:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475941/original/080465900_1768701346-vit_c.jpg)
Perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi telah memicu kekhawatiran akan penurunan daya tahan tubuh, mendorong para ahli gizi dan kesehatan untuk kembali menyoroti peran vital vitamin C dalam memperkuat sistem imun. Kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti pergantian mendadak dari panas terik ke hujan deras, terbukti membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri, serta memperparah kondisi kesehatan yang sudah ada.
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, IPB University, Prof. Hardinsyah, secara konsisten menekankan bahwa kecukupan asupan vitamin C merupakan kunci utama dalam menjaga sistem pertahanan tubuh, terutama saat fluktuasi cuaca ekstrem. Menurutnya, vitamin C tidak hanya esensial dalam memproduksi antibodi, tetapi juga memperkuat sel-sel imun dan menjaga kesehatan jaringan tubuh. Defisiensi vitamin C dapat berimplikasi langsung pada penurunan daya tahan tubuh, ditandai dengan gejala fisik seperti kulit kering dan kasar, penyembuhan luka yang lebih lambat, hingga gusi mudah berdarah.
Mekanisme kerja vitamin C dalam memperkuat sel imun terbilang kompleks. Sebagai antioksidan kuat, vitamin C melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang meningkat saat tubuh melawan infeksi. Vitamin yang larut dalam air ini merangsang produksi natural killer cell, sel-sel kekebalan yang berperan penting dalam menghancurkan sel yang terinfeksi. Selain itu, vitamin C mendukung pembentukan interferon dan mengoptimalkan kerja imunoglobulin, keduanya merupakan komponen krusial dalam respons tubuh melawan patogen. Studi juga menunjukkan bahwa vitamin C meningkatkan fungsi barier epitel terhadap patogen dan memperkuat aktivitas scavenger oksidan kulit, memberikan efek protektif terhadap stres oksidatif lingkungan. Vitamin C terakumulasi dalam sel fagosit seperti neutrofil, meningkatkan kemotaksis, fagositosis, dan generasi spesies oksigen reaktif, yang esensial dalam eliminasi mikroba.
Kebutuhan harian vitamin C untuk orang dewasa bervariasi, dengan pria dewasa membutuhkan sekitar 90 miligram (mg) dan wanita dewasa 75 mg. Namun, asupan dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat dalam kondisi tertentu seperti saat sakit flu atau radang saluran napas, pada ibu hamil, menyusui, perokok aktif dan pasif, atau peminum alkohol. Dokter Spesialis Gizi Klinis dr. Nurul Ratna Mutu Manikam M.Gizi, Sp.GK, menyatakan bahwa perokok membutuhkan sekitar 100 mg vitamin C per hari.
Meskipun suplemen vitamin C tersedia luas, para ahli seperti Prof. Hardinsyah sangat menganjurkan untuk mengutamakan sumber alami dari buah dan sayur segar. Jambu biji, jeruk, tomat, pepaya, kiwi, stroberi, brokoli, dan paprika kuning adalah beberapa contoh sumber vitamin C yang kaya. Penting untuk dicatat bahwa vitamin C mudah rusak oleh panas, sehingga metode pengolahan yang tidak menggunakan suhu tinggi, seperti dikonsumsi mentah, dijadikan salad, atau ditumis cepat, lebih disarankan untuk mempertahankan kandungan vitaminnya.
Fenomena perubahan iklim dan cuaca ekstrem sendiri berdampak luas pada kesehatan manusia, mulai dari penurunan daya tahan tubuh, peningkatan penyebaran penyakit menular seperti demam berdarah, hingga memperburuk kondisi pernapasan seperti asma. Peningkatan suhu global dapat memperburuk kualitas udara dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi nyamuk pembawa virus. Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 2 miliar orang di dunia kini menghadapi ancaman kesehatan yang lebih tinggi akibat cuaca ekstrem, dengan peningkatan angka kematian akibat gelombang panas mencapai 70% dibandingkan dua dekade sebelumnya. Dalam konteks ini, optimalisasi asupan vitamin C menjadi strategi mitigasi penting yang dapat dilakukan individu untuk memperkuat pertahanan tubuh dari berbagai ancaman kesehatan yang dimediasi oleh perubahan lingkungan.