
Pusat penelitian global baru-baru ini menyoroti potensi secangkir kopi, khususnya kopi Arabika, dalam membantu mengendalikan kadar gula darah, sebuah penemuan yang dapat mengubah pendekatan terhadap penanganan diabetes tipe 2. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Beverage Plant Research ini menunjukkan bahwa senyawa dalam kopi dapat menghambat enzim pencernaan yang serupa dengan cara kerja obat diabetes acarbose, sehingga berpotensi mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.
Temuan ini muncul di tengah krisis kesehatan global dan nasional terkait diabetes. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7%, meningkat dari 10,9% pada tahun 2018. International Diabetes Federation (IDF) tahun 2021 menempatkan Indonesia sebagai negara kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia, dengan 19,5 juta penderita, yang diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2045 jika tidak ditangani serius.
Penelitian terbaru mengidentifikasi tiga senyawa dalam kopi Arabika panggang yang secara spesifik mampu menghambat alfa-glukosidase, enzim kunci dalam pemecahan karbohidrat. Dengan menghambat enzim ini, senyawa kopi memperlambat pelepasan glukosa ke aliran darah setelah makan. Mekanisme ini meniru fungsi acarbose, obat yang umum digunakan untuk diabetes. Sementara penelitian lain dari Chalmers University of Technology dan Umeå University di Swedia, melibatkan 842 orang, menemukan bahwa konsumsi kopi yang disaring dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 27 persen pada mereka yang minum setidaknya dua hingga tiga cangkir sehari. Penting untuk dicatat, studi tersebut secara spesifik mengemukakan kopi yang disaring, bukan kopi rebus, menunjukkan metode persiapan dapat memengaruhi efek kesehatan.
Di sisi lain, kafein, komponen utama kopi, memiliki efek yang lebih kompleks. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat secara akut meningkatkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 karena kemampuannya memengaruhi sensitivitas insulin. Namun, efek ini seringkali bersifat sementara dan bervariasi antar individu. Ahli jantung preventif dan direktur eksekutif Gaples Institute, Stephen Devries, MD, menyebutkan bahwa kafein adalah salah satu kontributor manfaat kesehatan kopi, sebagai antagonis reseptor adenosin. Selain kafein, kopi juga kaya akan polifenol dan asam klorogenat (CGA). CGA secara khusus telah diteliti karena perannya dalam menurunkan konsentrasi glukosa darah, menghambat glukosa-6-fosfatase di hati, dan menunda penyerapan glukosa di usus.
Penelitian oleh Frank B. Hu dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada Januari 2025, menyoroti bahwa kopi tanpa tambahan gula atau pemanis buatan dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 sebesar 10% per cangkir. Namun, efek perlindungan ini berkurang secara signifikan dengan penambahan gula atau pemanis buatan. Penambahan krim tidak memengaruhi manfaat protektif kopi, sementara penggunaan krimer kopi non-susu tampaknya mengurangi efektivitasnya.
Implikasi dari temuan ini sangat signifikan, terutama bagi jutaan penderita diabetes tipe 2 yang mencari strategi pengelolaan gula darah yang lebih beragam dan alami. Namun, para ahli menyarankan kehati-hatian. Penting untuk mengonsumsi kopi hitam tanpa gula atau krimer, dan memperhatikan respons tubuh masing-masing individu terhadap kafein. Dr. Tri Juli Edy Tarigan dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menekankan pentingnya pola makan yang baik, aktivitas fisik yang memadai, tidur cukup, dan bebas stres sebagai bagian integral dari tatalaksana diabetes. Konsumsi kopi dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat, namun tidak boleh menggantikan terapi medis yang telah diresepkan atau perubahan gaya hidup fundamental. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara penuh mekanisme jangka panjang, dosis optimal, dan variasi respons individu terhadap berbagai jenis kopi dan cara penyajiannya.