Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pria Gen Z & Milenial Pasif Kencan: Terkuak Alasan Mereka Tak Lagi Mendekati Wanita

2026-01-15 | 04:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T21:18:36Z
Ruang Iklan

Pria Gen Z & Milenial Pasif Kencan: Terkuak Alasan Mereka Tak Lagi Mendekati Wanita

Fenomena pria muda dari generasi Z dan Milenial yang semakin enggan mendekati wanita duluan telah menjadi pergeseran sosial yang signifikan dalam lanskap kencan modern, memunculkan implikasi luas terhadap dinamika hubungan interpersonal dan kesehatan mental. Ketakutan akan label "maskulin toksik" atau dianggap "pengganggu" menjadi salah satu pendorong utama di balik keengganan ini, seperti yang diungkapkan Ryan Kessler, analis keamanan siber 28 tahun di Manhattan, New York, yang mewakili banyak pria di generasinya. Kessler menyatakan kehati-hatian ekstremnya agar tidak membuat wanita merasa tidak nyaman, sebuah sentimen yang mencerminkan batasan tipis antara kesopanan dan stigma negatif yang kini dihadapi pria muda.

Secara historis, norma sosial secara tradisional menempatkan pria sebagai inisiator dalam proses kencan. Namun, perubahan ekspektasi gender di era modern telah mengikis peran tersebut, menciptakan ambiguitas yang membingungkan. Pergeseran ini diperparah oleh munculnya "budaya cancel" di media sosial, di mana tindakan atau kata-kata yang salah tafsir dapat dengan cepat berujung pada kecaman publik. Ketakutan akan penolakan telah lama menjadi faktor, tetapi kini diperparah oleh potensi konsekuensi sosial yang lebih besar. Pria merasa tertekan untuk "tampil" percaya diri dan memimpin, namun di sisi lain, mereka juga dituntut untuk peka dan menghindari perilaku yang bisa dianggap ofensif. Hal ini menciptakan dilema, di mana maskulinitas yang tradisional dapat disalahartikan sebagai "maskulin toksik", mendorong pria untuk menarik diri.

Dampak teknologi, khususnya aplikasi kencan, juga turut membentuk ulang perilaku ini. Meskipun 74% Milenial dan Gen Z menggunakan aplikasi kencan, dan Milenial mendominasi penggunaannya dengan 52%, tingkat kepuasan terhadap platform ini relatif rendah. Sebanyak 90% Gen Z menyatakan frustrasi dengan aplikasi kencan. Pria di aplikasi kencan cenderung menerima lebih sedikit kecocokan (matches) dan respons dibandingkan wanita, yang dapat memicu perasaan tidak memadai dan rendah diri. Algoritma aplikasi kencan, yang terkadang lebih mengutamakan akumulasi kecocokan daripada memfasilitasi pertemuan tatap muka, dapat meningkatkan perilaku adiktif dan memperburuk kesepian, terutama pada pria. Studi menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi kencan berkorelasi dengan peningkatan depresi dan kecemasan pada pria.

Selain itu, masalah kesehatan mental di kalangan pria muda semakin menjadi sorotan. Tekanan sosial untuk mencapai kesuksesan finansial dan karier, ditambah dengan tuntutan untuk segera menikah, semakin membebani mereka. Sekitar 30% Milenial dan Gen Z mengakui bahwa situasi finansial mereka menghambat aktivitas kencan. Kebanyakan Milenial (72%) bahkan secara sadar memutuskan untuk melajang demi kebebasan dan kemandirian. Kelelahan mental dan emosional, yang diperparah oleh tuntutan hidup modern dan interaksi di media sosial, juga membuat banyak individu enggan bersosialisasi secara langsung.

Pergeseran ini mengindikasikan bahwa interaksi sosial tatap muka, yang vital untuk pengembangan keterampilan interpersonal, semakin berkurang. Ketergantungan pada komunikasi daring berpotensi melemahkan kemampuan bersosialisasi di dunia nyata, yang pada gilirannya dapat memperburuk perasaan isolasi dan kecemasan sosial. Fenomena "situationship" atau hubungan tanpa komitmen yang jelas, yang populer di kalangan Gen Z, juga mencerminkan preferensi untuk hubungan yang lebih santai dan fleksibel, menghindari tuntutan komitmen jangka panjang. Di sisi lain, hal ini juga dapat menimbulkan risiko emosional dan pergeseran nilai dalam masyarakat digital.

Implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup potensi penurunan angka pernikahan di kalangan generasi muda. Survei Populix pada Februari 2025 menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z dan Milenial di Indonesia memandang usia 25-30 tahun sebagai waktu ideal untuk menikah, dengan 54% lajang mengaku belum menemukan pasangan yang tepat dan 53% fokus pada karier. Angka pria yang belum menikah terus meningkat, mencapai 64,56% dari populasi pemuda pada tahun 2022. Paul C. Brunson, pakar wawasan hubungan global Tinder, berpendapat bahwa meskipun mayoritas Gen Z mungkin tidak memprioritaskan pernikahan, mereka akan memiliki pernikahan yang lebih sukses karena keseriusan mereka dalam membangun kesejahteraan emosional dan komunikasi yang jelas. Namun, untuk mencapai titik tersebut, diperlukan upaya untuk mengatasi hambatan sosial, psikologis, dan ekonomi yang kini menghalangi pria muda untuk mengambil langkah pertama dalam kencan.