
Psikiater menyoroti kerentanan individu tertentu terhadap pemicu emosional ketika berinteraksi dengan konten bertema trauma dan luka emosional, seperti yang ditemukan dalam karya "Broken Strings". Dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ., seorang spesialis kedokteran jiwa, menjelaskan bahwa reaksi emosional berlebih saat membaca materi semacam itu bukanlah hal yang aneh, terutama bagi penyintas trauma. Kelompok-kelompok ini dapat mengalami respons emosional yang intens secara mendadak, seperti kemarahan, kecemasan, ketakutan, atau kesedihan, bahkan hanya dari membaca sebuah buku.
Konten "Broken Strings" sendiri, yang juga muncul dalam seri "Chaos Theory" dan "Wynter Wild", mengeksplorasi tema-tema mendalam seperti obsesi, rahasia, kekacauan emosional, trauma masa lalu, penderitaan mental, dan hubungan yang rusak. L.B. Martin, penulis "Stolen Notes and Broken Strings", bahkan menyertakan peringatan konten atau pemicu, menegaskan agar pembaca berhati-hati demi kesehatan mental mereka. Konsep "broken strings" secara metaforis merujuk pada gangguan dalam koneksi keluarga dan luka emosional yang memerlukan pemulihan.
Menurut dr. Kembaren, kelompok yang paling rentan terhadap pemicu ini meliputi penyintas grooming, kekerasan seksual, atau manipulasi relasional, di mana luka masa lalu mereka dapat dengan mudah mengaktifkan kembali ingatan lama. Selain itu, individu dengan trauma relasional, seperti mereka yang pernah mengalami gaslighting, manipulasi emosional, atau hubungan dengan ketidakseimbangan kekuasaan, juga sangat berisiko. Empati yang tinggi juga menjadi faktor kerentanan, membuat seseorang lebih mudah terseret dalam cerita dan merasakan emosi karakter. Kondisi kerentanan emosional lainnya, seperti burnout, depresi, kecemasan berat, konflik relasional, atau bahkan individu yang tidak menyadari adanya luka lama, dapat mempermudah terjadinya pemicuan emosi. Reaksi fisik yang dapat muncul saat seseorang terpicu termasuk mual, pusing, jantung berdebar, napas pendek, kecemasan berlebihan, hingga perasaan "tidak aman" meskipun hanya membaca.
Fenomena pemicu emosi ini mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam paparan konten media. Media sosial, misalnya, telah diidentifikasi sebagai faktor yang dapat meningkatkan perasaan depresi dan kecemasan, khususnya di kalangan remaja. Studi menunjukkan bahwa siswa yang menghabiskan dua jam sehari di media sosial melaporkan tingkat kecemasan, depresi, dan pikiran untuk bunuh diri yang lebih tinggi. Perbandingan sosial yang tidak sehat, fenomena Fear Of Missing Out (FOMO), dan paparan terus-menerus terhadap informasi negatif dapat memperburuk kondisi mental, menyebabkan emosi tidak stabil dan depresi. Psikolog Anak dan Remaja UI, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, juga mengamati bahwa akumulasi kebutuhan emosi yang tidak terpenuhi atau perlakuan yang memicu emosi negatif dapat menyebabkan seseorang menarik diri atau bahkan melakukan tindakan ekstrem.
Para ahli kesehatan mental menekankan bahwa pemicu emosional, meskipun tidak menyenangkan, sebenarnya dapat menjadi "panggilan untuk menyembuhkan luka kita" dan "pembawa pesan untuk bagian diri kita yang belum sembuh". Oleh karena itu, mengenali pemicu dan memahami respons diri adalah langkah penting menuju penyembuhan. Jika kondisi emosional berlangsung lama atau mengganggu fungsi sehari-hari, seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan suasana hati yang ekstrem, mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan. Intervensi dini dapat mencegah dampak jangka panjang dari gangguan mental dan membantu individu mengembangkan strategi koping yang fungsional.