:strip_icc()/kly-media-production/medias/5286895/original/036359000_1752773732-WhatsApp_Image_2025-07-18_at_00.35.01.jpeg)
Sejumlah ibu rumah tangga dan pecinta kuliner rumahan semakin mengadopsi metode tidak konvensional dalam mempersiapkan kudapan, terutama dalam membuat donat kukus menggunakan magic com. Tren ini menunjukkan adaptasi cerdas terhadap keterbatasan alat masak konvensional dan kebutuhan akan proses yang lebih praktis, mengubah perangkat penanak nasi multifungsi menjadi alat serbaguna untuk kreasi kuliner. Fenomena ini, yang kian populer sejak lonjakan aktivitas memasak di rumah selama pandemi, merefleksikan inovasi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari tanpa mengorbankan kualitas atau cita rasa.
Penggunaan magic com untuk mengukus donat, alih-alih metode menggoreng atau mengukus dengan dandang tradisional, menggarisbawahi efisiensi dan kemudahan akses. Prosesnya relatif sederhana: adonan donat yang telah diuleni dan mengembang diletakkan di dalam wadah kukusan magic com atau dialasi kertas roti, kemudian dimasak menggunakan fungsi "kukus" atau bahkan "masak nasi" dengan sedikit modifikasi, menghasilkan donat yang matang sempurna, lembut, dan tidak berminyak. Pendekatan ini menghilangkan kebutuhan akan minyak goreng berlebih dan oven, yang seringkali tidak tersedia di setiap rumah tangga, terutama di area perkotaan dengan hunian minimalis atau bagi mahasiswa.
Data dari laporan tren konsumsi rumah tangga menunjukkan peningkatan signifikan pada pencarian resep-resep praktis dan penggunaan alat masak multifungsi dalam tiga tahun terakhir. Sebuah survei independen yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa lebih dari 60% responden di Asia Tenggara mencari cara-cara inovatif untuk memanfaatkan peralatan dapur yang sudah ada guna menghemat biaya dan ruang. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat dan keinginan untuk mengurangi asupan makanan berminyak, menjadikan donat kukus sebagai alternatif yang lebih sehat.
Pakar kuliner dan teknologi pangan menyoroti adaptasi ini sebagai bagian dari evolusi budaya dapur modern. "Masyarakat kini lebih mencari solusi praktis yang terintegrasi dengan gaya hidup serba cepat," jelas Dr. Amara Wijaya, seorang ahli teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah diskusi panel tentang inovasi kuliner rumahan pada Oktober 2025. "Magic com, yang awalnya didesain untuk menanak nasi, telah berevolusi menjadi alat serbaguna. Kemampuan mengukusnya kini dimanfaatkan untuk beragam hidangan, dari kue hingga donat, menunjukkan bagaimana teknologi rumah tangga dapat menginspirasi kreativitas kuliner."
Lebih jauh, implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup demokratisasi akses terhadap pembuatan kudapan yang dulunya dianggap memerlukan peralatan khusus. Mahasiswa, pekerja lepas dengan anggaran terbatas, atau individu yang tinggal di apartemen kecil kini dapat menikmati donat buatan sendiri tanpa investasi besar pada peralatan dapur. Ini juga berpotensi mengurangi limbah makanan dengan mendorong penggunaan bahan-bahan segar yang diolah sendiri. Seiring dengan terus berkembangnya teknologi dapur dan meningkatnya permintaan akan solusi kuliner yang efisien, metode seperti pembuatan donat kukus dengan magic com kemungkinan akan terus berinovasi dan menemukan lebih banyak pengikut, membentuk lanskap kuliner rumahan yang lebih adaptif dan inklusif di masa depan.