:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473951/original/078461000_1768462609-janagel.png)
YOGYAKARTA – Kue Janagel, kudapan manis tradisional khas Yogyakarta, mengalami kebangkitan popularitas di tengah geliat industri kuliner rumahan, berkat resep otentik yang menawarkan perpaduan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Resep warisan yang dahulu disajikan untuk kalangan bangsawan ini kini menjadi sorotan, tidak hanya sebagai camilan keluarga, tetapi juga sebagai bagian penting dari tradisi perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Asal-usul Kue Janagel dapat ditelusuri kembali ke era kolonial Belanda, dengan nama aslinya "Jan Hagel". Nama ini, yang secara harfiah berarti "hujan es" atau "taburan" dalam bahasa Belanda, diperkirakan merujuk pada taburan gula atau kacang di atas kue. Awalnya, kue ini dikenal sebagai hidangan eksklusif bagi bangsawan. Namun, kemudahan dalam pembuatan dan ketersediaan bahan-bahan sederhana seperti tepung terigu, gula, telur, dan margarin, memungkinkan Janagel untuk meresap ke dalam kebudayaan masyarakat umum di Yogyakarta.
Transformasi Janagel dari hidangan istana menjadi camilan rumahan menandai demokratisasi kuliner, menjadikannya simbol kebersamaan keluarga. Siti Asiyah, seorang warga Sleman yang konsisten membuat Janagel menjelang Lebaran, mengungkapkan bahwa kue ini adalah hidangan wajib yang selalu dinantikan sanak saudara. "Kalau tidak ada itu, seperti ada yang kurang," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi peran Janagel dalam menciptakan dan memelihara memori kolektif serta ikatan keluarga. Amelia Hapsari, 40 tahun, juga berbagi kenangan masa kecilnya membuat Janagel bersama ibu dan adiknya setiap menjelang Lebaran, menggambarkan bagaimana proses pembuatan kue ini mempererat hubungan keluarga.
Proses pembuatan Kue Janagel membutuhkan ketelitian, terutama dalam pencampuran adonan dan pengaturan suhu penggorengan. Untuk menghasilkan tekstur yang empuk di dalam namun renyah di luar, kunci utamanya terletak pada teknik mengaduk adonan serta menjaga api saat menggoreng agar matang merata. Bentuknya yang bervariasi, sering kali menyerupai bunga atau "shuriken" dengan pinggiran yang digunting kecil, menambah daya tarik visualnya. Aroma khas dan rasa manis yang tidak berlebihan membuat Janagel cocok dipadukan dengan teh atau kopi panas, menjadikannya kudapan ideal untuk pagi atau sore hari.
Di tengah serbuan kue-kue modern dan jajanan kekinian, keberadaan Janagel sebagai kue tradisional sempat tergeser. Masyarakat seperti Amelia Hapsari mengaku kesulitan menemukan Janagel di toko-toko kue, sehingga lebih memilih membeli kue Lebaran populer lainnya seperti nastar dan kastengel. Namun, perajin rumahan di Yogyakarta menunjukkan semangat untuk melestarikan kuliner tradisional ini. Beberapa produsen Janagel mulai memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka, menawarkan varian rasa dan kemasan yang lebih menarik untuk menarik generasi baru. Upaya ini selaras dengan tren yang menunjukkan bahwa bisnis kuliner rumahan, khususnya jajanan tradisional, masih memiliki potensi menjanjikan dengan pangsa pasar yang luas. Pelaku UMKM seperti Pratama Kue di Yogyakarta, meski fokus pada kue tradisional lainnya, menunjukkan komitmen terhadap bahan baku alami dan sehat, sebuah nilai yang relevan bagi konsumen modern yang mencari opsi kuliner otentik.
Kue Janagel bukan sekadar camilan manis; ia merupakan narasi sejarah, ikatan kekeluargaan, dan ketahanan kuliner tradisional. Dengan kebangkitan minat pada makanan rumahan dan dukungan platform digital, Janagel berpotensi untuk tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang, terus menyajikan kenangan manis dari dapur rumahan Yogyakarta.