebih banyak dalam waktu singkat, ia juga memiliki risiko cedera yang lebih besar seperti tendinitis Achilles, shin splints, lepuh kaki, keseleo otot, dan nyeri lutut karena merupakan olahraga berdampak tinggi. Sebaliknya, jalan kaki lebih ringan bagi persendian, memiliki dampak rendah, dan lebih mudah dilakukan oleh berbagai kelompok usia dan tingkat kebugaran, menjadikannya pilihan ideal untuk memulai rutinitas olahraga. Konsistensi dalam beraktivitas fisik, terlepas dari intensitasnya, menjadi kunci utama dalam mencapai manfaat kesehatan, termasuk menjaga tekanan darah, gula darah, dan kolesterol terkendali, yang dapat menurunkan prevalensi penyakit kardiovaskular antara 30 hingga 50 persen.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, pada Indonesia Sports Summit 2025 mengungkapkan keprihatinan atas fenomena "mager" atau malas gerak, terutama di kalangan remaja. Survei Kesehatan Indonesia mencatat 58 persen remaja berusia 10 hingga 14 tahun malas bergerak, menunjukkan krisis kebugaran di usia muda. Dalam konteks ini, dukungan Menkes terhadap komunitas jalan kaki dapat dilihat sebagai upaya strategis untuk mengatasi masalah inaktivitas fisik yang lebih luas, menawarkan jalur yang lebih mudah diakses dan tidak intimidatif bagi masyarakat untuk memulai atau meningkatkan aktivitas fisik mereka. Memfasilitasi pilihan olahraga yang beragam dan inklusif menjadi krusial dalam membentuk masyarakat yang lebih sehat dan aktif secara berkelanjutan, terutama mengingat tantangan penyakit tidak menular yang terus meningkat.